Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
30


__ADS_3

Bab 30


3 Tahun Kemudian


Seorang gadis desa bernama Naira Putri sedang bersiap-siap karena ia akan menghadiri acara wisuda di kampusnya, hari ini adalah hari kelulusannya setelah 3 tahun berjuang dan belajar, semua itu tidak lepas dari bimbingan dari Geffen yang tidak lelah mendampingi dirinya dalam tugas kuliah yang ada.


"Anya, bantuin aku dong," pinta Naira yang terlihat sangat sibuk sekali pagi ini.


"Gue harus bantuin lo apa Naira, lo udah keliatan cantik banget tahu nggak pakai seragam hitam ini," seru Anya yang merasa bangga.


"Bantuin aku, biar aku nggak deg-degan terus, aku nggak bisa ngatur nafas aku Anya. Aku beneran deg-degan," seru Naira menatap Anya.


"Astaga, ya ampun Naira, lo itu benar-benar polos ya, lo itu udah tinggal lama di kota, lo nggak bisa apa sedikit gaul gitu," omel Anya yang saat itu sedang memasangkan topi wisuda untuk Naira.


"Anya, rasa ini datang sendiri, aku nggak minta dia untuk datang, aku juga terganggu tahu nggak." omel Naira, wajahnya merah kala itu.


Perasaan antara senang, sedih menjadi satu, hingga ia tidak bisa mengungkapkan bagaimana ia bersikap. Saat Naira berada di antara ketegangan dan kecemasan, saat itu juga Geffen datang menemui Naira, Anya telah mengirimkan pesan pada Geffen bahwa hari ini adalah hari Naira wisuda, untuk itulah Geffen datang menemui Naira.


"Mas, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Naira yang menyadari kehadiran Geffen.


"Sudah lumayan, cukup tahu kalau saat ini kamu sedang berada di situasi tegang," ucap Geffen melempar senyum, ia mendekati Naira dan tersenyum padanya.


"Naira, jangan takut, hari ini adalah hari yang dinantikan oleh setiap siswa dan siswi, dan kamu adalah salah satu siswi yang berhasil merayakan kemenangan ini, kamu seharusnya sangat senang." sambung Geffen menatap wajah Naira yang memerah.

__ADS_1


Anya dan Geffen terus memberikan semangat pada Naira, hingga akhirnya Naira pun terlihat berbeda sekarang ini, wajahnya menunjukkan bahwa ia menikmati hari ini dan sudah tidak sabar ingin pergi berkumpul bersama teman-temannya yang lain.


Setelah melihat semangat Naira yang membara, akhirnya Geffen dan Anya pun memutuskan untuk mengajaknya pergi saat itu juga. Dan saat tiba di gedung, sudah banyak sekali yang datang, ada sebagian yang datang bersama dengan keluarga, sanak saudara, dan orang tua. Sementara Naira sendiri datang bersama dengan Anya juga kekasih hatinya, ada sedikit yang berbeda, saat Naira melihat ada sebagian orang mengambil foto bersama kedua orang tua mereka, Naira terdiam kala itu lantaran yang ada di samping Naira saat ini bukan lah kedua orang tuanya. Selama tinggal di kota Naira sama sekali tidak pernah lagi mendengar kabar tentang kedua orang tuanya. Lama Naira terdiam kala itu, hingga membuat Anya dan Geffen bertanya-tanya.


"Nai, lo kenapa?" tanya Anya menyadarkan Naira.


"Aku melihat mereka sangat bahagia sekali mengambil gambar bersama kedua orang tua mereka, hal itu mengingatkan aku dengan kedua orang tuaku, aku sama sekali tidak tahu kabar mereka," lirih Naira dengan tatapan berkaca-kaca.


"Naira, kalau pun tidak ada orang tuamu di sini, aku rasa kedatangan ku dan juga Anya sudah cukup untukmu bukan? Karena yang selama ini menemani perjalanan hidup mu adalah aku dan Anya," kata Geffen mencoba untuk mengalihkan perhatian Naira.


"Apa yang dikatakan oleh Geffen benar Naira, lo harusnya beruntung karena sekarang lo ada di posisi ini, lo nggak perlu mikirin sesuatu yang nggak bisa lo raih, sebentar lagi lo menuju sukses Nai, dan lo akan menjadi sekertaris pak bos, atau bisa jadi lo akan menjadi nyonya Geffen." lantang Anya mengatakan hal demikian.


Geffen tersenyum ketika mendengar ucapan Anya, ia sama sekali tidak tersinggung ataupun marah, ia sangat senang karena tiga tahun ini dialah yang telah menemani proses perjalanan Naira hingga sampai di titik ini. Naira sendiri terlihat tersipu malu ketika Anya mengatakan hal demikian, ia menatap Geffen yang saat itu juga sedang menatap dirinya.


***


Kedatangan Naira bersama dengan Geffen menjadi sorotan oleh orang-orang yang melihatnya, meskipun sudah tidak pernah bertemu namun mereka masih mengenali Naira sebagai kekasih pura-pura Geffen dulu.


Pandangan mereka penuh tanya, saat Geffen dengan bangga menggandeng tangan Naira, sementara Naira sendiri merasa malu kala Geffen menggandengnya.


"Mas, tolong jangan gandeng saya seperti ini, saya malu," bisik Naira.


"Kenapa harus malu? Kau bukan pencuri kan," seru Geffen.

__ADS_1


"Ya Mas, tapi aku malu dengan tatapan mereka pada ku." jawab Naira lirih.


Geffen terhenti kala itu, dan Naira pun ikut terhenti ketika Geffen justru menghentikan langkahnya di depan banyak karyawan yang memperhatikan mereka berdua. Saat itu para karyawan tersebut terlihat kebingungan, karena Geffen tiba-tiba berhenti di hadapan mereka yang sedang memperhatikannya.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Geffen.


Mereka tidak ada satu pun yang menjawab, karena yang ada di pikiran mereka hanya ada rasa takut.


"Kenapa kalian tidak menjawab, apa kalian ingin mengatakan sesuatu ketika saya membawa wanita yang tidak asing bagi kalian ini. Oh, kalau begitu seperti ini saja, karena kalian sudah melihat kebersamaan saya dengan Naira, saya akan memperkenalkan bahwa jika dulu Naira adalah pacar pura-pura saya, maka sekarang Naira adalah kekasih sungguhan saya." jelas Geffen dengan lantang.


Tentu saja kabar yang sangat mengejutkan itu membuat para karyawan yang mendengarnya menjadi tercengang, mereka tidak menyangka jika ternyata hubungan antara Geffen dan Naira akan berlanjut.


"Kalian harus tahu satu hal, kalau mulai hari ini, Naira akan menjadi sekertaris pribadi saya di kantor, jadi tolong kalian hormati dia seperti kalian hormat padaku, apa kalian sudah paham?" tanya Geffen menatap mereka dengan serius.


"Paham Pak___."


Mereka bersama-sama menjawab ketika Geffen memberikan pertanyaan mereka. Dan Geffen merasa sangat puas kala itu, lalu setelah perkenalan itu berakhir. Geffen menggandeng kembali tangan Naira pergi dari mereka dan membawa Naira ke sebuah ruangan yang akan menjadi ruangan pribadinya.


Naira tercengang, lagi-lagi ia tidak menyangka dengan semua yang ia terima dari Geffen, Naira begitu baik padanya hingga membuat Naira tidak bisa berkata apa-apa kala itu.


"Mas, apa kamu nggak salah kalau mau menempatkan aku di posisi ini?" tanya Naira menatap Geffen.


"Tentu saja tidak, aku menunggu saat-saat ini Naira. Saat di mana aku bangga memperkenalkan dirimu di depan banyak orang dengan status yang berbeda, semua ini bukan karena kebaikan ku, tapi karena kerja kerasmu," ucap Geffen membalas tatapan Naira.

__ADS_1


"Tapi aku masih merasa tidak pantas menerima semua ini Mas, aku masih tidak menyangka." jawab Naira melempar senyum tipis.


Posisi Naira saat ini sungguh membuat orang-orang iri, kerja keras dan usahanya yang mengantarkan dirinya di posisi sekarang ini, apa yang dikatakan oleh Geffen adalah benar, Geffen hanya menemani prosesnya saja.


__ADS_2