Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
19


__ADS_3

Bab 19


"Ayo angkat, mungkin dia sedang mencemaskan lo," ucap Anya meminta Naira untuk segera mengangkat telpon itu.


Naira mengangguk pelan lalu segera memencet tombol hijau, sambungan telepon antara Naira dan Geffen pun terhubung, di balik telpon itu Geffen meminta Naira untuk segera datang ke ruangannya. Dan saat itu Naira merasa panik antara harus datang atau tidak karena ia takut jika ia akan bertemu dengan Nirma. Namun Geffen tidak hanya meminta Naira yang datang sendirian, ia juga meminta Anya untuk menghadap dirinya.


Setelah tidak ada yang perlu di katakan, Geffen pun menutup telpon dengan segera, hingga menimbulkan tanya di pikiran Anya maupun Naira. Tak mau berpikir yang tidak-tidak akhirnya Anya bangkit dan mengajak Naira untuk segera menghadap pak bos.


Mereka berdua masuk ke ruangan tersebut dan menghadap Geffen yang sedang bermain manja di kursi goyangnya, sambil sesekali memejamkan kedua matanya,


"Pak, kami datang," ucap Naira yang saat itu menyapa Geffen.


"Ya, aku tahu. Duduk lah kalian," ucap Geffen yang langsung membuka kedua matanya.


"Pak, sebenarnya ini ada apa, kenapa Bapak memanggilku dan Anya ke sini?" tanya Naira yang tidak mau berbasa-basi.


"Bapak tahu tidak, kalau tadi aku hampir saja ketahuan oleh mbak Nirma itu, kalau sampai dia tahu siapa aku, reputasi Bapak akan hancur," sambung Naira yang melanjutkan ucapannya.


"Apa maksud mu, Naira?" tanya Geffen menatap Naira.


"Pak, Bapak lupa ya, kalau Bapak itu memperkenalkan saya dengan mbak Nirma sebagai kekasih, kalau dia tahu aku yang sebenarnya bahwa aku ada OG di kantor Bapak, bisa hancur rencana kita Pak," seru Naira yang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Tapi itu tidak terjadi kan Naira? Jangan sampai itu terjadi ya!" tegas Geffen menatap Naira.

__ADS_1


Saat itu Naira mengatakan bahwa semua baik-baik saja, dan tidak menjamin bahwa lain kali hal itu akan selamat, Naira menjelaskan bagaimana orang-orang di luar memberikan tanggapan atas hubungan kerja sama antara dirinya dengan Geffen. Dan hal itu di dengar baik-baik oleh Geffen yang tidak tahu situasi di luar sana.


"Anya, apakah separah itu?" tanya Geffen menatap Anya.


"Sebenarnya ini sudah terjadi beberapa hari terakhir ini Pak, desas desus kedekatan Bapak dan Naira sudah menjadi buah bibir para karyawan yang julid, saya sendiri tidak tahu kalau ternyata hari ini Naira mengalami bully dan hinaan dari mereka," ucap Anya membenarkan.


"Hinaan, apa maksud mu?" tanya Geffen tidak mengerti.


"Ya, mereka mengatai bahwa Naira tidak pantas dekat dengan Bapak, karena dia hanya sebatas office girl di kantor ini. Pak, kenapa kerja sama itu tidak diresmikan saja," usul Anya saat itu.


"Resmikan, apa maksud mu?" Geffen menatap bingung.


"Bapak naikkan jabatan Naira sebagai sekretaris Bapak, dan resmikan hubungan pura-pura Bapak dengan Nirma sebagai sepasang kekasih sungguhan." jelas Anya melempar senyum.


"Pak, kasih jawaban tidak pada Anya, jangan sampai diam nya Bapak akan membuat Anya berpikir kalau Bapak setuju dengan usulan yang dia berikan," ucap Naira menatap Geffen.


"Oh, apakah itu harus ya? Baik lah, Anya.... Aku dan Naira hanya sebatas rekan kerja atas masalah ini, jadi kau tidak perlu berpikir sejauh itu. Kalau memang perlu saya naikkan jabatan Naira, akan saya naikkan tanpa ada embel-embel dari siapapun, kalau tiba-tiba saya mengangkat Naira menjadi sekertaris saya, apa hal itu justru tidak akan menambah kebencian orang-orang pada Naira?" jelas Geffen menatap Anya dengan serius.


"Ya juga si, Bapak benar. Tapi kalau pun Bapak mau melakukan itu, saya adalah office girl pertama yang akan mendukung hubungan Bapak dengan Naira, oke Pak." jawab Anya melempar senyum sumringah.


Naira lagi-lagi harus menelan ludah ketika Anya berbicara sedikit berlebihan pada Geffen, hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa selain pasrah ketika itu, dan setelah semua obrolan selesai di bicarakan. Naira dan Anya pun pamit keluar dari ruangan tersebut dan berprilaku layaknya atasan dan bawahan.


***

__ADS_1


Nirma sedikit berlari menuju kediaman mama Lita, ia ingi memberitahukan sesuatu padanya atas kabar besar yang ia dapatkan ketika mengunjungi kantor Geffen. Meskipun Geffen sudah tahu bahwa saat itu Nirma lah yang telah berkhianat, namun ia tidak ingin jika yang di anggap buruk itu adalah dirinya sendiri, Nirma akan menghasut mama Lita untuk menghukum Geffen karena telah dikabarkan memiliki hubungan office girl di kantor nya.


Beruntung saja, saat itu mama Lita ada di rumah, dan kedatangannya tentu saja disambut baik oleh mama Lita yang masih berharap bahwa Nirma lah yang akan menjadi menantu di rumahnya.


"Nirma, ada apa kamu datang ke sini, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting?" tanya mama Lita penasaran.


"Ya Tante, memang ini kabar yang sangat penting sekali. Tante harus tahu kalau ternyata selama ini pacar Geffen adalah seorang office girl di kantor Tante. Tante, selama ini aku diam saat Geffen menuduh ku berselingkuh, dan aku diam saat dia membawa wanita lain pulang dan memperkenalkan wanita itu sama Tante, tapi satu hal yang membuat ku tidak percaya Tante, ternyata Geffen juga bermain api sama office girl di kantor," ucap Nirma berpura-pura memasang wajah dedih.


"Apa! Office girl, astaga Geffen, apa-apaan ini. Kalau kamu sedang stress jangan seperti ini dong, gila kamu ya!" omel mama Lita yang saat itu tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Tante, tolong percepat saja pernikahan antara aku dan Geffen, aku nggak rela kalau Geffen sampai menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus, sakit sekali hati Nirma Tante." pinta Nirma dengan memasang wajah sangat sedih.


Mama Lita tidak tega ketika melihat wajah cantik Nirma dibanjiri dengan air mata. Dan ia berjanji bahwa ia sendiri lah yang akan meminta Geffen untuk setuju dengan perjanjian perjodohan antara dia dengan Nirma.


Sementara di tempat lain, Geffen sudah di rumah kedua orang tua Nirma, saat itu Geffen juga tahu apa yang harus dia lakukan ketika hubungan antara dirinya dengan Nirma sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Saat itu kedatangan Geffen mendadak membuat kedua orang tua Nirma menjadi penasaran, apa lagi mereka sudah mengatakan bahwa Nirma sedang tidak ada di rumah.


"Geffen sebenarnya ada apa kamu datang ke sini, kamu Mau bertemu dengan kami atau dengan Nirma?" tanya mama Ana menatap Geffen.


"Geffen datang ke sini untuk bertemu dengan tante dan om tentunya, kali ini Geffen datang bukan untuk Niram," ucap Geffen melempar senyum.


"Memangnya ada apa Nak Geffen?" tanya papa Wibowo penasaran.


Karena tidak mau jika terlalu lama berada di tempat itu, akhirnya Geffen dengan cepat memberitahukan bukti foto perselingkuhan antara Nirma dengan pria lain, mereka nampak syok ketika melihat bukti-bukti yang nyata di layar ponsel Geffen.

__ADS_1


__ADS_2