ONLY LOVE

ONLY LOVE
#80 (Sean - Bella)


__ADS_3

“Kamu sudah kembali, sayang,” Mom Agnes menyambut kepulangan Bella. Ia tak terbiasa berpisah terlalu lama dengan Bella.


“Maafkan aku, Mom. Pekerjaanku sedang banyak dan aku harus pergi ke sana,” Bella terpaksa berbohong agar Mom Agnes tidak kuatir mengenai dirinya.


Sean yang baru saja masuk sambil membawa tas milik Bella pun meletakkannya di ruang tamu.


“Terima kasih ya, Sean,” kata Mom Agnes.


“Iya, Aunty.”


Bella mengantarkan Sean ke depan pintu setelah mereka makan malam bersama. Sean memutar tubuhnya melihat ke arah Bella.


“Masuklah, udara sangat dingin.”


“Hmm.”


Bella pun masuk ke dalam rumah dan melihat kepergian Sean dari jendela. Ia tak pernah menyangka bahwa hubungannya dengan Sean bisa sampai dekat seperti ini. Pria itu bahkan menepati kata-katanya yang ia ucapkan pada Mom Agnes, yakni untuk selalu menjaganya.


Apa aku sudah mulai mencintaimu lagi, Sean Elio Walker? - batin Bella.


**


Sebelum pulang ke rumah, Sean menyempatkan diri untuk menemui sahabatnya, Gil. Setelah Gil menyuruh seseorang mengantarkan mobil, sahabatnya itu sangat sulit untuk dihubungi.


Sean sampai di depan sebuah rumah besar, milik keluarga Anderson. Pintu pagar dalam keadaan tertutup, hingga Sean keluar dari mobil dan menghampiri pos keamanan yang ada di sebelah pagar.


“Tuan Sean,” sapa Danny sang security.


“Dan, ke mana Gil?” tanya Sean.


“Tuan sedang pergi bersama Nyonya Gemma.”


“Ouuu … baiklah kalau begitu. Thank you Dan,” pamit Sean.


Sean masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia melihat ke arah kediaman keluarga Anderson sekali lagi. Tidak biasanya Gil pergi tanpa mengatakan pada sahabat-sahabatnya.


Akhirnya Sean pun mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya sendiri. Mom Vera pasti sudah menunggunya karena ia sudah berjanji akan pulang hari ini.

__ADS_1


**


Cuaca dingin yang menyelimuti Kota New York, membuat semua lebih senang berdiam di dalam ruangan yang hangat. Perayaan Natal yang biasa ada di penghujung tahun dan diikuti dengan perayaan tahun baru, menjadi alasan bagi mereka untuk menghabiskan waktu di rumah dan bercengkerama bersama.


Banyak perusahaan yang sudah meliburkan para pegawainya, tak terkecuali RB Coorp. Sean kini bisa menikmati libur akhir tahun tanpa diganggu oleh Sky yang berteriak ini dan itu karena sahabatnya itu kini tengah sibuk merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama Ivy dan calon buah hati mereka.


Meskipun salju turun dan cuaca sangat dingin, Sean tetap berkunjung ke kediaman keluarga Lincoln untuk membawa Bella keluar. Ia selalu membawa Bella untuk memeriksakan kesehatannya dan juga menemui psikiater, tanpa diketahui oleh keluarga Lincoln.


“Terima kasih, Se. Kamu selalu menutupi semuanya dari Dad dan Mom.”


Sean tersenyum, “aku akan melakukan apapun agar kamu tetap bahagia dan tak mengkuatirkan keluargamu.


“Sekali lagi terima kasih, Se,” Bella memeluk Sean dan membuat jantung Sean berdetak sangat cepat. Bella tersenyum ketika mendengar detak jantung Sean yang cepat dan seperti tak beraturan.


“Kamu menertawakanku?” tanya Sean menggoda Bella.


“Aku tidak menertawakanmu. Aku bahagia bersamamu.”


Sean mengeratkan pelukannya pada Bella. Ia mengajak Bella ke salah satu restoran setelah mereka selesai menemui seorang psikiater.


“Bagaimana rasanya setelah menemui dokter tadi?” tanya Sean.


“Aku berjanji akan selalu ada untukmu dan tak akan meninggalkanmu. Aku menyayangimu, aku mencintaimu,” Sean memegang tangan Bella yang berada di atas meja.


Dengan sebelah tangan ia merogoh sakunya, kemudian membukanya dengan jari. Ia memperlihatkan isi kotak itu pada Bella dengan sebelah tangan tetap menggenggam tangan Bella.


“Will you marry me?” tanya Sean dengan tatapan yang sangat serius namun lembut.


Tak ada lagi keraguan di dalam diri Bella pada Sean. Beberapa bulan belakangan ini, ia telah melihat ketulusan Sean padanya, bahkan mau menerima dirinya apa adanya. Sean juga sangat menyayangi keluarganya, itulah nilai lebih dari Sean yang dilihat oleh Bella.


Tanpa paksaan dari siapapun, Bella pun menganggukkan kepalanya, membuat senyuman tercipta di wajah Sean. Tanpa banyak bicara, Sean memasangkan cincin di jari manis Bella yang terlihat begitu indah.


**


Dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, Bella terlihat begitu cantik dan anggun. Ia kini berada di ruang rias sambil menunggu kedatangan Sean.


Mereka akan melakukan pengucapan janji pernikahan di sebuah gereja dan mengadakan respsi yang sederhana. Bukan Sean yang tak mau repot karena pusingnya mengurus resepsi besar, namun itu semua karena permintaan Bella.

__ADS_1


Bagi Bella yang tak terlalu memiliki banyak kenalan, pesta besar tak akan berguna. Itu hanya akan membuang uang. Akan lebih baik jika uang itu mereka kumpulkan dan mereka gunakan untuk kehidupan mereka setelah menikah dan untuk membahagiakan orang tua mereka.


“Kamu cantik sekali, Bel,” puji Flo yang kini berada di samping Bella, di dalam ruang rias.


“Terima kasih, Flo,” Bella tersenyum saat melihat penampilannya di cermin.


Mom Agnes dan Dad Kevin menghampirinya dan memeluknya, “Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu, sayang.”


“Kalian berdua juga adalah sumber kebahagiaanku,” Bella membalas pelukan kedua orang tuanya.


Di luar, para tamu telah berkumpul dan mengisi kursi-kursi kosong yang telah dihiasi bunga. Minggu pertama Musim semi dipilih oleh Sean dan Bella sebagai hari pernikahan mereka.


Mereka berdua menganggap bahwa hubungan mereka layaknya musim semi setelah musim dingin yang terasa begitu panjang. Bunga-bunga mulai bermekaran, seperti cinta di antara mereka berdua.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi yang artinya acara pengucapan janji pernikahan mereka akan segera dimulai. Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran Sean. Bella mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubunginya, namun tak tersambung.


“Tenanglah, sayang. Mungkin Sean sedang terjebak macet dan ponselnya kehabisan daya,” Mom Agnes berusaha untuk berpikiran positif karena ia percaya bahwa Sean tak akan menyakiti putrinya.


Sementara itu di luar,


“Mana Sean?” tanya Sky yang tidak melihat keberadaan sahabatnya itu.


“Gue juga nggak tahu,” jawab Daniel.


“Coba lo telepon,” usul Daniel yang sedang menggendong Allen.


Sky mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencoba menghubungi Sean, namun sama sekali tak tersambung.


“Tidak bisa,” kata Sky.


“Bagaimana bisa ia belum hadir, padahal acaranya akan dimulai 5 menit lagi,” Daniel yang tengah menggendong Allen terlihat gusar. Pasalnya jika sampai Sean tidak datang, maka hal itu akan menyakiti Bella sekali lagi dan Daniel tak ingin hal itu terjadi.


“Gil!” teriak mereka berdua.


Sky pun kembali mencoba menghubungi Gil. Satu kali, dua kali, panggilan Sky sama sekali tidak diangkat. Sky hanya bisa menggelengkan kepalanya pada Daniel.


Baru saja Sky ingin mencoba menghubungi Gil sekali lagi, ia melihat sahabatnya itu tengah berlari menghampiri mereka dengan wajah yang panik dan sedikit pucat.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2