Om Duda Untuk Nona Kecil

Om Duda Untuk Nona Kecil
2. Salah Paham


__ADS_3

Siang itu seperti biasa Airin kembali melakukan pekerjaan untuk merangkai bunga para pelanggannya.


Kring!


Suara lonceng pintu kembali berbunyi yang menandakan seorang pelanggan kembali tiba di toko bunga.


"Selamat siang di toko bunga Victoria!" Sapa Airin dengan tersenyum manis


Seorang pria dengan setelan jas rapi nampak memasuki toko, sorot matanya begitu tajam menatap sekelilingnya seperti sedang melihat seperti apa bentuk di sekitarnya.


Airin hanya memandang bingung pada pelanggannya kali ini, dimana pelanggan tersebut nampak diam sembari menatap seluruh ornamen di sekitarnya.


Terlebih pandangan Airin juga nampak memandang kagum dengan wajah tampan pria di hadapannya, meski pria tersebut terlihat sudah om-om.


"Permisi, ada yang bisa di bantu?" Tanya Airin bertanya


Pria tersebut segera menatap Airin yang tengah bertanya, dan dengan santainya ia berjalan mendekat sembari menunjuk contoh bunga di sebuah kertas menu.


"Buatkan untuk ku bunga untuk diberikan sebagai hadiah," ucapnya tanpa memandang Airin


"Baik, silahkan Tuan menunggu dan bersantai terlebih dahulu!" Jawab Airin ramah


Pria tersebut mengangguk dan segera duduk di sebuah sofa yang nampak memang di siapkan untuk seorang pelanggan.


Setelah itu Airin segera melakukan pekerjaannya untuk merangkai sebuah bunga, bunga yang menjadi pesanan pelanggannya itu.


"Hah! Tenanglah Alfredo, tidak perlu gugup!" Ucap Alfredo dalam benaknya sembari menggerakkan kakinya dengan tidak tenang


Hampir beberapa menit Alfredo menunggu diam di tempat yang sama, hingga beberapa saat kemudian Airin memanggilnya yang menandakan bunganya telah siap.


"Tuan, bunga pesanan anda telah siap!" Panggil Airin menaruh bunga tersebut di atas meja

__ADS_1


Alfredo segera bangkit dari duduknya, dan segera melangkah menuju meja Airin untuk mengambil bunga pesanannya.


"Em, bagus!" Ucap Alfredo dengan nada datar.


"Terimakasih!" Jawab Airin


Alfredo segera merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar kertas merah, dan memberikannya pada Airin.


Setelah melakukan itu Alfredo segera melangkah pergi hendak meninggalkan toko bunga tersebut, namun baru saja hendak melangkah suara panggilan terdengar.


"Tuan!"


"Tidak perlu, ambil saja kembaliannya!" Jawab Alfredo dengan ekspresi datarnya


"Bukan itu! Uangnya kurang!" Panggil Airin


"Apa!"


Buk!


Alfredo dengan keras memukul pintu mobilnya, dimana Leo nampak sudah menunggu di dalam dengan ekspresi penasaran.


"Bagaimana Tuan? Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Leo


"Sial, aku tidak ingin datang ke toko bunga ini lagi!" Ucap Alfredo dengan wajah malu


Leo yang mendengarnya nampak terkejut, apa yang Leo pikirkan saat ini adalah tentang orang-orang yang berada di dalam toko bunga, dimana Leo mengira jika ada orang yang telah menyinggung Tuanya.


"Apa! Siapa orang berani membuat Tuan marah? Akan Saya beri dia pelajaran Tuan!" Leo bergegas hendak keluar dari mobil, namun sebelum sempat melakukan itu Alfredo menahannya


"Ada apa Tuan? Apa Anda ingin memberikan usulan lain untuk membuat orang tersebut merencanakan perbuatannya?" Tanya Leo

__ADS_1


Alfredo yang melihat tingkah Leo nampak malu setengah mati, apalagi alasan ia kesal bukan seperti yang Leo pikirkan.


"Tenanglah! Tidak ada yang menyinggung ku!" Tegas Alfredo


"Lalu?"


"Jangan dibahas lagi! Cepatlah kita pergi!" Perintah Alfredo yang nampak semakin malu jika mengingatnya


"Sial! Bisa-bisanya dia tertawa seperti itu pada ku!" Kesal Alfredo


Flashback On


"Uangnya Kurang!" Panggil Airin


"Apa?"


"Begini Tuan, yang anda pesan tadi adalah rangkaian bunga premium," ucap Airin menunjuk daftar harga di menu sebelumnya


"Ah ... Mm ... Baiklah!"


Dengan buru-buru dan malu Alfredo segera merogoh dompetnya sekali lagi, dan segera memberikan selembar uang merah dengan jumlah yang banyak.


"Tuan ini kebanyakan," ucap Airin yang nampak menahan tawanya setelah melihat kelakuan Alfredo tadi


"Ambillah! Aku tidak kekurangan uang!" Alfredo segera meninggalkan toko bunga


"Tuan tunggu!" Panggil Airin


Alfredo tak mendengarkan dan tetap melanjutkan langkahnya, sementara itu Airin hanya menatap bingung dengan rangkaian bunga yang di tinggalkan di hadapannya.


"Apa dia tidak mau?" Tanya Airin melihat bunga rangkai di hadapannya

__ADS_1


__ADS_2