ONLY LOVE

ONLY LOVE
#88 (Gil - Sera)


__ADS_3

“Psikosomatis?”


“Sepertinya pasien mengalami stres berat, namun ia tak pernah bisa menunjukkannya. Ia selalu memendamnya sendiri, sedikit demi sedikit. Ntah karena keadaan atau karena tuntutan. Yang pasti, itu mempengaruhi pasien hingga mempengaruhi sarafnya.”


Keluarga Gil tentu saja kaget. Sean yang mendengarnya pun seakan tak percaya. Gil adalah sahabatnya yang paling ceria, hingga hampir tak pernah terlihat kesedihan di wajahnya. Tapi, tadi dokter mengatakan kalau sahabatnya itu mengalami penyakit Psikosomatis?


“Apa yang harus kami lakukan, Dok?” tanya Mom Gemma.


“Pasien sepertinya membutuhkan tempat bercerita. Saat ini ia sangat memerlukan dukungan yang besar dari orang-orang di sekitarnya,” jelas sang dokter.


“Baiklah, Dok. Kami mengerti.”


Setelah dokter pergi dan Gil dipindahkan ke ruang rawat biasa, Mom Gemma langsung menghampirinya dan menggenggam tangan putranya itu.


“Sayang, apa yang sebenarnya kamu simpan? Mengapa kamu tidak menceritakannya pada Mommy?”


Sera yang masih berada di rumah sakit bersama putranya Gerald dan Mom Olivia, merasa tak tega untuk meninggalkan Mom Gemma, apalagi dalam keadaan seperti ini.


“Mom, aku mengantuk,” kata Gerald sambil mengusap matanya.


Mom Gemma menoleh ke arah sahabatnya Olivia, “pulanglah lebih dulu ke rumah. Istirahatlah. Supirku sudah ada di luar menunggu kalian.”


“Aku akan menemanimu di sini, Gem,” kata Mom Olivia.


“Tidak perlu, Liv. Istirahatlah dulu. Kalian baru bertemu dan pasti perlu banyak bicara. Pulanglah, aku tidak apa.”


Setelah Mom Gemma terus memaksa, akhirnya Mom Olivia, Sera, dan Gerald pulang ke kediaman Keluarga Anderson. Sementara Sean mengurus semua administrasi untuk Gil. Ia pun kembali ke kamar rawat Gil setelah menyelesaikan semuanya.


“Aunty.”


“Se, terima kasih sudah membantu Aunty.”


“Tidak perlu berterima kasih, Aunty. Gil sudah banyak membantuku.”


“Se, apa Gil pernah bercerita sesuatu padamu?” tanya Mom Gemma.

__ADS_1


“Tidak, Aunty,” jawab Sean sambil menggelengkan kepalanya. Sahabatanya yang satu ini benar-benar pandai menyembunyikan semua masalahnya seorang diri hingga tak ada satupun yang menyadarinya.


“Aunty bingung. Aunty tidak tahu apa yang ia alami, padahal ia adalah putra Aunty sendiri. Aunty sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuknya, hingga ia tak bisa menceritakan masalahnya pada Aunty,” Mom Gemma menangis, membuat Sean pun merasa gagal sebagai seorang sahabat.


**


1 minggu berlalu, Sky, Daniel, dan juga Sean bergantian berjaga di sana menemani Gil. Namun, tak ada tanda-tanda Gil akan sadar dari tidurnya.


“Lo masih betah tidur, bro? Lo nggak kangen sama kita di sini?” Hari ini ketiga sahabatnya berdiri di samping tempat tidur Gil. Sahabat mereka yang biasanya ceria kini hanya terbaring dalam diam.


“Lo tuh sebenernya kenapa sih, Gil? Bangun! Jangan cuma tidur aja! Apa lo kira dengan tidur semuanya bisa selesai? Kalau lo ada masalah, selesein, jangan dipendam sendiri!” teriak Sky.


Bersamaan dengan perkataan Sky, Sera dan Gerald masuk ke dalam ruangan. Hari ini ia menggantikan Mom Gemma yang sepertinya sangat lelah menjaga Gil. Mom Olivia sendiri tak ikut dengan Sera karena ia ingin menemani sahabatnya itu.


“Ah Sera, kamu datang,” kata Sean.


“Hmm … Aunty Gemma sedang beristirahat dan aku yang menggantikannya.”


“Kalau begitu kita titip dia dulu ya. Kita mau cari makan dulu biar bisa teriak-teriak lagi buat bangunin dia,” kata Sean sambil menghela nafas kasar.


“Apa kamu masih belum mau bangun, Kak?” tanya Sera.


“Aku akan memaafkanmu jika kamu bangun dan mengakui semuanya di depan Mom dan Aunty. Ataukah kakak lebih suka memendam itu selamanya?” Kata Sera lagi. Namun, tetap tak ada reaksi dari Gil.


“Aku punya sebuah rahasia dan tak ada yang tahu kecuali diriku. Apa kakak ingin tahu? Aku bukanlah Sera si gadis polos. Saat kakak pertama kali melihatku bersama teman priaku dulu, sebenarnya aku tak ada hubungan apapun dengannya. Aku hanya mendekatinya untuk melihat bagaimana perasaan kakak padaku.


Saat kakak mengajarkan padaku caranya berciuman, sungguh aku sangat menyukainya. Bahkan ketika kakak mengajarkan hal yang lebih dari itu … bukan kan karena aku tak mengerti, tapi karena aku juga menginginkannya. Tanpa kusadari aku sudah mencintaimu sejak pertama aku melihat Kakak. Aku tak ingin kecewa jika perasaan kakak tak sama. Namun, aku rela melepaskan kehormatanku untuk pria yang kucintai, cinta pertamaku.


Kak, Apa kakak tidak ingin bertemu dengan Gerald? Kamu tak ingin memeluknya? Dia adalah anakmu, putra kita. Bangunlah. Aku mencintaimu, Kak. Aku bersembunyi dan tak menemuimu karena aku takut … takut kalau kamu tak akan menerima kehadiran Gerald dan tak mencintaiku.”


“Mom … jangan menangis,” Gerald memeluk Sera dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Mommynya itu.


Sera memeluk Gerald, “Maafkan Mommy, sayang. Maafkan Mommy.”


“Mom …”

__ADS_1


“Sayang, dia … dia adalah Daddy.”


“Daddy?” Gerald menoleh bergantian ke arah Sera dan juga Gil. Sera menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Daddy!” Wajah Gerald terlihat bahagia ketika ia bisa melihat Daddy yang hanya miliknya. Namun, senyumnya mulai sirna ketika tak ada tanggapan apapun dari Gil.


“Daddy sedang tertidur saat ini. Apa kamu mau membangunkannya?” tanya Sera.


“Ge mau, Mom!” jawab Gerald dengan antusias.


Sera mendudukkan Gerald di samping Gil, “panggil Daddy.”


“Daddy … Daddy … ini Gerald, Daddy,” Gerald bertepuk tangan dengan antusias. Kemudian ia langsung mencium pipi Gil.


Layar monitor mulai menunjukkan reaksi dan suara detak jantung Gil mulai tak beraturan. Sera yang kaget, langsung menekan tombol panggilan. Ia pun langsung memindahkan Gerald dari samping Gil.


Tak lama dokter dan perawat masuk dan mulai memeriksa kondisi Gil. Jari-jemari Gil memang terlihat mulai bergerak, membuat dokter dan perawat pun tersenyum.


Sera terus memegang Gerald yang masih memeluk dirinya. Putranya juga agak sedikit kaget dengan kondisi itu. Namun untung saja Sera bisa menenangkannya.


Kedua mata Gil mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Ia seperti baru pergi ke alam mimpi dan baru kembali ke dunia nyata. Ia kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


“Sera,” kata Gil dengan suara sedikit serak dan pelan.


Dokter dan perawat pun akhirnya meninggalkan ruangan setelah melihat dan memeriksa keadaan Gil.


“Ia sudah sadar,” kata seorang dokter sebelum meninggalkan ruangan.


“Sera,” kata Gil sekali lagi, berharap ia masih bisa melihat gadis kecilnya.


Dengan perlahan, Sera pun menghampiri Gil, “Kak.”


Gil tersenyum kecil dan bernafas lega karena ia tak bermimpi. Satu kalimat kembali terucap ketika melihat wajah Sera, “Maafkan aku.”


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2