Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
31


__ADS_3

Bab 31


Kabar kedatangan Naira sebagai anggota baru di kantor itu sampai di telinga mama Lita dan papa Danu yang sedang duduk santai di rumah, mereka tidak menyangka jika ternyata selama ini Geffen masih berhubungan dengan Naira, bahkan selama tiga tahu silam kini ia datang membawa kabar yang sangat mengejutkan, yaitu membawa Naira kembali ke kantor dengan posisi yang jauh berbeda daripada yang dulu.


"Geffen ini apa-apaan si, kenapa dia menjadikan Naira sebagai sekretaris pribadinya coba? Memangnya apa yang bisa gadis itu lakukan di kantor," ucap mama Lita yang mengomel kala itu.


"Papa juga tidak habis pikir pada jalan putra kita Ma, apa si hebatnya gadis itu, apa tidak ada lagi gadis di kota yang membuat dia jatuh cinta, sampai dia melakukan hal memalukan ini," omel papa Danu yang masih terlihat tidak setuju.


"Kita harus ke sana Pa, kita harus temui Geffen sekarang juga, Mama nggak sabar mau tunggu dia pulang nanti!" sergah mama Lita yang saat itu memutuskan untuk mendatangi Geffen di kantor.


Papa Danu tidak bisa melarang kala itu, ia memutuskan untuk pasrah dan ikut ke mana mama Lita akan pergi, tibanya di kantor, para karyawan yang menyadari kedatangan mama Lita dan papa Danu itu saling berbisik tanya, ada apakah gerangan yang terjadi hingga mengundang mereka datang ke kantor, tidak biasanya mereka melakukan hal tersebut sebelumnya.


Saat tiba di depan ruangan Geffen, mama Lita tanpa berbasa-basi mengetuk pintu, ia langsung menerabas masuk karena ia ingin sekali bertemu dengan putranya itu, menyadari bahwa ia kedatangan kedua orang tuanya membuat Geffen mengalihkan pekerjaannya untuk menyambut kedatangan mereka.


"Ma, Pa, tumben kok datang ke kantor?" tanya Geffen setelah duduk bersama dengan kedua orang tuanya.


"Karena kabar yang langsung sampai di telinga Mama dan papa, makanya kami berdua ke sini," celetuk mama Lita menatap Geffen.

__ADS_1


"Kabar, kabar apa Ma?" tanya Geffen tidak mengerti.


"Kabar yang amat sangat buruk bagi Mama yang mendengarnya Geffen, kamu membawa gadis yang sudah membuat malu dan menghebohkan kantor ini tiga tahun lalu, dan sekarang informasi yang Mama dengar justru lebih menghebohkan lagi karena kamu mengangkat derajatnya sebagai sekretaris pribadi kamu. Wah, hebat sekali," ucap mama Lita memasang wajah kecewa.


"Ma, jangan fokus melihat keburukan yang ku buat bersama dengan Naira dulu, tapi lihat lah bahwa sekarang Naira jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Selama kejadian itu Naira memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus kuliah, lalu sekarang ini dia sudah lulus dan aku tidak keberatan untuk menjadikannya sebagai sekertaris jika dia berbakat di bidang itu," seru Geffen membela Naira.


"Apapun perjuangan nya, dia tetap bukan dari keturunan baik-baik Geffen, dan dia tetap lah gadis miskin yang tidak punya apa-apa!" sergah mama Lita penuh hina.


"Ma, cukup! Jangan hina Naira lagi dengan terus merendahkan dia di hadapan ku, aku yang selama ini menemani proses yang telah dilalui oleh Naira, dan aku yang melihat bagaimana kerja keras yang Naira lakukan hanya demi untuk bisa maju selangkah dari seorang gadis biasa menjadi calon wanita karir. Tolong jangan hina dia karena aku akan merasa terhina juga karena aku yang menemani prosesnya." jelas Geffen marah.


Mama Lita dan papa Danu saling menatap satu sama lain saat itu, ketika mendengar penjelasan dari Geffen yang saat itu terlihat marah dan tersinggung. Namun tak memungkin bagi mama Lita diam, ia terus saja mencari celah kesalahan dari Naira hingga membuat kesabaran Geffen benar-benar seperti sedang di uji.


"Tidak ada hubungannya dengan kamu Geffen, ini kantor kamu dan kamu pemiliknya, Mama hanya menyebut Naira si gadis kampung itu, sama sekali tidak menyebut kamu," ucap mama Lita.


"Ma, Pa, asal kalian tahu, banyak sekali alasanku untuk menerima Naira dan memberikannya semangat juga kesempatan untuk menunjukkan bakatnya, salah satunya karena aku mencintai dia, jadi tolong jangan bersikap seperti ini padanya." jelas Geffen dengan suara lantang.


Mendengar penjelasan dari Geffen spontan membuat mama Lita terbelalak, ia tidak menyangka jika apa yang ia takutkan itu rupanya menjadi kenyataan, putranya jatuh cinta pada gadis desa yang membuat mama Lita dan papa Danu benar-benar tidak menyangka.

__ADS_1


"Jadi ini alasan kamu terus membela gadis itu, karena kamu cinta sama dia?" ulang mama Lita menatap serius.


"Ya, bahkan aku berniat untuk mengumumkan pada seluruh dunia kalau aku mencintai Naira, jadi kalau Mama ingin aku tetap ada di sini, tolong dukung aku untuk tetep bekerja di sini, tapi kalau Mama tidak mau aku ada di sini, tidak masalah. Silahkan Mama hina aku dan perlakukan Naira dengan sesuka hati Mama, karena bisa jadi saat aku tidak tahan nanti, aku lah uang akan membawa Naira pergi jauh dari sini," sergah Geffen dengan sangat yakin.


"Kamu mengancam Mama, Geffen!" marah mama Lita melotot tajam.


"Terserah Mama saja, yang jelas aku juga bisa mengambil tindakan dari semua sikap Mama dan Papa, sekarang aku sedang bekerja, jadi tolong Mama dan Papa keluar, karena jika Mama dan Papa tetap ada di sini, aku justru akan semakin tidak konsentrasi." usir Geffen dengan tegas.


Geffen bangkit dari tempat duduknya lalu kembali lagi ke kursi kerjanya. Sementara mama Lita dan papa Danu saat itu saling pandang satu sama lain, mengingat semua ucapan Geffen yang penuh ancaman itu tentu saja membuat mereka tidak tenang.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan Geffen, sementara Geffen sendiri hanya menatap kepergian meraka tanpa beranjak dari tempat duduk nya, Geffen menelan saliva nya tidak menyangka jika ternyata akan sama sulitnya dalam membuka hati kedua orang tuanya untuk berpikir baik pada Naira.


Saat tiba jam makan siang, Naira datang ke ruangan Geffen untuk mengajaknya makan siang bersama. Geffen tidak menolak, bahkan ia mengikuti ajakan Naira yang saat itu terlihat sangat semangat. Naira tidak tahu apa yang telah terjadi saat itu, sebab itu lah ia penuh tanya ketika melihat wajah Geffen begitu sangat murung.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Naira menegur Geffen.


"Kenapa, kenapa apanya Naira, aku tidak apa-apa kok," ucap Geffen menutupi.

__ADS_1


"Mas, aku kenal kamu udah lama lo, masa iya aku nggak kenal bagaimana ekspresi wajah kamu saat ada masalah atau tidak, kamu kenapa si?" Naira sedikit memaksa karena ia ingin tahu kebenarannya.


"Ya, kamu benar. Aku memang lagi ada masalah, dan masalah nya ada di kedua orang tuaku," lirih Geffen akhirnya terbuka.


__ADS_2