
Di tengah sibuknya bekerja merawat bunga, sebuah dering ponsel tiba-tiba menyadarkan Airin dari fokus kerjanya saat ini.
"Tante Rini?" Bingung Airin saat melihat nama yang menghubunginya
"Halo Tante?"
"Halo Airin, gimana kabarnya, hm?"
"Baik, Dafa juga sama. Tante gimana?" Tanya Airin balik
"Tante juga. Oh iya Rin, besok kamu bisa datang tidak?" Tanya Rini
"Ada apa Tan?" Tanya Airin penasaran
"Katanya Nenek mu kangen, sudah lama dia tidak melihat cucunya. Jadi bisa kan?"
Mendengarnya Airin kembali teringat dengan wanita tua tersebut, entah mengapa Airin merasa bersalah karena selama ini tak memberi kabar.
Maklum pekerjaan yang membuat Airin sampai lupa akan hal itu, terlebih Dafa saja yang dekat sempat kurang Airin perhatikan saat itu.
"Airin tanya atasan dulu ya, Tante." Jawabnya tak ingin langsung setuju
"Iya, jangan lupa kalau bisa kamu datang ya. Nenek mu juga sekarang sudah sering sakit-sakitan." Jawabnya yang sekali lagi membuat hati Airin terasa sesak sesaat.
"Sakit? Kenapa tidak dibawa kerumah sakit aja, Tante?" Tanya Airin khawatir
"Sedang kami usahakan Rin, kamu tau kan biaya rumah sakit tidak murah. Terlebih kemarin pihak puskesmas minta untuk di alihkan ketempat rumah sakit besar."
"Ya udah kalau begitu nanti Airin coba bantu tambahin Tante, semoga nanti ada dan cukup."
"Terimakasih Rin, tapi jangan terlalu di paksakan jika diluar kemampuan kamu.."
__ADS_1
"Airin mengerti, kalau begitu Airin coba langsung aja sekarang minta izin nanti."
Panggil berakhir dengan ekspresi masam dari Airin, tak enak rasanya ia mendengar cerita yang tantenya itu katakan, terlebih selama ini Airin begitu lupa untuk sekedar memberi kabar.
***
Di ruang tamu, Megan nampak santai dengan layar tablet di tangannya. Matanya memandang diam saat melihat foto-foto yang dikirimkan Kevin padanya
"Permisi, Buk." Panggil Airin dari belakang
"Airin? Ada apa, sini duduk" jawab Megan tersenyum
"Airin berdiri aja, buk. Soalnya tubuh Airin kotor, hehe"
"Ya udah, ada apa hm?" Tanya Megan memandang
"Begini, buk. Airin boleh minta libur terlebih dahulu tidak?"
"Ada apa?"
"Begini, Airin berencana pulang kampung terlebih dahulu. Tadi Tante Airin bilang kalau nenek kangen.." jawabannya apa adanya
"Tidak masalah, tapi ngomong-ngomong apa kamu pulang cuma buat itu?" Tanya Megan penasaran
"Em, iya buk."
"Kalau begitu tunggu sebentar ya.." jawab Megan berjalan pergi
Airin hanya menurut, ia tetap diam menunggu apa yang ingin Megan lakukan. Terlebih matanya memandang bingung dengan apa yang ingin Megan lakukan.
'Apa Airin mau di pecat ya?' pikirnya mulai aneh
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Megan turun, di tangannya terlihat memegang sebuah amplop coklat yang Airin duga adalah uang gajih nya.
'Hah? Benar-benar di pecat?' panik Airin saat melihat Megan mendekat
"Nih, ambil ya buat ongkos kamu!" Ucapnya menyerahkan uang tersebut
Bukannya menerima uang tersebut Airin malah terdiam sembari meneteskan air mata, hal itu sontak membuat Megan terkejut melihatnya.
"Airin? Kamu kenapa sayang?"
"Buk ... Airin di pecat?" Tanya Airin sembari terisak tangis
Mendengar pertanyaan Airin membuat Megan mengerti situasinya. Ia mengira jika memberikan uang ini merupakan gajih terakhirnya.
"Bukan Sayang, ini murni untuk ongkos kamu pulang. Bunda buka mau memecat kamu.." jawab Megan sembari mengelus pelan puncak kepala Airin
"Hiks ... Beneran Buk?" Tanya Airin seperti anak kecil mengusap air matanya
"Iya Rin. Mana mungkin Bunda mau pecat kamu, terlebih kamu juga ngerawat bunganya pinter kok!" Ucapnya tersenyum
Mendengarnya Airin kembali merasa lega, ia sempat malu karena tadi menangis karena salah paham akan maksud tersebut.
"Maaf ya, Buk. Airin salah paham.." ucapnya malu
"Tidak apa-apa, nih di ambil. Soal gajih tenang saja, ini murni Bunda kasih!" Ucapnya
"Tapi Buk, ini kebanyakan.." jawab Airin tak enak melihat gemuknya amplop coklat tersebut
"Sudah ambil aja, siapa tau nanti kamu perlu apa-apa kan?" Jawab Megan menepuk pelan lengan Airin
"Terimakasih Buk, sekali lagi terimakasih sekali!" Jawab Airin kembali sembari menunduk hormat
__ADS_1
"Udah jangan berlebihan.." balas Megan sedikit terkekeh