
Bab 13
"Apa Naira, kenapa lo manggut-manggut gitu?" tanya Anya tidak mengerti.
"Ya, aku memang lagi suka sama seseorang di kantor, jadi aku mau ketemuan sama dia nanti malam," ucap Naira akhirnya mengakui.
"Buset, lo parah banget ya Nai, gue kerja udah hampir satu tahun loh di sana, tapi belum ada tuh satu orang pun yang terpincut sama gue, Naira!" sambung Anya yang menatap tajam ke arah Naira.
"Hehe, ya gimana, aku udah dewasa kan, dan udah wajar merasakan hal itu." jawab Naira melempar senyum kepalsuan.
Anya tertawa mendengar ucapan Naira yang lucu, apa dia pikir Anya juga bukan lah gadis yang sudah waktunya menjalin cinta, tapi sayang saja tidak ada satu pria pun yang mendekati dirinya karena sikap tomboinya.
Meskipun tidak memiliki gaun, atau dress yang diminta oleh Naira, namun Anya akan membelikan itu pada Naira, agar Naira terlihat menarik dan cantik nanti malam. Dan saat mendengar itu Naira merasa terharu dan tidak enak hati sebenarnya, namun apa boleh buat Naira akan menganggap bahwa itu adalah hutang yang harus ia bayar nantinya.
Beberapa saat duduk bersama di kafe itu, akhirnya Anya mengajak Naira untuk pergi. Dia sendiri lah yang akan menemani Naira membeli gaun yang ia inginkan, dan setelah mengganti baju di rumah kontrakan Anya pun membawa Naira ke sebuah toko yang cukup murah namun bukan berarti murahan.
"Naira, udah sampai nih, sekarang lo pilih baju mana aja yang lo inginkan," ucap Anya pada Naira.
"Ya ampun, makasih banyak ya Anya, kamu baik banget, aku akan menganggap ini hutang ya," seru Naira yang tidak ingin mendapatkan kebaikan cuma-cuma dari orang lain.
"Biasa aja lagi Naira, lo nggak usah sibuk memikirkan hal itu. Gue aja santai kok," seru Anya yang keberatan dengan ucapan Naira.
"Tapi aku serius, aku makasih banget sama kamu yang udah bantu aku. Kamu juga dong, bantuin aku kira-kira pakai baju mana yang bagus," pinta Naira yang merasa sudah sangat dekat dengan Anya, padahal persahabatan mereka baru sampai pada hitungan hari.
Setelah menemukan baju yang cocok, akhirnya Naira mengakhiri pencahariannya, dan saat itu Anya mengajaknya pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah itu Naira dan Anya keluar kembali dari tempat itu dan pergi.
"Anya, kamu baik banget sama aku, aku nggak akan lupa sama semua kebaikan kamu," ucap Naira lagi-lagi memuji Anya.
__ADS_1
"Sama-sama Naira, semoga malam ini akan lancar seperti yang lo inginkan," seru Anya melempar senyum.
"Besok ceritakan sama gue gimana kencan kalian, dan kasih tahu gue siapa cowok yang deket sama lo, oke." sambung Anya yang masih menyimpan penasaran.
Naira terdiam, ini PR berat baginya saat itu, karena telah membohongi Anya, dan Anya pun penasaran siapa yang sedang dekat dengan Naira. Karyawan yang baru saja gabung di perusahaan itu.
***
Tepat pukul 19:00 malam
Mobil Geffen berhenti di depan kontrakan sederhana milik Naira, setelah pergi membeli baju bersama Anya, Naira segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap, dan saat itu Naira keluar menemui Geffen yang sudah berdiri di depan pintu.
"Kau sudah siap?" tanya Geffen menatap Naira dari jarak yang sangat dekat.
"Ya, aku udah siap." jawab Naira singkat.
Geffen memperhatikan penampilan Naira dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia memicingkan mata ketika ia menemukan sesuatu yang tidak serasi di sana.
"Apa maksud mu, Pak? Ini baju baru yang aku beli beberapa jam yang lalu, karena aku ingin berpenampilan yang terbaik di hadapan mu dan orang tuamu, tapi kenapa kau justru mempertanyakan hal itu," protes Naira yang langsung bernada tinggi.
"Oh, maaf. Kalau baju ini adalah baju terbaik yang kau pilih untuk berkencan dengan ku, tapi aku harus meminta maaf juga karena aku tidak suka dengan penampilan baju yang kau pakai, kau seperti wanita yang berusia lima puluh tahun saat ini, dan aku harus membuat mu berpenampilan sebagai wanita yang usianya dua puluh tahun," ucap Geffen yang saat itu menilai bahwa penampilan Naira sama sekali tidak menarik.
"Astaga, kau sama sekali tidak menghargai aku Pak, kau tahu tidak? Baju yang kupakai ini hasil dari aku meminjam uang pada salah satu teman di kantor, dan Bapak seenaknya saja mau mengganti dengan selera Bapak, benar-benar keterlaluan," celetuk Naira marah.
"Kau ingin membantuku lepas dari perjodohan kan? Dan kau mau membayar semua hutang budi mu dengan cara yang aku ingin kan?!" Geffen dengan tegas menatap wajah Naira.
Naira sendiri nampak diam dan pasrah, mau tidak mau ia harus melakukan apa yang diinginkan oleh Geffen, meskipun sebenarnya saat itu ia merasa bersalah pada Anya yang telah memilihkan baju terbaik untuk nya.
__ADS_1
Tiba di sebuah distro yang cukup berkelas, Geffen meminta Naira untuk memilih dress yang cantik dan sesuai dengan bodynya, dan saat itu Naira tidak bisa mengelak lagi, ia dengan terpaksa harus memilih dress yang sesuai dan melepaskan gaun yang sudah ia beli dengan menggunakan uang Anya.
Beberapa saat kemudian Geffen nampak tersenyum saat melihat penampilan baru Naira yang cukup anggun dan menarik, kala itu Naira berdiri di hadapan Geffen yang saat itu terpaku menatap dirinya.
"Kau puas, Pak!" tegas Naira menatap sinis.
"Tentu saja aku puas, sangat puas sekali Naira, seperti itu lah harus berpenampilan saat hendak kencan dengan ku," ucap Geffen penuh senyum.
"Pak, kalau begini terus kau akan kehabisan uang hanya untuk membelikan pakaian untukku," seru Naira yang merasa tidak percaya diri saat itu.
"Tidak masalah, setelah orang tuaku membebaskan aku untuk tidak menikah dengan Nirma, maka kau ku anggap bebas dari semua peraturan ku." jelas Geffen mengedipkan salah satu matanya.
Saat itu Geffen merenggangkan salah satu tangannya, dan memberikan isyarat pada Naira agar ia menggandeng tangan tersebut ketika tiba di tempat yang sudah dijanjikan, saat itu Naira dengan ragu memasukkan tangannya karena jarak antara dirinya dengan Geffen akan sangat dekat sekali.
"Pak, kita jalan sendiri-sendiri saja ya," ucap Naira yang tidak bisa mengabulkan permintaan Geffen.
"Kau sudah tidak waras ya, kita ini akan bertemu dengan orang tuaku, kau bertingkah seolah kita akan dicurigai," omel Geffen yang saat itu merasa kesal pada Naira.
"Ya sudah kalau begitu, baik lah." jawab Naira akhirnya setuju dan segera mengunci tangan Geffen.
Geffen lagi-lagi menang, ia tersenyum ketika melihat Naira yang akhirnya menerima permintaannya. Saat itu mereka masuk beriringan, dan menatap ke arah meja makan yang di sana sudah ada kedua orang tua Geffen yang menunggu. Geffen melempar senyum dan juga meminta Naira melakukan hal yang sama, dan saat itu Geffen menepuk-nepuk pelan jemari Naira yang sedang mengunci lengan Geffen.
"Halo Ma, Pa," sapa Geffen melempar senyum.
"Halo, kalian sudah datang akhirnya, ayo duduk, dan ajak Naira duduk juga," ucap mama Lita sudah mengenal Naira sebelumnya.
"Siapa gadis cantik itu, Geffen?" tanya papa Danu menatap penasaran.
__ADS_1
"Ini kekasihku, Pa." jawab Geffen yang saat itu terlihat sangat percaya diri.
Papa Danu dan mama Lita menatap Geffen dan Naira, saat itu Naira tersenyum kecil di tempat karena ia bingung harus melakukan apa. Sampai akhirnya Geffen membisikkan sesuatu pada Naira, meminta Naira untuk menyalami kedua orang tuanya dengan sopan santun, dan kala itu Naira baru memahami apa yang diinginkan Geffen kali ini dan ia melakukan hal itu.