Om Duda Untuk Nona Kecil

Om Duda Untuk Nona Kecil
22. Yunita dan tawaran Justin


__ADS_3

Setelah perjalanan sebelumnya dari rumah sakit, Alfredo kini kembali menuju kediaman utama. Namun sesampainya di halaman, raut wajah Alfredo nampak berubah, terlebih saat melihat mobil yang begitu dia kenal.


"Kenapa dia ada di sini?" Pikir Alfredo dengan raut serius


Keluar dari dalam, langkah Alfredo segera masuk untuk memastikan jika apa yang dia pikirkan memang benar.


"Alfredo!"


Suara seorang wanita muda terdengar memanggil, apalagi suara tersebut berasal dari seseorang yang begitu Alfredo jauhi keberadaannya.


"Yunita? Ngapain kamu ada di sini?" Tanya Alfredo menaikan alisnya heran


"Kenapa sih? Aku kan cuma kangen sama kamu?"


"Aku sepupu kamu, Yunita."


"Tau, memangnya kenapa?"


Alfredo menggelengkan kepalanya, menatap sang Bunda yang tersenyum sambil menaikkan kedua pundaknya.


"Bunda ngapain sih, biarin orang gila begini masuk?" Tanya Alfredo


"Siapa yang orang gila!" Balas Yunita menyilangkan tangannya kesal


"Kamu!"


"Kenapa aku?"


"Pikir Sendiri." Jawab Alfredo berlalu pergi sambil menggelengkan kepalanya


"Al kamu mau kemana?"


"Jangan banyak tanya, Yun."


Melihat dirinya di abaikan, Yunita berdengus kesal. Langkahnya berjalan menuju sofa yang saat ini tengah ada Megan yang duduk santai dengan sebuah buku di tangannya.


"Tante..."


"Kenapa Yun?"


"Al Tante..."


"Ya kan memang dia sifatnya begitu." Jawab Megan tersenyum

__ADS_1


"Masa begitu terus?"


"Ya Tante tidak tau. Lagipula kenapa juga kamu kejar-kejar dia, kan banyak tuh laki-laki lain yang bisa kamu kejar." Sambung Megan mengangkat alisnya


"Yunita maunya sama Alfredo. Lagian laki-laki diluar sana belum tentu seperti Alfredo." Yunita menyilangkan tangannya


"Ya kalau begitu Tante tidak tau gimana lagi."


***


Di kamar Alfredo segera melepaskan seluruh pakaiannya, berjalan masuk menuju kamar mandi. Menikmati air shower yang perlahan mulai menyusuri setiap sisi tubuhnya.


"Hah ... Kenapa malah seperti ini lagi? Bisa-bisanya wanita gila sepertinya datang kemari?" Keluh Alfredo memejamkan matanya menikmati air dingin yang meresap di tubuhnya


Selesai dengan urusan mandi, Alfredo pun berjalan keluar sambil masih menggunakan handuk. Matanya menatap diam layar ponsel di tangannya.


"Ngomong-ngomong, kapan dia akan kemari?" Pikir Alfredo menaikan alisnya


***


- Rumah Sakit


Di halaman depan rumah sakit, langkah Airin terlihat pelan mondar-mandir mencari udara segar. Malam itu suasana begitu tenang, karena memang lokasinya di rumah sakit.


Tepatnya di sebuah bangku, Airin duduk menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Benar-benar nuansa yang menyenangkan untuk berdiam diri.


"Mas Justin?" Jawab Airin menaikan alisnya saat melihat Justin yang sedang ada di lokasi tersebut


"Sedang apa di sini? Kamu sakit?" Tanya Justin berjalan menghampiri


"Bukan Airin Mas, tapi nenek Airin yang sedang sakit sekarang." Airin menggelengkan kepalanya


"Sekarang keadaannya bagaimana?" Tanya Justin duduk di samping


"Sudah mendingan Mas. Lagipula tadi Mas Alfredo sudah bantuin Airin untuk biaya perawatan. Jadi mungkin akan semakin cepat untuk sembuhnya." Airin tersenyum


Mendengar nama Alfredo, Justin mengkerut kan alisnya.


"Alfredo? Dia ada di sini juga sebelumnya?" Tanya Justin menaikan alisnya penasaran


"Iya tadi siang. Kebetulan katanya sedang berkunjung untuk bertanya kapan Airin bisa bekerja lagi."


"Kerja? Kamu kerja apa sama Alfredo?"

__ADS_1


"Tukang mengurus bunga-bunga. Lumayan sih gajih nya."


Mendengar apa yang Airin katakan Justin mengangguk pelan, sambil berpikir sesuatu di otaknya.


"Em Airin."


"Kenapa Mas?"


"Kenapa kamu tidak kerja di tempatku saja? Lebih enak daripada harus ngurusin bunga?"


Airin diam sejenak, pasalnya Airin sendiri tidak tau pekerjaan apa yang Justin tawarkan. Terlebih yang Airin tau pekerjaan Justin hanya sebagai guru.


"Kerja?"


"Iya, kebetulan Aku punya toko. Kalau kamu mau bisa kerja di sana saja?"


"Tapi Mas."


"Aku kasih dua kali lipat gajinya, daripada tempat kamu bekerja sekarang, bagaimana?" Tawar Justin tersenyum


"Itu, Airin..."


"Sekarang Aku tanya, gajih kamu sekarang berapa?"


"Em, tiga..."


"Tiga, gimana kalau kerja di tempatku. Nanti aku gajih enam, bagaimana?"


"Sebelumnya Maaf Mas, kenapa harus Airin? Bukanya masih banyak orang lain?"


Justin diam sejenak, memandang kearah lain karena bingung ingin memberikan jawaban apa untuk Airin.


"Kamu spesial, itu aja."


"Tapi kan-"


"Intinya kamu pikirkan saja dulu, masalah mau atau tidaknya kasih tau Aku nanti, gimana?"


"Iya Mas." Airin Menganggukkan kepalanya


"Kalau begitu, boleh minta nomornya buat aku hubungi?"


Airin kembali mengangguk, memberikan nomor miliknya untuk Justin. Dan melihat kesempatan itu, Justin hanya tersenyum lebar hendak berjalan pergi.

__ADS_1


"Ehem, kalau gitu aku pamit dulu ya." Ucap Justin menunjuk kearah seorang wanita tua yang tengah berdiri di dekat mobil miliknya


"Iya Mas, makasih."


__ADS_2