
Bab 22
"Nirma, ayolah jawab pertanyaan ku, jangan diam saja seperti ini, kami semua menunggu," ucap Geffen yang saat itu terus menekan Nirma.
"Mas, kau ini bicara apa, kenapa kau menekan ku," marah Nirma yang tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku sama sekali tidak menekan mu, tapi aku ingin semua orang yang ada di sini mendengar jawabanmu, kau mencintai Tio, kan?" sergah Geffen yang terus menekan Nirma.
"Oke baik, akan ku jawab pertanyaan mu itu, aku memang mencintai Tio, puas kau!" tegas Nirma menjawab semua pertanyaan dari Geffen.
Geffen melempar senyum setelah mendengar jawaban dari Nirma, ia merasa puas lantaran saat itu wajah Nirma terlihat memerah, rasa malu yang ia rasakan saat itu adalah kesalahannya sendiri.
Wajah mama Ana tidak terbendung lagi kemarahannya pada Nirma, ia kecewa karena Nirma justru mengakui bahwa dia lah yang telah lebih dulu berkhianat, mama Lita juga tidak percaya semua ini terjadi. Makan malam antara keluarga itu seperti hancur seketika saat Nirma mengakui bahwa ia mencintai pria lain.
"Maaf jeng Ana, sepertinya putri mu lah yang telah bersalah, dia telah menduakan Geffen hingga membuat Geffen menolak keras perjodohan ini," ucap mama Lita yang saat itu mengungkapkan rasa kecewanya.
"Jeng Lita, jangan hanya menyalahkan Nirma dong, salahkan juga putramu ini, dia juga kan yang terlah berselingkuh dengan wanita yang ada di sampingnya itu, jadi kenapa kau seolah hanya menyalahkan Nirma," protes mama Ana yang tidak terima dengan kemarahan mama Lita.
"Aku begini karena Nirma Tante, dia lah yang telah mengajariku untuk mendua, dan aku ingin dia juga merasakan bagaimana sakitnya di duakan." jelas Geffen dengan lantang.
Naira menelan saliva nya saat mendengar penjelasan dari Geffen yang terlihat sangat serius. Ia tidak menyangka jika sesakit itu hati Geffen sampai membuat dirinya melakukan pembalasan yang sama seperti yang dilakukan oleh Nirma padanya. Padahal kenyataannya Geffen sama sekali tidak berselingkuh, ia tidak menduakan Nirma seperti halnya Nirma yang selingkuh secara terang-terangan.
"Jeng, sepertinya perjodohan antara putrimu dan putraku lebih baik berakhir saja sampai di sini, aku tidak bisa menerima kebenaran jika kedua anak kita sama-sama membawa kekasih pilihan mereka," ucap mama Lita terdiam pasrah ketika melihat Geffen bersama Naira dan Nirma bersama dengan Tio.
"Kau benar Jeng, mungkin kita lah yang egois dan terlalu memaksakan kehendak sampai mereka memutuskan untuk saling mendua," seru mama Ana yang ikut merasa menyesal kala itu.
__ADS_1
"Jadi antara aku dan Nirma tidak jadi menikah, kan?" Geffen dengan cepat menyahuti pembicaraan antara mama Lita dan juga mama Ana.
Mereka saling menatap satu sama lain, dan saat itu mereka memasrahkan semuanya pada Geffen dan juga Nirma. Karena kesal dan marah, akhirnya Nirma memutuskan untuk pergi dari meja makan itu lebih dulu, ia tidak mau berlama-lama di sana mendengarkan hubungan yang akan terputus itu.
Sementara Geffen sendiri masih bertahan bersama dengan Naira, Geffen terlihat memperlakukan Naira dengan mersa, ia sengaja melakukan itu karena agar mama Ana dan papa Wisnu merasa kesal. Beberapa saat kemudian mereka pun akhirnya tidak tahan, hingga memutuskan untuk pamit lalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
Mama Lita dan papa Danu saling menatap satu sama lain, mereka melirik ke arah Geffen dan Naira yang masih mempertahankan kemesraan mereka berdua meskipun semua keluarga mama Ana sudah tiada.
Ehem... Sebuah deheman mengejutkan Naira yang saat itu menerima sikap manis dari Geffen, lalu setelah itu Geffen pun ikut menatap mama Lita yang sudah membuat mereka sadar dari kemesraan yang meraka ciptakan.
"Ingat dong, kalau di sini masih ada Mama dan Papa juga, jadi jangan jadikan kami sebagai obat nyamuk seperti ini," ucap mama Lita menatap Geffen.
"Hehehe, maafkan kami Ma, tapi kami memang sedang merasa sangat senang, keputusan untuk membatalkan perjodohan ini sangat tepat," seru Geffen yang tiba-tiba membahas hal itu.
"Apa kau senang karena kau akhirnya bisa bersatu dengan kekasih mu itu?" mama Lita menatap Geffen dengan serius.
Mama Lita dan papa Danu menatap secara bergantian, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Geffen. Namun Geffen pun menjelaskan semuanya, ia menjelaskan bahwa mereka sebenarnya memiliki niat jahat yaitu ingin menguasai kemewahan yang dimiliki oleh keluarga Geffen.
"Geffen, jangan bicara sembarangan, Mama kenal mereka itu sudah cukup lama," ucap mama Lita yang memprotes ucapan Geffen.
"Apa yang ku katakan ini adalah benar Ma, kalau Mama tidak percaya terserah, tapi itu lah kenyataan yang aku dapatkan. Nirma dan kedua orang tuanya itu tidak benar-benar tulus ingin menjadi keluarga kita," seru Geffen dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, ajak keluarga Naira untuk bertemu dengan mama dan papa, lalu kita bicarakan kapan kalian menikah." jelas mama Lita menantang Geffen.
Uhuk
__ADS_1
Uhuk
Naira tiba-tiba tersedak ketika mendengar ucapan dari mama Lita, ia tidak menyangka jika dirinya harus mendengar permintaan dari mama Lita yang mustahil akan ia turuti, hal yang tidak mungkin Naira dan Geffen lakukan. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa menjawab dulu permintaan dari mama Lita.
"Kenapa kalian hanya diam saja, apa kau sudah siap, Geffen?" tanya mama Lita yang menatap Geffen dengan sungguh-sungguh.
"E, i-itu bisa di atur, Ma. Tenang saja." jawab Geffen melempar senyum.
***
Di perjalanan menuju kontrakan, Naira hanya diam saja, entah apa yang saat itu ia rasakan. Antara marah, kesal, dan ingin berbicara pada Geffen namun ia tidak berani memulainya, mengenai permintaan mama Lita yang ternyata membuat dirinya terjebak dalam hubungan yang tak memiliki status.
"Naira, ada apa denganmu, kenapa kau terlihat sangat kesal sekali?" tanya Geffen menatap Naira sesekali sambil tetap fokus menyetir.
"Kau bertanya seolah tidak tahu apa yang terjadi Pak, kau membuat hubungan kita ini terjebak, lihat sekarang, kau lepas dari perjodohan mu, tapi masuk dalam perangkap permainan mu dengan ku, apa maksud mu, Pak!" omel Naira yang merasa sangat kesal saat itu.
"Naira, ini di luar kendaliku, aku benar-benar tidak tahu kalau orang tuaku meminta sesuatu sejauh itu, aku bahkan tidak mengira ini akan terjadi," ucap Geffen membela diri.
"Pak, lalu apa rencana kita sekarang, apa sekarang juga kita akhiri saja perjanjian kontrak kita, aku tidak mau terjebak lebih lama lagi Pak, aku tidak mau." pinta Naira memberontak.
Saat mendengar permintaan Naira yang justru akan merusak segalanya, tiba-tiba Geffen menepikan mobilnya dan berhenti di sana. Naira terkejut saat Geffen menginjak rem mendadak.
"Pak, apa kau ingin membunuh ku?" marah Naira yang saat itu sangat terkejut.
"Kau yang ingin membunuh ku secara perlahan Naira, kau mau memutuskan kontrak kita sesuka hatimu, apa kau tidak berpikir kalau semua itu akan membuat orang tuaku murka padaku," sergah Geffen marah.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kau ingin lakukan ketika orang tuamu meminta untuk dipertemukan oleh kedua orang tuaku, kau tahu kan betapa jahatnya kedua orang tua ku hingga aku harus kabur ke kota hanya untuk menyelamatkan diri." jelas Naira dengan nafas yang berderu.