
2 Hari berlalu , hari ini adalah hari dimana Jia akan melaksanakan ujian semesternya. Bertepatan dengan itu ia juga akan memenuhi undangan pernikahan Dara dan Bryan malam nanti .
Tya dan Jia baru saja menyelesaikan ujian mereka, sembari menunggu jemputan dari Devan karena mereka akan pergi untuk memilih gaun Jia dan Tya memilih untuk berbincang di Kantin kampusnya .
“Gimana ujian lu lancar ? “ tanya Jia sembari menyedot Es jeruk yang ia pesan
Tya mengangguk sembari memakan bakso pedas kesukaannya .
“Sepertinya Dara dan Bryan tidak hadir “ ucap Jia
Tya mengambil tissue dan mengelap dahinya yang bercucuran keringat akibat kepedasan dan mengibas-ibaskan tangannya .
“Gak mungkin lah mereka datang , sibuk mereka menyiapkan acara nikahan “ ucap Tya sembari menahan pedasnya bakso
Jia hanya terkekeh geli melihat Tya .
“Lu tuangin sambel berapa sendok ? “ tanya Jia
“Gak ngitung gue, pusing gue sama ujian belum lagi pusing mikirin sahabat gue hamidun mendadak “ ucapnya Ceplas-ceplos
“Husss mulutlu tuh “ ucap Jia
Tya menghiraukan Jia , ia fokus dengan baksonya membuat Jia tersenyum geli .
Dering ponsel Jia berbunyi, sepertinya yang ditunggu-tunggu sudah sampai .
“Hallo Sayang “ sapa pria diseberang sana
“Iya sayang “ ucap Jia berbinar membuat Tya menoleh
“Uwekkk “ Tya berekspresi seakan ingin muntah membuat Jia menatap Tya tajam
“Aku sudah sampai didepan kampus , kamu keluar ya .. Aku nunggu didepan “
Jia mengerutkan keningnya “Mengapa tak masuk kedalam saja “ batinnya
“Baiklah aku keluar sekarang “ ucap Jia lalu mematikan ponselnya
Ia bergegas hendak pergi
“Tya , gue duluan ya udah dijemput Kak Devan mau cari Gaun pakai nanti malam “
“Sialan lu , ya udah hati-hati gue mau lanjut makan “ ucapnya masih mengaduk-adukan kuah baksonya
“Mau ikut gak lu ? Udah ada gaun ? “ tanya Jia memastikan Tya
“Ogah gue jadi obat nyamuk kalian . Udah pergi aja lu sana , gue udah ada “ ucap Tya mengunyah baksonya
Jia terkekeh melihat ekspresi Tya yang kepedasan , namun apa boleh buat bakso pedas adalah makanan kesukaan Tya . Tya seakan lupa dunia jika sudah berperang dengan bakso pedas
“Yayyaa , gue pergi .. Hati-hati lu pulang nanti “ ucap Jia
__ADS_1
Tya hanya melambaikan tangannya , namun mata dan tangannya fokus kepada bihun pada baksonya .
Jia berlari kecil menuju tempat yang Devan katakan . Ketika sudah sampai di gerbang kampus , matanya menyapu kanan dan kiri
“Mana mobil kak Devan “ gumamnya
Pasalnya pagi tadi Devan mengantarkannya ke kampus menggunakan mobil sedannya .
Lalu Jia melihat mobil Alphard hitam , sudah jelas terlihat jika itu adalah mobil papa Mahes karena plat mobilnya “ B 4 MHS “
Melihat itu Jia segera berlari menuju mobil mewah itu , melihat dikaca mobil memastikan apakah ini benar mobil papa Mahes
Devan yang melihat Jia clingak-clinguk kebingungan di luar mobil hanya tersenyum geli . Devan segera membuka kaca mobilnya
“Cari apaa ? “ ucap Devan lembut
Jia terkejut “ Astaga yanggg “ ucap Jiaa merenggut kesal
“Hahaha , ayuk masuk “ ucap Devan
Jia segera membuka pintu mobil itu dan duduk disamping Devan
“Aku bingung nyariin ih , kenapa gak masuk aja sih ? Ini juga mobilnya beda bikin aku tambah bingung “ kesal Jia membuat Devan tertawa
“Hahaha maaf ya sayang “ ucap Devan lalu meraih tangan Jia dan menciumnya ..
“Papa mendadak datang ke kantor bersama mama untuk mengecek keadaan kantor . Tiba-tiba mereka ingin berkencan jadi Papa menukarkan mobil” ucap Devan menjelaskan .
“Kenapa ? “ tanya Devan bingung dengan ekspresi Jia yang tiba-tiba tertawa pelan
“Aku hanya membayangkan papa dan mama berkencan “ ucap Jia nyengir
Devan menyentil pelan hidung Jia
“Nakal “ ucap Devan
“Maaf juga bikin kamu jalan jauh , aku sengaja tidak memasuki area kampus . Kalau masuk pasti akan heboh , aku sedang malas untuk berbincang dengan penjilat “ ucap Devan
Jia menganggukan kepalanya , mengerti maksud dari Devan . Sebagai pemilik saham terbesar di Universitasnya , tentu saja banyak orang hendak mencari muka terhadap Devan .
“Kalau mereka tau aku berpacaran denganmu , mungkin saja aku akan memiliki banyak haters “ ucap Jia tertawa
Devan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis .
Mobil yang disopiri-sopir papa Mahes sudah berlaju sedang , menuju butik langganan Mama Devya . Sebelumnya Devan memberi tau mama Devya jika ia dan Jia hendak pergi keacara pernikahan teman Jia dan Mama Devya memberi usul untuk mengajak Jia pergi membeli gaun di tempat langganannya . Tak lupa mama Devya memberi tau sang sopir untuk mengantar Jia dan Devan ke Butik tersebut .
“Ujian tadi gimana ? “ ucap Devan disela-sela keheningan mereka
“Lancar hehe “ kekeh Jia
“Baguslah “ ucap Devan lalu mengacak-acak lembut rambut Jia .
__ADS_1
20 Menit membelah jalanan macet ibu kota , panas mentari dan polusi menjadi satu . Untung saja mereka ada didalam keademan AC mobil jadi tak merasakan panas. Mereka telah sampai di Butik langganan mama Devyan .
Kebetulan sekali pemilik butik tersebut sudah mengenal Devan , dan sebelumnya juga mama Devya sudah menghubungi sang pemilik butik jika anak dan menantunya akan datang untuk mencari gaun kondangan . Mama Devya mengatur semuanya dengan baik demi sang menantu tercinta ..
“Silahkan nak Devan dan nona Jia “ ucap sang pemilik butik
Jia terkejut sang pemilik butik mengetahui namanya .
“Devya telah menghubungiku jika anaknya dan menantunya Jia akan datang untuk mencari gaun “ kekeh sang pemilik butik melihat ekspresi Jia
“Oh , seperti itu , terimakasih bu “ ucap Jia sopan membungkukan badannya
“Sama-sama , silahkan kamu pilih dulu ya “ ucap samg pemilik butik lalu meninggalkan Jia dan Devan.
Devan memilih untuk duduk disofa yang tersedia, matanya menatap lekat jia yang kesana kemari mencari gaun yang cocok untuknya . Devan mengambil ponsel di sakunya lalu mengambil beberapa foto Jia yang kebingungan .
“Lucu banget sih “ ucap Devan terkekeh geli melihat gambar yang telah ia bidik .
Karena matanya terlalu fokus pada ponselnya ia tak tau jika Jia telah hilang dari pandangannya .
Devan menyapi seluruh ruangan namun Jia tak ditemukan .
Ia panik dan bergegas berdiri berjalan kesana kemari mencari keberadaan Jia .
“Jiaa “ panggil Devan yang kebingungan
Devan sangat panik ..
Tiba-tiba seorang wanita baru saja keluar dari ruangan untuk mencoba baju
Wanita itu mengerutkan keningnya melihat Devan yang berjalan kesana kemari .
“Kak Devan “ ucap Jia
Devan segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara . Yah , jia baru saja mencoba gaun terlihat ditangannya telah ada gaun biru yang ia pegang
“Jiaa “ Devan segera berlari kearah Jia
“Kenapa sih ka? “ tanya Jia bingung
“Aku panik , aku kira kamu menghilang “ ucap Devan dengan wajah khawatirnya membuat Jia tertawa terbahak-bahak
“Hahahhaa , kakak ada-ada saja ihh . Aku lagi coba gaunn nihh “ tunjuk Jia kepada gaunnya .
Devan sangat malu , ia hanya nyengir mendengar penjelasan Jia .
“Kamu coba gaun kok gak kasi tau aku ? Aku kan pingin lihat gimana bajunya “ Devan merajuk
“Kejutann “ ucap Jia tersenyum manis kepadanya
Devan dan Jia pun segera membayar gaun yang telah Jia pilih . Gaun itu dibayar oleh Devan , meski Jia menolak keras namun Devan dengan kerasnya juga memaksa Jia agar Jia mau dibelikan gaun . Jia akhirnya pasrah dari pada terjadi keributan adu mulut antara dirinya dan Devan di butik itu ..
__ADS_1
Devan dan Jia pun kembali hendak pulang .. Devan mengantarkan Jia sebelumnya kerumah lalu berbelok ke rumahnya untuk beristirahat sebelum pergi kondangan malam nanti …