Om Duda Untuk Nona Kecil

Om Duda Untuk Nona Kecil
19. Sakit


__ADS_3


Rumah Sakit



Setelah kemarin seluruh keluarga berunding, akhirnya semua setuju untuk membawa sang nenek menuju rumah sakit kota.


Memang jaraknya tidaklah dekat, namun mau bagaimana lagi. Karena di kampung hanya ada puskesmas yang memang tak bisa menangani semuanya lebih lanjut.


Di rumah sakit sendiri semua juga bergiliran untuk berjaga, terlebih karena di rumah sakit sendiri tak di izinkan untuk semua keluarga menginap.


"Malam ini biar Airin saja yang menjaga Nenek, Tante," pinta Airin


"Jangan terlalu di paksakan, kamu dari kemarin masih belum ada istirahat, Airin." Jawab Om Raga


"Iya, Rin. Nanti malah kamu juga ikutan sakit bagaimana?" Sambung Tante Maya


"Tidak perlu khawatir, Om, Tante. Airin sendiri tidak masalah, lagian sudah lama juga Airin tidak bertemu dengan Nenek."


Mendengar jawaban itu Maya dan Raga hanya bisa saling menatap satu sama lain. Namun dirasa semuanya tidak masalah akhirnya keduanya setuju.


"Baiklah, jangan terlalu di paksakan." Jelas Oma Raga


"Iya Om."


"Besok kami akan kesini lagi, dan kalau ada apa-apa langsung hubungi kami saja. Dan Dafa, sebaiknya dia ikut kami saja." Ucap Maya


Airin tersenyum, ia berjongkok menatap Dafa sembari mengusap pelan puncak kepalanya.


"Kamu ikut sama, Om Tante, ya?"


"Iya kak," Dafa mengangguk


"Jangan nakal ya, dengerin kalau Tante ngomong, ok?" Airin tersenyum

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu ya, Rin?"


Airin tersenyum, ia mengangguk pelan kearah keduanya.


"Iya Tante, hati-hati."


Keduanya mengangguk, setelah itu melangkah pergi meninggalkan ruangan yang hanya menyisakan Airin dan Nenek berdua saja.


"Hah ... Cepat sembuh ya Nek..." Ucap Airin melangkah duduk di Kursi samping ranjang rumah sakit


Kling!


Suara pesan berbunyi, Airin menatapnya melihat darimana pesan itu berasal.


"Siapa?" Bingung Airin saat melihat pesan Wa masuk tanpa ada nama


'Kamu dimana?'


'Ini siapa?' balas Airin


Sementara itu di sebuah kamar luas, seorang pria nampak bimbing dengan sebuah pesan masuk dari ponselnya.


Hanya untuk membalas pesan saja otaknya sudah panas, terlebih gengsi tinggi juga terlihat dari wajahnya.


Kling!


'Ini siapa?'


Pesan masuk, melihatnya Alfredo nampak bingung bagaimana mau menjawabnya. Terlebih ia tadi saja sudah menahan malu karena meminta nomor Airin pada Bundanya.


"Em, aku harus jawab apa ini?"


Malu bercampur gengsi Alfredo rasakan, belakang lehernya pun terasa panas hanya untuk memikirkan balasan pesan apa yang akan ia kirim.


'Alfredo.'

__ADS_1


Pesan terkirim, dengan cepat centang menjadi biru membuat kekhawatiran Alfredo semakin menjadi-jadi.


'Mas Al?'


'Ada apa?'


"Oh ya, ngomong-ngomong aku kirim pesan ke dia untuk apa ya?"


'Kamu kemana? Bunga-bunga sedang tidak ada yang merawat, aku cuma mau tanya itu.'


Kling!


Pesan kembali terkirim


"Em ya, aku cuma mau nanya tentang bunga, tidak lebih!" Angguk Alfredo seperti orang gila


Beberapa menit berlalu, centang sudah membiru namun, balasan tak kunjung bertemu.


Alfredo sendiri sedari tadi nampak gelisah menatap layar ponselnya, sudah hampir setengah jam ia menunggu namun tak kunjung jemu.


"Apa dia tidur?"


Kling! Pesan masuk


'Maaf, Mas Al. Airin sedang di rumah sakit, jadi untuk sekarang tidak bisa. Waktu itu Airin sudah minta izin sama Buk Megan.'


"Rumah sakit? Apa dia sakit?"


Alis Alfredo mengkerut, otaknya semakin berpikir aneh tentang apa yang tengah terjadi, namun rasa penasaran juga begitu besar dalam benak Alfredo.


'Rumah sakit mana?'


Pesan terkirim


"Tunggu-tunggu, untuk apa aku bertanya tentang itu!"

__ADS_1


Dengan panik Alfredo hendak menghapus pesan tersebut, namu terlambat centang sudah berubah kembali menjadi biru.


__ADS_2