
Sky menyentuhkan keningnya di kening Ivy, mengecupnya, dengan miliknya yang masih berada di dalam inti milik Ivy.
“I love you,” sekali lagi Sky mencium bibir Ivy, kemudian melepaskan miliknya dengan perlahan.
“Terima kasih, Love. Mulai saat ini, kamu adalah milikku, seutuhnya. I love you,” bisik Sky di telinga Ivy.
Peluh membasahi tubuh mereka, memperlihatkan betapa panasnya pergulatan mereka. Padahal, kamar di penthouse mereka dilengkapi dengan pendingin khusus yang bisa menyesuaikan dengan udara di sekitar.
Sky berbaring tepat di sebelah Ivy, dan menyelimuti tubuh mereka berdua yang sama-sama polos. Ia kembali mengecup pipi istrinya itu, “terima kasih karena kamu telah menjaga mahkotamu untuk suamimu ini, Love.”
Ivy yang merasa kelelahan pun menatap ke arah Sky. Ia masih merasa malu bila mengingat apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Sky, yang akhirnya memeluk Ivy dengan erat.
Mereka terlelap hingga pagi karena mereka benar-benar kelelahan akibat acara pernikahan mereka dan juga pergulatan panas mereka barusan.
**
“Aku pulang, Mom,” sapa Bella saat ia telah sampai di rumah.
Rumah Keluarga Lincoln berada di pemukiman padat penduduk, yang juga padat akan tindak kejahatan. Dulu, mereka tidak tinggal di sana, namun karena masalah kesehatan Dad Kevin yang semakin lama semakin memburuk, mereka terpaksa menjual rumah mereka dan menyewa rumah di tempat itu.
“Kamu sudah makan malam, sayang?” tanya Mom Agnes.
“Sudah, Mom. Aku tadi makan di acara. Simpan saja makanan itu, besok aku akan membawanya bekerja,” ujar Bella yang tak pernah membuang-buang makanan. Ia sangat tahu betapa berharganya makanan yang mereka miliki.
Bella pun langsung masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia mengambil pakaian dan bergegas membersihkan diri. Ia melewati pintu kamar tidur adik laki-lakinya dan tersenyum saat mengintip di celah pintu yang tak tertutup rapat.
“Kak!” panggil Flint saat ia menyadari bahwa Bella berdiri di depan pintu.
Bella pun membuka pintu dan tersenyum, “Bagaimana skripsimu?”
“Aku sudah memasukkan proposal awal dan sepertinya dosen suka akan materi yang kupilih.”
__ADS_1
“Baiklah, kakak mandi dulu. Oya, kakak akan segera mentransfer uang untuk pembayaran sidang skripsimu.”
“Terima kasih, Kak. Setelah aku lulus, aku berjanji akan segera bekerja dan mengembalikan semua uang kakak,” ujar Flint.
“Tak perlu Flint. Bahagiakanlah Dad dan Mom, kakak akan sangat bahagia,” kata Bella yang kemudian tersenyum. Ia pun keluar dari kamar tidur Flint dan menuju ke kamar mandi yang memang berada di luar kamar tidur mereka.
Ya, bagi Bella, membahagiakan kedua orang tuanya adalah tujuan hidupnya. Ia tak percaya dengan yang dinamakan dengan cinta antara pria dan wanita, meskipun ia selalu menjadi MC dalam acara pernikahan.
**
“Se, dengan ini gue serahin RB Coorp sementara sama lo,” kata Sky sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Sean yang masih merasa kelelahan karena jam tidurnya belum lunas terbayarkan, hanya bisa mencebik kesal. Tapi ia terus mengelus dadanya dan bertahan, karena sepulangnya Sky dari honeymoon, maka giliran dirinya-lah yang akan pergi untuk bersenang-senang.
“Jangan terlalu lama! Lo cuma pesen tiket one way, nggak jelas pulangnya kapan,” gerutu Sean.
“Kalau lo bisa meng-handle semuanya, gue pasti akan semakin lama berada di sana. Gue yakin lo bisa dan lo nggak akan mungkin menghancurkan RB Coorp.”
“Gue pecat lo nanti.”
“Nggak apa-apa lha, gue cape banget lagian. Kayaknya gue butuh istirahat, setelah itu baru gue cari kerja lagi,” kata Sean yang membuat Sky kembali berpikir karena perkataan sahabatnya itu terdengar begitu serius.
“Lo serius?” tanya Sky.
“Hmm …,” Sean pun meninggalkan Sky yang memandangnya dengan tatapan aneh. Sikap Sean tak seperti biasanya. Namun Sky berusaha menepis pikiran negatifnya karena ia tak ingin hal itu mempengaruhi acara honeymoonnya dengan Ivy.
**
“Hi Flo!” sapa Bella. Sehari-hari, Bella bekerja di sebuah agent, yang menjual dan menyewakan property, dari mulai rumah, apartemen, toko, hingga perkantoran.
Flora yang memiliki agent property di Kota California, membuka cabang di Kota New York. Ia melihat bahwa Kota New York juga memiliki peluang yang luar biasa. Selain itu, ia juga bertemu dengan Bella, kakak kelasnya di Sekolah Menengah Atas, namun satu tingkat dengannya saat kuliah.
__ADS_1
Flora mempercayakan agent property miliknya yang berada di Kota New York pada sahabatnya Rey. Bella pun yang mengenal keduanya diajak belerja di sana.
“Hi Bel!” Hari ini adalah Hari Minggu, namun Bella tetap masuk kerja karena justru di hari Sabtu dan Minggu, pembeli dan penyewa lebih banyak datang. Flora yang akan kembali ke Kota California, sengaja datang pagi-pagi karena ingin bertemu dengan Rey dan juga Bella.
“Tumben kamu sudah ada di sini, Flo?” tanya Bella dengan heran. Sekai lagi ia melihat ke arah jam di pergelangan tangannya dan memastikan bahwa ia tak salah melihat waktu.
“Hmm … aku akan kembali ke California. Jadi sebelum itu aku ingin berbicara dengan Rey. Tapi sebaiknya kamu juga ikut saja Bel.”
“Baiklah, aku ke mejaku dulu,” Bella pun berjalan ke arah meja kerjanya untuk meletakkan tas miliknya. Ia mengambil sebuah buku catatan dan map yang berisi laporan mengenai property yang mereka pasarkan saat ini.
“Ke mana Rey? Ia sudah berjanji akan datang pagi hari ini,” ujar Flora.
“Mungkin Uncle sedang membutuhkan perhatiannya. Kamu bisa membicarakannya denganku dulu dan setelahnya akan kusampaikan pada Rey,” kata Bella.
Flora dan Bella tahu mengenai kesehatan Uncle Harlan yang menurun sejak kebangkrutan perusahaan mereka. Namun kini kesehatan Uncle Harlan sudah mulai membaik meskipun masih memerlukan banyak perhatian dari Rey.
Flora dan Bella duduk berhadapan dengan beberapa berkas di depan mereka. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dan tempat itu memang baru akan buka pada pukul 9.
Ketika Flora baru akan memulai berbicara pada Bella, pintu kantor terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang memakai setelan jas lengkap serta sebuah buket bunga di tangannya. Senyumnya begitu tampan yang membuat setiap wanita akan langsung jatuh hati.
Flora dan Bella melihat ke arah pria itu, “Rey?!”
“Flo, bisakah kamu jangan pergi?” tanya Rey berjalan menghampiri. Ia langsung berlutut di hadapan Flora dan menyerahkan buket bunga yang ia bawa.
Rey mulai menyukai Flora saat mereka mulai bekerja bersama. Rasa cinta itu juga dirasakan oleh Flora, namun ia tak berani mengungkapkannya karena takut kalau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Bella yang melihat hal itu, langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam semuanya. Ia hanya bisa tersenyum kecil melihat momen itu.
Semoga kalian selalu berbahagia. - itulah doa yang selalu diucapkan oleh Bella saat melihat pria dan wanita bersama-sama, sementara dirinya sendiri menutup rapat-rapat hatinya.
🌹🌹🌹
__ADS_1