Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
29


__ADS_3

Bab 29


"Yang benar saja kau Naira, kau memanggil ku dengan sebutan Pak, lalu apa kabar dengan hubungan kita ini?" tanya Geffen dengan melotot tajam.


"Kau tersinggung ya, Pak? Ups, maafkan aku, lalu aku harus memanggil mu dengan sebutan apa," ucap Naira mengulangi penyebutan yang tidak disukai oleh Geffen.


"Astaga Naira, kau ini pura-pura polos, atau memang kau gadis yang sangat polos, seorang kekasih memanggil kekasihnya saja kau harus bertanya padaku," omel Geffen kesal.


"Apakah maksud mu aku harus memanggil mu dengan sebutan sayang?" Naira menatap penuh tanya.


"Tidak juga Naira, kau cukup memanggil ku dengan sebutan Mas." jawab Geffen sedikit kesal.


Naira mengangguk pelan, panggilan yang cukup sederhana itu tidak membuat Naira keberatan, ia menerima permintaan Geffen lalu mulai membiasakan diri untuk memanggil Geffen dengan sebutan yang ia inginkan. Saat itu Naira terlihat berusaha membiasakan diri dalam penerimaan atas hubungan yang baru saja ia jalani bersama dengan Geffen. Dan Geffen sendiri sedang belajar untuk mensejajarkan Naira dengan dirinya.


Setelah melakukan serangkaian perdebatan, akhirnya Geffen memutuskan untuk mengantar Naira pulang, dan dengan senang hati Naira menerima ajakan Geffen karena saat itu ia sudah merasa cukup lelah.


Karena merasa terlalu lelah, di dalam mobil yang cukup empuk dan nyaman, Naira kini sudah terpejam, sementara Geffen sendiri tidak sadar jika sejak tadi Naira sudah tertidur di sampingnya. Dan saat mobil itu terhenti, Geffen mengajak Naira untuk keluar, namun saat ia menoleh ke arah Naira karena tidak mendapatkan respon darinya, membuat Geffen akhirnya tersadar bahwa ternyata kekasihnya itu sedang tertidur.


"Ya ampun, dia rupanya tidur, sejak kapan dia tidur di sini, apakah selelah itu dia, sampai tertidur di tempat seperti ini?"

__ADS_1


Geffen bergeming ketika melihat Naira yang sepertinya sangat lelah, dan ia merasa kasihan jika harus membangunkan Naira saat itu, hingga Geffen akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai Naira terbangun dari tidurnya.


15 menit kemudian.


Naira terbangun ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya, dan saat ia membuat mata, ia terkejut karena Geffen ada di hadapannya.


"Astaga, Bapak apa-apaan si!" marah Naira spontan menyingkirkan tubuhnya.


Geffen melotot untuk yang ke sekian kalinya ketika Naira memanggil nya dengan sebutan pak lagi, dan Naira tersadar apa yang membuat Geffen marah kala itu, hingga membuat Geffen seketika menyingkirkan tubuhnya dan bersandar di kursi bagian pengemudi.


"M-maksud ku, Mas. Mas, kamu kenapa ada di hadapan ku seperti tadi, mau apa coba?" tanya Naira cetus.


"Aku hanya ingin membangunkan mu, aku sudah menunggu di sini 15 menit yang lalu, dan aku lelah. Aku juga ingin istirahat," celetuk Geffen kesal.


"Untuk menunggumu selama ini aku tidak masalah Naira, tapi untuk mendengar kau memanggil ku dengan sebutan itu lagi, sungguh, aku sangat keberatan sekali." tegas Geffen menatap nanar.


Naira merasa tidak enak hati, ia terdiam seketika itu juga, dan ia mengucap janji pada Geffen, bahwa ia tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Dan karena Naira sudah mengucapkan janji, akhirnya Geffen pun mempercayai dan memberikannya kesempatan lagi, hingga akhirnya Geffen turun dan membukakan pintu untuk Naira.


"Turun lah, dan lanjutkan tidur mu, karena besok kita akan lanjut bekerja," ucap Geffen yang masih bersemangat dalam menggembleng Naira.

__ADS_1


"Pak, apa tidak ada hari tanpa belajar dan bekerja?" tanya Naira memasang wajah melas.


"Tidak ada, untuk sukses memang harus bekerja keras Naira, dan inilah yang akan aku tanamkan untuk mu." jelas Geffen tidak memberikan toleransi pada Naira.


Naira memasang wajah melas. Apapun itu ia tidak bisa menolak karena ia sendiri juga sudah bersedia menerima Geffen sebagai kekasihnya. Naira keluar dari mobil tersebut dan masuk ke kontrakan tanpa berbasa-basi pada Geffen saat itu, Geffen menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Naira yang begitu sangat polos, namun ia justru menyukai sikap tersebut daripada wanita pada umumnya yang ia temui. Saat Naira sudah menutup pintu, Geffen masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.


Tibanya di rumah, mama Lita sudah menunggu kedatangan Geffen yang akhir-akhir ini sangat sibuk sekali dengan dunia luarnya, sejak kejadian itu Geffen menjadi orang berbeda di rumah, ia lebih banyak mengurung dirinya di kamar meksipun ada mama Lita dan papa Danu di rumah.


"Anak itu kenapa si, apa tidak melihat kalau di sini ada mamanya, sampai dia tanpa basa-basi langsung masuk saja ke kamar seperti itu, benar-benar tidak bisa dibiarkan!" omel mama Lita yang merasa sedikit kesal.


Mama Lita mengikuti Geffen yang baru saja tiba di kamarnya, dan saat Geffen melepaskan kemejanya, ia tersadar bahwa pintu kamarnya sudah terbuka kembali dan di sana ada mama Lita yang sedang berpangku tangan menatap dirinya. Geffen pun menoleh ke arah mama Lita dan mama Lita sendiri berjalan mendekati putranya. Mereka nampak saling menetap satu sama lain, hingga akhirnya mama Lita bersuara saat itu.


"Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, kenapa kau lebih suka berada di dalam kamar sementara di luar kau membiarkan mama dan papa mu dalam keadaan penuh tanya?" mama Lita menatap serius ke arah Geffen.


"Aku hanya lelah Ma, memikirkan pekerjaan di kantor," singkat Geffen berbicara.


"Oh ya, apa sesibuk itu kau Geffen, sampai kau melupakan bahwa di rumah kau masih memilih mama dan papa?" omel mama Lita menatap kecewa.


"Ma, sudah tolong jangan berlebihan seperti ini, aku sibuk dan aku tidak mau berdebat." jelas Geffen dengan nada sinis.

__ADS_1


Mama Lita terdiam, sikap Geffen sungguh sangat jauh sekali dari yang biasanya ia kenal, apakah semua itu karena sikapnya yang berlebihan dalam menghina Naira? Hal itu menjadi PR tersendiri di mata mama Lita yang saat itu memutuskan untuk meninggalkan kamar Geffen.


Geffen membiarkan mama Lita pergi begitu saja, dan ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Dengan tatapan ke arah langit-langit kamarnya, saat itu yang ada di dalam pikiran Geffen hanya satu hal saja. Hal yang akan membuat mata mama Lita dan papa Danu menjadi terbuka, bahwa Naira adalah seorang gadis yang sangat baik, dan jika semua itu belum terjadi, maka Geffen tidak akan berhenti berusaha. Ia bertekad akan membuat sebuah kejutan yang akan membuat mama Lita diam dan mengerti, bahwa ia dan Naira layak untuk bersama, meskipun pada hakikatnya perbedaan mereka akan terlihat sangat nyata


__ADS_2