
Beberapa jam perjalanan yang melelahkan. Mobil akhirnya bergerak perlahan saat mulai memasuki sebuah pedesaan indah di hadapannya.
Sebuah desa sederhana, yang memiliki pertanian luas dan terbentang dari ujung ke ujung. Perlahan Airin yang merasakan angin menerpa wajahnya mulai terbangun.
Kepalanya bergerak pelan memandang luar jendela, melihat bagaimana indahnya desa ini dan sama seperti dulu. Tak ingin membangunkan Dafa dalam pelukannya, Airin hanya menatap diam sembari tersenyum kecil.
'Suasananya masih sama. Entah kenapa Airin jadi kangen sama Ayah, Ibu...' lirihnya dalam hati
"Rumahnya dimana Neng?" Tanya supir sembari bergerak pelan
"Lurus lagi Pak, nanti ada belokan ke kiri aja."
"Oh oke!"
"Nanti berhenti di rumah yang warna putih ya, Pak!" Balas Airin
Supir mengangguk paham. Dengan santainya ia mengendarai mobil, menuju seperti tempat yang Airin katakan sebelumnya.
"Rumah yang ini kan, Neng?" Tanya supir berhenti di sebuah rumah yang terlihat dengan nuansa jadulnya
"Iya, Pak. Terimakasih!" Jawab Airin
Supir mengangguk, ia segera bergegas keluar untuk mengeluarkan beberapa barang miliki, Airin di bagasi mobil.
"Ini, Pak.." serah Airin pada beberapa uang merah di tangannya
"Terimakasih, Neng.." angguk nya sembari mengambil uang tersebut
Mobil kembali pergi, sementara itu Airi hanya berdiri diam memandang sendu bangunan tua namun masih bagus di hadapannya.
"Kita sudah sampai, Kak?" Tanya Dafa sambil mengusap matanya
"Iya sudah, yuk! Kita masuk."
Dafa mengangguk, dengan pelan Airin menyeret koper besar di tangannya. Aroma pedesaan begitu kentara, dengan nuansa hutan yang lebat.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum..." Panggil Airin pelan
Beberapa menit masih belum ada jawaban, hingga akhirnya suara langkah terdengar cepat menuju arah keluar pintu untuk menyambut.
"Wallaikumsalam..."
__ADS_1
Krek!
Pintu terbuka, memperlihatkan raut cantik wanita tua di hadapan Airin. Membuat keduanya diam bisu sembari memandang satu sama lain.
"Airin..."
"Tante Maya..." Jawab Airin balas tersenyum
"Ya ampun, Nak!" Balas Maya sembari memeluk erat tubuh Airin di hadapannya
Begitu juga dengan Airin yang balik membalas pelukan itu. Matanya nampak berkaca-kaca setelah beberapa tahun keduanya tidak bertemu.
"Ini Dafa?" Ucap Maya memandang Dafa dan tersenyum
"Iya, Tante. Sudah besar kan si, Dafa?" Senyuman Airin mengusap kepala Dafa
"Halo, Tante..." Salam Dafa sembari mencium pelan punggung tangan wanita di hadapannya
"Ya Allah ... Dafa sudah besar kamu, Nak!" Senyumannya lagi memeluk tubuh kecil Dafa
"Nenek bagaimana, Tante?"
Maya melepaskan pelukannya, wajahnya nampak diam dengan mata berkaca-kaca. Sedih jika ia ingin mengatakan hal tersebut pada Airin.
"Ada di dalam, kamu masuk dulu ya..." Pintanya
"Mau minum dulu?" Tanya Maya
"Nanti saja, Tante. Airin mau melihat keadaan nenek terlebih dahulu."
Maya mengangguk dan menuntun Airin menuju sebuah kamar, dan dengan pelan membuka pintu di hadapannya sembari mempersilahkan masuk.
"Masuk aja..."
Airi masuk, langkahnya perlahan mendekat, menatap diam pada seorang wanita tua di hadapannya yang nampak terbaring diam tak berdaya.
"Nek..." Panggilnya pelan
"Nenek mu baru minum obat..." Jelas Maya
"Nek, ini Airin datang, sama Dafa Nek.." panggil Airin pelan
Wanita tua tersebut perlahan membuka matanya, saat sebuah kulit halus menyentuh pelan punggung tangannya dengan lembut.
__ADS_1
"Airin..." Jawabnya tak bertenaga
"Iya, ini Airin Nek..."
Butiran air mulai berjatuhan, membasahi wajah tua wanita tersebut. Rasa rindu akan seorang cucu memang tak bisa di sembunyikan lagi.
"Rin..." Panggilnya lirih
"Iya, Nek..." Jawab Airin memeluk erat wanita di hadapannya, dan tak lupa mencium berkali-kali punggung tangan wanita tersebut
"Sudah makan, Rin?" Tanya Nenek mengusap air matanya
Airin mengangguk pelan sambil menahan air mata di wajahnya, wanita tersebut masih sama, masih sering bertanya hal yang sama.
"Dafa, sini Dek.." panggil Airin memangku pelan
"Dafa ... Sudah besar ya..." Senyumannya mengusap pelan tangan Dafa
"Nenek kenapa?" Tanya Dafa dengan polosnya
"Nenek cuma capek ... Makanya nenek baring..." Jawabnya tersenyum lemas
"Besok Nenek rujuk kerumah sakit ya..." Ucap Airin lembut
"Tidak perlu, nenek belum separah itu Rin..."
"Jangan tunggu sampai parah, Nek. Lagipula Airin punya cukup uang." Balas Airin
"Kamu yakin, Rin?" Tanya Maya mendekat
Airin mengangguk pelan, ia tersenyum manis dan menjawab hanya dengan bahasa tubuhnya saja.
"Sebenarnya kami semua sudah mau merencanakan itu, Rin. Cuma masih tunggu waktu yang pas aja, masalah uang kamu mengerti?" Jelas Maya
"Airin, mengerti. Karena itu Airin juga mau bantu, dan semoga semuanya nanti cukup."
Mendengarnya Maya seketika tersenyum, ia tersenyum sekaligus tak enak karena harus meminta sang ponakan untuk membantu masalah ini.
"Maaf ya, seharusnya ini urusan orang dewasa seperti kami."
"Tidak perlu minta maaf, Tante. Justru memang hal seperti ini harus dilakukan. Terlebih kita juga keluarga, jadi tidak ada yang perlu minta maaf."
Lagi Maya tersenyum, ia tersenyum mendengar betapa gadis yang dulunya kecil ini sudah menjadi sangat dewasa seperti ini.
__ADS_1
"Terimakasih ... Nanti Tante kabarin Om Raga dulu, biar nanti kita kumpul buat membicarakan hal ini ya?"
"Iya, Tante.." balas Airin tersenyum