
Bab 33
Beberapa bulan kemudian, keadaan Naira sudah berubah ketika Geffen memberikan kepercayaan penuh untuknya. Geffen dan Naira selalu menang tender, dan mereka menggunakan keuntungan itu untuk membuka cabang baru, hingga mereka memiliki beberapa cabang perusahaan. Kerja sama yang sangat erat itu kerap kali mendapatkan pujian dari berbagai kalangan hingga membuat Geffen dan Naira semakin teringat.
Kabar kebahagiaan itu didengar langsung oleh mama Kita dan papa Danu yang menyelidiki kinerja Naira dan Geffen selama ini, mereka memendam pujian ketika mereka mendapatkan informasi yang membanggakan itu.
"Benar-benar tidak habis pikir Mama Pa, ternyata Geffen dan Naira sudah memiliki beberapa cabang perusahaan yang mereka bangun dari kerja keras mereka selama ini," ucap mama Lita menatap papa Danu yang terdiam kala itu.
"Kau benar Ma, Papa juga tidak menyangka hal ini akan terjadi, mereka berdua membuktikan kalau ternyata mereka mampu mewujudkan mimpi mereka. Hal yang membuat Papa semakin tidak percaya adalah Naira, dulu dia adalah seorang office girl di kantor Geffen, tapi sekarang dia sudah terkenal sebagai sekertaris handal pemenang segala tender. Apa kita tidak bisa membuka hati untuk hubungan mereka, Ma?" tanya papa Danu yang mulai merasa yakin bahwa Naira adalah seorang wanita pekerja keras.
"Ya Pa, mungkin memang sebaiknya kita memberikan restu pada hubungan mereka. Kesalahan Geffen dan Naira sangat kecil jika dibandingkan dengan kerja keras yang mereka lewati selama beberapa tahun belakangan ini, Mama tidak melihat keseriusan para wanita yang mengenal Geffen kecuali Naira." jawab mama Lita yang kala itu sudah mulai membuka hati.
Papa Danu dan mama Lita akhirnya sepakat untuk menerima hubungan Geffen dan Naira, memberikan kesempatan agar hubungan mereka diumumkan tanpa sedikit pun mengungkit masa lalu yang telah terjadi sebelumnya. Dan mama Lita pun sepakat pada papa Danu untuk memberikan yang terbaik untuk Geffen dan Naira.
Ting....
Sebuah pesan masuk disadari oleh Geffen yang sedang duduk bersama dengan Naira, mereka baru saja kembali dari meeting di luar, dan mereka kini sedang meminum kopi bersama di ruangan Geffen.
"Nak, Mama dan Papa mengundang Naira di acara makan bersama nanti malam ya, ajak dia ya, jangan lupa datang."
__ADS_1
Pesan singkat itu dibaca berkali-kali oleh Geffen, karena ia merasa bahwa itu adalah pesan yang sangat langka dari mamanya, yang sebelumnya tidak pernah menyebut nama Naira kecuali tentang keburukannya, namun kali ini mama Lita justru menyebut Naira untuk mengundangnya di acara makan malam.
Melihat wajah Geffen yang masih tidak percaya dengan apa yang ia baca, membuat Naira tersadar dan kala itu ia menyadarkan Geffen dari lamunannya itu.
"Mas, kamu mendapatkan pesan apa, kenapa wajahmu sangat berbeda sekali?" tanya Naira penasaran.
Geffen menatap Naira yang menunggu jawaban darinya, namun saat itu Geffen hanya memberikan seulas senyum pada Naira hingga Naira merasa semakin penasaran.
"Mas, kenapa si?" tanya Naira semakin penasaran.
"Sepertinya kau sangat penasaran Naira. Dan sebaiknya kau harus membacanya sendiri, ini ponselnya," ucap Geffen menyodorkan ponsel itu pada Naira.
"Memangnya ada apa si Mas, ya ampun bikin was-was." Naira menerima ponsel tersebut lalu mulai mengalihkan pandangannya pada ponsel tersebut.
"Kau tahu ini artinya apa, Naira?" Geffen menatap Naira dengan tatapan penuh cinta.
"Apa Mas, apa ini artinya mama kamu sudah merestui hubungan mu dengan ku," Naira menatap penuh harap.
"Sedikit lagi Naira, kita akan tahu nanti kenapa mama mengajak mu makan malam bersama di rumah. Naira, jangan sampai membuat kesalahan ya, lakukan yang terbaik, kalau kamu tidak punya baju yang bagus, kita sekarang beli, ayo," ajak Geffen dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Nggak Mas, nggak usah. Kamu sudah sering banget belikan aku baju bagus, tentu saja baju itu tetap ada di lemari ku, jadi aku sudah punya banyak koleksi baju yang bagus dan mahal, tidak perlu membuang uang mu untuk membelikan aku baju lagi." jawab Naira dengan pelan, menolak ajakan Geffen.
Geffen akhirnya mengangguk, ia tidak mungkin memaksa Naira jika Naira sendiri menolak nya. Saat itu Geffen meminta Naira untuk tampil sempurna, karena itu adalah undangan pertama dan ia ingin Naira tampil maksimal, Naira sendiri sama sekali tidak keberatan, ia mengikuti permintaan Geffen saat itu.
Saat sore tiba, Geffen mengantarkan Naira pulang, dan setelah itu ia juga pamit akan pulang ke rumah, karena permintaan mama Lita Geffen harus pulang terlebih dahulu. Naira sama sekali tidak keberatan, kepergian Geffen membuat Naira justru jauh lebih baik, karena sebelumnya ia tidak berhenti memikirkan bagaimana ia harus tampil di hadapan mama Lita. Dan saat itu sendirian, Naira menjadi bisa berpikir sedikit lebih leluasa dan menuntut versi nya sendiri.
Tibanya di rumah Geffen melihat pemandangan yang lain, pemandangan antara mama Lita dan papa Aji yang seolah saat itu terlihat berbeda jauh. Papa Danu terlihat sibuk membantu mama Lita menyusun makanan yang telah dimasak oleh mama Lita ke meja makan, sementara mama Lita sendiri nampak masih fokus di dapur.
"Geffen, kau sudah pulang," sapa papa Danu ketika melihat putranya menatap aneh padanya.
"Sudah Pa. Oh ya Pa, ini sebenarnya ada acara apa si? Kenapa banyak banget menu makanan di meja?" tanya Geffen dengan hati bingung.
"Sebenarnya ini ide dari mama kamu, kamu bisa tanya langsung aja sama mama kamu," seru papa Danu yang tak ingin dirinya yang membocorkannya.
"Oh ya ampun, jadi Papa tidak mau mengatakan ini padaku? Putra Papa sendiri!" paksa Geffen yang condong ingin papanya lah yang berbicara.
"Geffen, nanti saja kau pasti akan tahu, sekarang ini lebih baik kau mandi dan bersiap-siap, karena ada acara makan malam sebentar lagi." suruh Papa Danu yang benar-benar tidak mau berbicara.
Geffen tidak bisa memaksa, kali ini papa Danu mengusirnya secara tidak langsung. Hingga membuat Geffen terpaksa harus pergi ke kamar untuk mandi, karena memang hari sudah akan berganti malam, dan Geffen tidak ingin ketinggalan di acara makan malam yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu acaranya.
__ADS_1
Namun karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Geffen memutuskan untuk masuk saja ke kamar, lalu ia bersemedi di dalam kamar mandi. Cukup lama, hingga membuat papa Danu dan mama Lita selesai menyiapkan semuanya. Dan kala itu mereka memutuskan untuk bersiap-siap sebelum akhirnya Naira datang.
Dengan menggunakan mobil taksi yang sudah ia pesan, akhirnya Naira tiba di kediaman Geffen, rumah mewah yang sangat membuat hatinya berdetak ketika memandangnya itu membuat Naira merasa tidak pantas untuk hadir di acara makan malam, entah mengapa perasaan itu tidak karuan, hingga membuat Naira maju mundur untuk memutuskan masuk atau tidak.