
"Mas Al yakin?" Tanya Airin saat mendengar Alfredo menawarkan untuk memindahkan sang nenek menuju ruangan VIP.
"Yakin, bukanya malah bagus? Dengan begitu nenek kamu akan mendapatkan perawatan yang lebih baik bukan?" Jawab Alfredo menganggukkan kepalanya .
"Airin tahu Mas. Cuma, Airin merasa tidak enak. Apalagi Buk Megan, beliau juga sudah ngebantu Airin dengan ngasih ongkos lebih." Balas Airin nampak sedikit murung
"Yang membantu kamu itu, Bunda. Dan sekarang giliran ku, memangnya kamu tidak mau melihat Nenek mu sehat?"
Airin sedikit terkejut, dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak Mas, Airin mau Nenek cepat sembuh." Jawab Airin cepat
"Ya kalau begitu kamu harus setuju untuk dipindahkan ke ruangan VIP. Dan soal biaya tidak perlu di pikirkan, biar Aku yang urus. Kamu juga tidak perlu khawatir, Aku tidak meminta balasan untuk semuanya." Ucap Alfredo semakin serius
"Terimakasih Mas Al. Airin tidak tahu harus bagaimana lagi, apalagi Mas sudah membantu..."
"Tenang aja, cuma masalah kecil. Kebetulan Aku pengen cepat biar bunga di rumah ada yang ngurusin." Jelas Alfredo memandang kearah lain
"Iya Mas Al, Airin ngerti soal itu."
***
Sementara itu di depan rumah Airin, Justin nampak bingung saat melihat rumah yang sedang tertutup. Apalagi sudah dua hari ini dia tidak melihat Airin.
"Airin kemana? Kenapa rumahnya sepi?" Bingung Justin memandang sekitar
Namun di tengah rasa bingung, mendadak seorang ibu-ibu lewat. Dia bertanya perihal apa yang tengah Justin lakukan.
__ADS_1
"Mas ngapain disitu?"
"Eh Buk, ini ngomong-ngomong yang punya rumah kemana ya?"
"Neng Airin?"
"Iya, Airin. Ibu tau dia kemana?"
"Owh dia, kebetulan beberapa hari yang lalu sedang pergi sama adek nya. Katanya sih mau jenguk Neneknya yang sudah tua di kampung." Jelas ibu tersebut
"Oh gitu, tapi kira-kira kapan dia baru pulang buk?" Tanya Justin kembali
"Nah itu Saya kurang tau, soalnya belum sempat nanya."
"Oh ya, kalau begitu terimakasih, Buk." Jawab Justin segera pamit
Mendengar jika Airin tidak ada dirumah, Justin akhirnya memutuskan untuk pergi. Apalagi dia sudah tau alasan Airin tidak ada kemana.
"Duh, gantengnya. Pacar Airin bukan ya?" Tanya ibu-ibu tersebut nampak tersenyum
***
Di perjalanan pulang yang terasa membosankan untuk Leo, entah mengapa sangat menyenangkan untuk Alfredo. Apalagi saat Leo sempat curi pandang, melihat atasannya yang cengar-cengir.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Alfredo yang menyadari Leo menatap kearahnya
"Ah tidak, ehem cuma lihat kanan kiri dan depan belakang saja, Tuan." Jawab Leo mengalihkan perhatiannya sambil berdehem pelan
__ADS_1
Alfredo yang menyadari dirinya di perhatikan segera kembali merubah setelan wajahnya, namun saat suara ponsel berdering, kening Alfredo berkerut saat melihat siapa yang menelponnya.
"Yunita?" Tatap Alfredo
Beberapa saat Alfredo sempat mengabaikan panggilan tersebut, namun dikarenakan panggilan yang terus datang, akhirnya mau tak mau Alfredo mengangkatnya.
"Al!" Panggil Yunita
"Ada apa?" Jawab Alfredo datar
"Kamu gimana kabarnya? Kangen Aku tidak?" Tanya Yunita terdengar cengengesan
"Tidak, sama sekali."
"Jahat banget sih? Sama sepupu sendiri tidak rindu?" Tanya Yunita kembali
Alfredo menghela nafasnya, sejujurnya dia paling enggan untuk berurusan dengan sepupunya satu ini. Apalagi Alfredo juga tahu, jika Yunita sebenarnya menyukainya bukan sebagai saudara.
Hal itulah yang membuat Alfredo menjaga jarak dengannya, karena mau bagaimana pun, Alfredo hanya menganggap Yunita sebatas adik perempuan, tidak lebih seperti yang Yunita pikirkan.
"Yunita, Aku sedang sibuk, jadi kalau mau ada yang di bicarakan sekarang saja, mengerti?" Balas Alfredo
"Yasudah, nanti saja. Lagipula cepat atau lambat kamu akan tau sendiri."
"Maksudnya?"
Panggilan berakhir, membuat Alfredo merasa panas di bagian puncak kepalanya.
__ADS_1
"Apa sih yang perempuan mau?" Kesal Alfredo menghela kasar nafasnya