Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
28


__ADS_3

Bab 28


"Ayolah Naira, jangan lama-lama, nanti pak bos berubah pikiran," bisik Anya pada Naira.


"Anya, kamu apa-apaan si, kenapa sikap mu seperti ini," omel Naira yang kala itu tidak suka melihat Anya memihak pada Geffen.


"Ya gue mau lo terima pak bos, itu aja kok." jawab Anya dengan lantang, hingga Geffen mendengarnya.


Wajah Naira saat ini benar-benar merah, ia menatap Geffen yang sejak tadi rupanya sedang menatap dirinya. Tatapan itu tidak terhindarkan, Geffen kini sudah tidak bisa menahan lagi. Hingga membuat dirinya sendiri lah yang maju untuk mengungkap perasaannya dan Anya lah yang menjadi saksi.


Geffen mengatakan kembali perasaannya pada Naira dan berjanji di hadapan Anya, bahwa ia akan menjaga perasaan Naira dan juga memperbaiki nama baik Naira di perusahaan agar tidak buruk seperti ini, mendengar itu Anya tidak ada jawaban lain selain ingin sekali mendengar Naira mengatakan iya. Dan karena Anya yang terus mendukung dan meminta Naira untuk menjawab, akhirnya Naira pun mencoba untuk memberikan kesempatan.


Naira menerima cinta Geffen tepat di hadapan Anya, yang saat itu merasa sangat senang karena ternyata Naira menerima cinta Geffen.


"Selamat ya Pak, Nai, kalian akhirnya menjadi sepasang kekasih," ucap Anya dengan senyum lebarnya.


"Sama-sama Anya, saya akan memberikan kamu bonus bulan ini, karena kamu sudah mau terlibat dengan masalah pribadi saya," seru Geffen melempar senyum.


"Wah, terima kasih banyak Pak," Anya terlihat sangat senang kala itu, namun berbeda dengan Naira yang terlihat tidak setuju.


"Kalau begitu aku juga meminta kau memberikan bonus padaku, Pak! Karena beberapa bulan terakhir ini, aku sudah ikut campur dengan masalah pribadimu," sergah Naira menatap Geffen tajam.


"Jangan khawatir, kalau kau ada bonus sendiri untukku. Aku sudah memiliki aku, tentu saja selangkah lagi, kau lah yang memegang kartu hitam ku," sahut Geffen mengedipkan salah satu matanya.


"Kartu hitam, apa itu?" tanya Naira bingung.


"Kartu hitam hanya di miliki oleh orang-orang kaya Naira, dan pak Bos memiliki nya." jawab Anya dengan lantang.

__ADS_1


Naira menoleh ke arah Anya, mendengar itu entah mengapa ia merasa tidak percaya diri. Ia tidak percaya jika saat ini ia sudah benar-benar berurusan perasaan dengan orang kaya. Dan orang tersebut saat ini sedang ada di sampingnya.


Singkat cerita, Geffen kali ini ingin memberikan kesempatan Naira untuk maju, sebelum ia mengenalkan Naira yang baru pada mama Lita dan papa Danu, Geffen memiliki cara agar Naira layak untuk dipandang oleh mereka berdua.


"Anya, aku membutuhkan bantuan mu untuk menilai apakah ide yang kuberikan ini bagus atau tidak," ucap Geffen dengan sangat yakin.


"Apa Pak, saya akan berusaha memberikan jawaban yang terbaik untuk Bapak?" tanya Anya menatap serius.


"Saya ingin menjadikan Naira sebagai seseorang yang baru, tidak lagi sebagai office girl di kantor itu, melainkan sekretaris pribadiku, bagaimana menurut mu?" Geffen menatap Anya dan juga Naira ketika ia mengutarakan hal itu.


"Sekertaris, itu kedudukan yang sangat diinginkan oleh kebanyakan orang Pak, dan kalau Bapak berikan jabatan itu pada Naira, tentu saja itu ide yang sangat bagus," ucap Anya mengutarakan pendapatnya.


"Ya, saya ingin menjadikan Naira sekertaris saya, tapi satu hal yang perlu di catat. Saya hanya ingin membuat mata orang-orang yang pernah menertawakan status Naira menjadi diam dan bertepuk tangan melihat bagaimana Naira saat ini, saya ingin Naira dipandang oleh masyarakat sebagai orang yang berguna." jelas Geffen yang saat itu terlihat sangat serius.


Naira terdiam mendengar keseriusan Geffen kala itu, sementara Anya sendiri terlihat sangat senang ketika Geffen mengatakan hal itu. Geffen juga berbicara panjang lebar, ia juga mengatakan bahwa ia akan membuat Naira sibuk dengan kuliah nya, dan kembali sebagai sekertaris pribadi yang akan diajarkan oleh Geffen bagaimana caranya menjadi seorang sekretaris.


"Naira, kau tidak keberatan dengan semua yang kuinginkan ini, kan?" tanya Geffen menatap tajam ke arah Naira.


"Pak, tolong pikirkan ini dulu, apakah kau sudah memikirkan semua ini dengan baik? Aku tidak bisa menerima kebaikan mu seperti ini," ucap Naira yang merasa hina kala itu.


"Kenapa? Kenapa Naira, kau meminta ku untuk memikirkan ini, aku sudah sangat serius dalam memikirkan ini, kenapa kau terlihat gelisah?" tanya Geffen tidak mengerti.


"Iya Naira, ada apa?" Anya pun tak kalah bertanya.


"Aku tidak mau jika sampai nanti pak Geffen merasa terbebani dengan kehadiran ku, aku hanya gadis desa yang tidak memiliki bakat apapun," lirih Naira merasa tidak percaya diri.


"Naira, jangan cemaskan itu, pak bos ada di pihak lo, bahkan yang akan mengajari lo adalah orang yang sangat berpengaruh, dan gue yakin kalau lo akan berhasil. Udah santai aja, dan yakin." jelas Anya yang kala itu berusaha untuk membuat Naira yakin dengan keputusan Geffen.

__ADS_1


Geffen pun menganggukkan kepalanya ketika Anya mengatakan itu, ia sangat senang dengan penilaian Anya padanya, dan hal itu membuat dirinya semakin berbunga-bunga karena akhirnya Naira kembali menyetujui apapun keputusan dari Geffen.


***


Beberapa hari terakhir, Geffen selalu datang ke kontrakan Naira untuk memberikan Naira pelajaran-pelajaran yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, terkadang saat merasa bosan Geffen memilih untuk mengajak Naira pergi ke luar mencari suasana baru, Naira saat ini di sibukkan dengan kegiatan baru yang sempat membuatnya sangat pusing.


Di sebuah cafe Naira nampak pusing, karena sejak tadi ia dihadapkan dengan wejangan pelajaran yang membuat matanya berkunang-kunang.


"Pak, apakah menjadi sekertaris mu akan sesulit ini?" tanya Naira memprotes pekerjaan nya.


"Memangnya kenapa Naira? Apa kau merasa keberatan," lirih Geffen sambil menyeruput minuman yang ada di meja.


"Aku merasa pusing dan mataku perih melihat pelajaran ini, apa masih banyak lagi berkas yang harus aku pelajari?" Naira kembali bertanya.


"Tentu saja masih banyak, dan kau harus bisa hafal di luar kepala ya, karena sebentar lagi waktu mu akan terbagi dengan kesibukan kuliah. Naira, kau akan menjadi wanita cerdas, salah satu wanita yang memiliki bakat, jadi kau harus semangat." jelas Geffen yang saat itu memberikan Naira semangat.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Naira terharu, ia tidak menyangka jika saat ini ia sudah menemukan seorang pria yang begitu sangat baik, dan Naira pun merasa malu jika sampai keluhannya membuat Geffen kecewa kerena selama ini ia terlihat sangat bersemangat.


Naira pun mulai membangun semangat kembali ketika sudah menghabiskan segelas kopi nya, ia mulai fokus dengan pelajaran yang diberikan oleh Geffen, dan Geffen sendiri terlihat bertambah semangat ketika melihat Naira yang saat itu mulai fokus dengan pelajaran yang telah diberikannya.


Sampai sore tiba, akhirnya pelajaran hari ini selesai, Naira merasa sangat lega setelah melibat Geffen membereskan semua berkas yang telah dipelajari oleh Naira.


"Naira, untuk sukses memang butuh rasa lelah, kerja keras dan usaha, dan percaya lah, usaha mu ini tidak akan mengkhianati hasilnya," ucap Geffen memberikan semangat pada Naira.


"Terima kasih banyak Pak, aku akan berusaha untuk belajar lebih keras lagi," seru Naira dengan semangat.


"Apa, kau panggil aku apa?"

__ADS_1


Geffen tiba-tiba meradang ketika Naira memanggil dirinya dengan sebutan Pak.


__ADS_2