
Bab 21
"Aku ingin pertemuan keluarga kita malam ini membawa pasangan kita satu sama lain, kau membawa kekasihmu, dan aku membawa kekasihku."
Pesan singkat dari Geffen terbaca oleh Nirma yang saat itu sedang online, dan saat itu ia merasa terlihat emosi ketika membaca pesan tersebut, seolah Geffen memang sangat ingin lepas dari hidupnya.
"Argh, sial! Kenapa semua ini bisa terjadi si, kenapa Geffen semudah ini bilang mau membawa kekasihnya menemui orang tua kami masing-masing, apa mungkin harapannya saat ini adalah segera lepas dari hidupku!" omel Nirma yang merasa sangat kesal.
Tidak ada pilihan lain saat itu, yang harus dilakukan oleh Nirma adalah mengikuti permintaan Geffen, dan malam ini semua sudah diatur oleh Geffen, karena ia memang ingin sekali lepas dari wanita pengkhianat seperti Nirma.
Di sebuah restoran, sudah ada kedua orang tua Nirma dan juga kedua orang tua Geffen, mereka datang lebih dulu karena saat itu Nirma dan Geffen lah yang memintanya. Nirma membawa Tio saat itu, pria yang sama seperti di foto sebagai bukti bahwa Nirma lah yang telah berkhianat, mereka berdua datang menemui meja yang sudah di pesan, saat itu mama Lita dan papa Danu sedikit tercengang melihat Nirma datang dengan pria yang ada di foto.
"Nirma, apa-apaan ini, kenapa kau membawa pria yang tidak kami kenal?" protes mama Ana yang saat itu terlihat marah.
"Ya Nirma, apa-apaan ini!" bisik papa Wisnu yang tidak menyangka kalau itu.
"Geffen yang meminta Nirma untuk membawa kekasih Ma, Pa, dan Geffen juga ke sini akan membawa kekasihnya. Lagian kalau memang tidak bisa bersama dalam sebuah pernikahan, kita masih bisa berteman, kan." jelas Nirma yang saat itu tidak ada kata-kata lain untuk menutupi rasa yang ada di hatinya.
Mama Lita dan papa Danu tidak bisa berkata apapun, mereka terdiam satu sama lain karena tidak bisa memberikan komentar apapun, Nirma yang menjelaskan bahwa itu adalah permintaan dari Geffen, putranya sendiri.
Sementara Geffen masih berada di rumah kontrakan Naira, ia menunggu Naira cukup lama karena di dalam Naira merasa sangat bingung saat itu. Ia tidak bergerak sedikit pun dari ranjang tidurnya yang sempit.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Naira, kau sedang apa di dalam, kenapa kau lama sekali?" tanya Geffen memanggil Naira.
Naira terkejut, lantas ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Geffen terkejut karena Naira masih memakai baju yang sama saat itu, hingga membuat Geffen marah padanya.
"Apa-apaan ini Naira, kita akan pergi untuk bertemu dengan kedua orang tuaku, tapi kenapa kau justru terlihat sangat santai sekali dan, kau masih memakai baju rumahan seperti ini!" omel Geffen yang saat itu sedang marah besar.
"Pak, aku bingung mau memakai baju apa, jujur aku tidak punya baju yang cocok untuk pergi bersamamu, aku tidak mungkin pergi hanya memakai baju sederhana yang kumiliki, kau pasti akan sangat malu, Pak," ucap Naira yang saat itu mengutarakan permasalahan nya.
"Astaga! Jadi ini alasan mu kenapa kau tidak keluar dari kamar sejak tadi? Naira, kau tahu kan kalau soal seperti ini bukan lah urusan yang besar, kau bisa bilang padaku kalau kau tidak punya baju yang bagus, aku bisa segera membawamu pergi untuk membelinya," omel Geffen tidak menyangka, jika Naira akan sesungkan itu.
"Aku malu Pak, aku malu karena saat aku setuju dengan kontrak kita, aku justru tidak punya modalnya, seharusnya aku tidak menyetujui semua itu, Pak." jawab Naira menundukkan kepala.
Geffen benar-benar tidak habis pikir, bahwa Naira akan sangat sepolos ini, Geffen menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, jam itu sudah menunjukkan bahwa ia dan Naira sudah telat beberapa menit. Untuk itulah Geffen tidak memiliki waktu berdebat dengan Naira, ia memutuskan untuk segera membawa Naira pergi dari rumah kontrakan nya dan masuk ke sebuah distro langganan nya.
"Pak, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Naira memprotes tingkah Geffen.
"Tidak, tidak apa-apa, kau jangan berlebihan berpikirnya. Sekarang ayo kita pergi, kita sudah telat jauh." ajak Geffen yang tidak mau membahas hal itu.
Naira mengangguk setuju, ia ikut saja ke mana Geffen akan membawanya pergi saat itu. Satu hal dipesankan oleh Geffen sebelum tiba di restoran, ia ingin Naira bersikap baik dan elegan, bahkan ia mengajari Naira untuk tidak banyak bicara di sana, hanya menunjukkan bahwa saat itu hubungan mereka sangat romantis dan menunjukkan pada orang tuanya bahwa antara Geffen dan Naira adalah dua pasangan yang saling mencintai.
Tidak ada pilihan lain untuk menolak, Naira mengangguk setuju ketika diberikan arahan oleh Geffen. Dan saat tiba di restoran tersebut, Geffen melempar senyum menyambut tangan Naira yang saat itu ada di atas tangannya, genggaman tangan Geffen yang sangat erat membuat hati Naira berbunga-bunga, entah mengapa belakangan ini Naira merasa cukup menikmati sandiwara yang terjadi saat ini.
Kedatangan Geffen dan Naira menjadi sorotan oleh kedua orang tua Geffen maupun orang tua Nirma. Tak terkecuali Nirma dan Tio pun ikut memperhatikan kedatangan mereka berdua, yang terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
__ADS_1
"Halo, selamat malam," sapa Geffen dengan ramah.
"Geffen, apa-apaan kau ini, Nirma membawa pasangan, dan kau juga membawa pasangan mu, apa kau sudah tidak waras!" mama Lita menatap kesal pada Geffen.
"Ma, duduk lah dulu, biarkan Geffen dan wanita yang ia bawa ikut duduk, jangan memperkeruh suasana," ucap papa Danu yang saat itu tidak ingin membuat keributan.
"Tapi Pa, Geffen sudah ke terlalu." jawab mama Lita yang saat itu terlihat sangat marah.
Geffen dan Naira masih menggenggam tangan satu sama lain, mereka saling menatap sebelum akhirnya Geffen mengajak Naira duduk.
Tidak ada yang bersuara saat itu, baik mama Lita maupun mama Ana. Perjodohan yang sudah mereka sepakati justru berbuah kekecewaan karena Nirma dan Geffen membawa kekasih mereka masing-masing.
"Ma, Pa, Om, Tante, boleh aku berbicara?" tanya Geffen setelah beberapa saat menikmati makan malam itu.
"Tentu saja boleh Geffen, apa yang ingin kau sampaikan," ucap mama Ana yang masih menahan diri, ia nampak berpenampilan seolah ia sedang tidak kecewa.
"Karena semua sudah berkumpul di sini, aku ingin memberikan satu pertanyaan pada Nirma, dan aku ingin kalian menjadi saksi atas jawaban yang akan aku beritakan," seru Geffen yang menatap wajah Nirma dengan serius.
"Nirma, apa kau benar-benar mencintai Tio, kekasih mu itu?" sambung Geffen memberikan pertanyaan singkat, namun cukup membuat Nirma tidak fokus ketika mendengar pertanyaan itu.
"Apa maksud mu," lirih Nirma yang merasa bingung harus menjawab apa.
"Aku ingin mendengar jawaban mu, kau mencintai Tio kan? Sampai kau selingkuh di belakang ku di saat kedua orang tua kita sedang mempersiapkan pernikahan kita." seru Geffen yang ingin sekali mendengar jawaban Nirma.
__ADS_1
Saat itu Nirma menelan saliva nya, ia merasa bahwa malam ini Geffen telah menjebak dirinya. Dan ia tidak ada pilihan lain untuk bisa menjawab yang sebenarnya ketika Geffen menekan dirinya untuk menjawab. Sementara kedua orang tua Nirma pun ikut menunggu jawaban apa yang diberikan oleh putri mereka itu.