
Alfredo Atmadja seorang duda yang telah mengalami patah hati di malam pertamanya, dimana ia ditipu oleh pria yang selama ini dikiranya sebagai wanita.
Cantik parasnya, anggun sifatnya serta baik hatinya, namun sial wanita itu memiliki senjata magis panjang di balik kain yang menutupi tubuhnya.
Hampir mati rasanya saat itu, bagaimana tidak? Alfredo yang mencintai wanita itu bahkan sampai keatas jenjang pernikahan, namun nyatanya ia ditipu oleh penampilan.
Bahkan saking terkejutnya pada saat itu, Alfredo hampir mengalami serangan jantung yang membuat nafasnya seketika sesak mengetahui fakta tersebut.
Begitu juga dengan pria itu, merasa malu ketika rahasianya di ketahui membuatnya berlari meninggalkan Alfredo seorang diri dengan melompat dari jendela lantai dua.
Namun secara ajaibnya pria tersebut selamat dan segera berlari keluar meninggalkan bangunan besar milik Alfredo Atmadja.
Bahkan melihat aksi itu sampai membuat pak Udin penjaga rumah terkejut setengah mati, ditambah saat berusaha mengejar orang yang dia kira nyonya besarnya itu pak Udin malah tidak sanggup.
Beberapa pengawal juga yang melihat itu segera berlari mengejar, apalagi saat seorang bawahan berteriak melihat Tuan mereka terkapar tak berdaya di bawah kasur.
Dengan cepat seluruh penjaga mengejar pria jadi-jadian itu, hingga di sebuah persimpangan sebuah bus besar melintas yang tanpa sengaja menabrak siluman pria yang tengah berlari itu hingga tewas.
***
"Tuan!" Panggil Leo yang melihat Alfredo melamun sembari memijat pelan pelipis matanya.
"Ada apa?" Tanya Alfredo yang telah sadar dari ingatan kelam dan menakutkan itu
"Hah, apa anda masih memikirkan peristiwa itu?" Tanya Leo
"Itu begitu menakutkan kau tau? Aku hampir mati karena tipuan itu! Sial!" Kesal Alfredo yang merinding mengingatnya
"Ayolah, kejadian itu sudah terlewat dua tahun yang lalu. Ditambah orang-orang tidak ada yang tau masalah ini," ucap Leo berusaha menenangkan
Mendengarnya Alfredo hanya menggelengkan kepalanya, sudah sering ia melakukan terapi untuk membuang ingatan menakutkan itu, namun rasanya hal itu begitu sulit dan selalu terbayang sampai mimpi.
"Aku tau, masalahnya aku tidak bisa melupakan kejadian itu! Kau pikir mudah, setelah hidup mu di bohongi oleh siluman mengerikan seperti itu?" Tanya Alfredo pada Leo
"Hm, sepertinya Saya tau bagaimana caranya agar, Tuan bisa sembuh!" Ucap Alfredo memberikan usulan
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Alfredo nampak serius
"Bagaimana jika Anda mencari pasangan wanita?" Saran Leo
"Kau gila! Aku masih trauma dengan yang namanya wanita!" Tegas Alfredo yang menggelengkan kepalanya mendengar usulan gila Leo.
"Tuan, ini adalah salah satu cara paling ampuh! Anda harus melawan ketakutan Anda sendiri, yaitu wanita!" Usul Leo kembali dengan percaya diri
"Tidak! Aku tidak mau, terlebih aku takut jika wanita tersebut merupakan siluman juga!" Tegas Alfredo kembali dengan pendiriannya
"Lebih baik Anda coba dulu Tuan, lagipula apa Anda mau hidup seperti ini terus?" Tanya Leo nampak prihatin
Alfredo diam sejenak memikirkan yang Leo katakan, karena ada benar juga kata-kata Leo, bagaimana mungkin Alfredo harus terus seperti ini. Yang ada nanti Alfredo malah akan menjadi perjaka tua duluan.
"Pikirkan baik-baik, Tuan. Saya kemari hanya ingin mengantarkan dokumen perusahaan, permisi." Ucap Leo segera pergi meninggalkan Alfredo dalam renungan.
Alfredo yang memikirkan perkataan Leo segera mengusap wajahnya dengan kasar, ia ingin melakukannya, namun rasa takut itu masih membayangi dan menghantui Alfredo saat ini.
***
Sementara itu disebuah toko bunga yang ramai pengunjung. Seorang gadis cantik nampak serius dengan pekerjaannya untuk merangkai bunga pesanan para pelanggannya.
Tentu yang membuat pengunjung ramai tidak lain, dan tidak bukan karena Airin itu sendiri yang membuat orang-orang betah dan suka untuk membeli rangkaian bunga buatan tangannya.
Apalagi kebanyakan para pembeli adalah seorang pria, yang sudah pasti mereka sebenarnya tertarik pada sang perangkai dari pada bunganya itu sendiri.
"Terimakasih, jangan lupa datang lagi!" Ucap Airin setelah memberikan bunga milik seorang pelanggan terakhir
"Ini, tips karena bunganya cantik!" Ucap seorang pria memberikan bayaran lebih
"Terimakasih, Tuan. Jangan lupa untuk sering-sering mampir!" Jawab Airin sembari mengambil bayaran tersebut
Pelanggan terakhir tersebut hanya tersenyum setelah itu berlalu pergi meninggalkan toko. Setelah pelanggan terakhir Airin nampak merebahkan tubuhnya di sofa toko, sembari mengusap keringat di wajahnya.
"Capek banget, kelihatannya!" Ucap Riona memberikan minuman dingin pada Airin
__ADS_1
"Ya begitulah, syukur-syukur hari ini ramai pengunjung datang," jawab Airin sembari meminum teh kaleng tersebut
"Jangan terlalu di paksakan, Rin. Yang ada nanti kamu bisa kecapean dan sakit!" Tegur Riona yang ikut duduk di samping Airin.
"Hah ... Tapi mau bagaimana lagi, besok aku harus bayar uang sekolahnya, Dafa." Ucap Airin mengangguk
Alasan Airin bekerja begitu keras sebenarnya karena sang adik yang menjadi semangatnya, apalagi keduanya selama ini hanya tinggal berdua tanpa ada orang tua sama sekali.
Semuanya disebabkan kecelakaan 3 tahun yang lalu, dimana kedua orang tua Airin, kecelakaan akibat mobil yang keduanya tumpangi, menabrak sebuah bus.
Hingga hari itu, terpaksa membuat Airin harus hidup berdua dengan sang adik yang terbilang masih sangat kecil. Bahkan Airin sendiri sampai tidak melanjutkan kuliahnya, karena harus mengurus Dafa yang masih sangat kecil waktu itu.
"Kalau capek ya, tinggal cari suami aja, Rin." Tawar Riona yang membuat Airin tersenyum pahit
"Suami?" Tanya Airin berusaha memastikan pendengarannya
"Iya Suami!" Ulang Riona sekali lagi
Airin yang mendengar itu pun tak kuasa menahan tawanya, terlebih saran yang Riona berikan terdengar aneh dan tidak jelas.
"Kenapa ketawa?" Tanya Riona bingung
"Ya kamu aneh! Aku masih muda begini di suruh menikah," jawab Airin menepuk pundak Riona
"Maksudnya bukan begitu, Airin... Maksud aku suruh kamu menikah itu, biar kamu sama Dafa ada yang nafkahi!" Jelas Riona memutar bola matanya
"No! Aku aja masih sanggup buat merawat Dafa, lagipula aku masih belum tertarik sama hal begituan. Apalagi Dafa masih kecil, aku mau Dafa bahagia dulu baru Aku!" Ucap Airin mendorong pelan kening Riona dengan jarinya
"Tapi semisalnya, Dafa bahagia dengan cara kamu menikah gimana?" Tanya Riona lagi
"Hm ... Mungkin bisa!" Jawab Airin tersenyum dan berlalu pergi menuju belakang
"Bisa apa, Rin?" Tanya Riona memandang Airin yang menuju belakang
"Ya ... Bisa di pertimbangkan," jawab Airin tertawa kecil
__ADS_1
Riona yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, apalagi Airin sama sekali tak menganggap ucapan Riona tadi serius selain sebuah candaan biasa.
Begitu juga dengan Airin sendiri yang tak menganggap ucapan Riona serius, dan tidak lebih dari sekedar bercanda. Karena kalau di pikir-pikir untuk Airin menikah, jika sekarang saja ia masih sanggup menanggung semuanya, apalagi usianya masih sangat muda untuk memikirkan hal itu.