
Aku mencoba untuk menelpon om Fathir, untuk menanyakan dimana ia tinggal. Setau aku masih didaerah Kemang tapi entah sekarang masih tinggal didaerah sana atau gak.
Akhirnya kucoba tanya sama mama dan ternyata om Fathir masih tinggal didaerah Kemang cuman gak di apartemennya yang dulu tapi ia menginap dihotel untuk beberapa hari kedepan. Segera berangkatlah aku untuk nyamperin om ke apartemennya untuk meminta maaf sama om. Pertama kali aku datang aku tanya sama mbak resepsionis dimana kamar pak Fathir. Setelah itu aku ditujukan sama mbknya untuk melewati sebuah lorong lurus terus ada kamar nomor 174.
Setelah sampai disana, aku memencet bel kamarnya dan om membukakan pintu. Dia nampak kaget mengetahui aku kok bisa tau hotel tempat ia menginap.
"Ayo, masuk..... (mempersilahkan aku masuk dan menyuruhku untuk duduk) "Kok kamu tau tempat om menginap?.. pasti tau dari mama ya?..
"Iya,. om aku tanya sama mama. Takutnya aku salah tempat. hehehehh (dengan polosnya aku tertawa kecil.)
"Mau minum apa? om pesankan ya.. (hendak mengambil telepon)
"Gak usah om, aku kesini hanya mau bilang soal tadi pagi. Aku minta maaf ya om tadi pagi cuekin om dan sinis sama om. (menundukkan kepalaku seakan aku tuh salah banget.)
"Ya, ampun... gitu aja kok pakek minta maaf. Lagian kamu juga?. Kenapa kok begitu tadi pagi? ( mengacak ngacak rambutku.)
"Emmmm.. aku ada masalah aja disekolah sama teman jadi om kena imbasnya. Maafin ya om. Lain kali gak gitu deh! (senyum lebar)
__ADS_1
"Iya cantik...(mengusap rambutku dengan lembut.)
Disitu kita masih ngobrol. Disela sela pembicaraan,aku sempat bertanya sama om.Bagaimana dengan Feby? tapi om gak menjawab apapun dia hanya bilang kalau hubungannya baik baik saja. Terus aku jujur sama om kalau waktu di penginapan aku mengikuti om dan Feby. Dan melihat om menangis, begitu pun Feby.
"Jujur saja sama Meera? Ada hubungankah om sama Feby? (kataku dengan nada yang agak lirih.)
"Dulu memang ada hubungan . Tetapi sekarang udah gak ada. Hubungan itu udah kubuang jauh jauh, sempat masih menaruh harapan sama dia. Apakah dia masih mengingatku?.Ingat janji kita 5 tahun yang lalu. Ternyata dia tak ingat aku sekalipun
(dia berkata itu sambil berjalan menuju jendela.) Tapi dia masih saja mengangguku.
"Sebenarnya ia, tapi sekarang alasan om kembali kesini hanya untuk kamu (menoleh kearahku dengan tersenyum kearahku.)
" Untuk aku!.Kenapa untuk aku om?
"Ya, siapa lagi yang kutuju disini kalau bukan kamu, keponakan om yang ku sayang (datang menghampiriku dan memelukku.)
"Om tidak bisa lama lama di Indonesia, karena masih ada pekerjaan yang harus diurus disana (masih memelukku.)
__ADS_1
Aku begitu merasakan pelukannya. Pelukan yang hangat, dadanya yang menempel kedadaku. Rasanya tak mau ke lepaskan. Detak jantungnya pun aku rasakan dalam dekapannya.
Ahhh,, rasanya tak mau kulepas aku ingin bersamanya terus. Betapa gilanya aku, dia itu omku.
Tolong jangan lepaskan dekapan pelukanmu itu om. Teruslah peluk aku didalam hawa yang dingin agar tubuhku hangat.
Om pelan pelan melepas pelukannya dan mulai menatapku dan membelai rambutku. Yang dia katakan .
"Bilang sama om, jika suatu saat nanti ada yang kamu sukai atau ada yang menyukaimu. Katakan sama om ya?. Dia seperti apa?..
Asalkan dia baik dan sayang sama kamu! (kata om kepadaku.)
Aku mengangguk dengan pelan. Dan dia masih memelukku lagi. Ohhh rasanya lagi dan lagi semakin dag dig dug jantungku tapi aku tak bisa melepaskan pelukannya. Malah aku peluk erat dia.
Ohh Tuhan, andai dia bukan om aku. Mungkin aku sudah mengatakan kalau aku menyukainya.
Perasaan itu semakin menggelora tuhan. Aku tak bisa menahan ini semua. Ingin rasanya kukatakan semua isi hatiku meskipun ini salah.
__ADS_1