
“Gue balik dulu,” ujar Sean pada Sky setelah memberikan sekantong buah strawberry yang ia beli di supermarket.
“Thank you, Se.”
“Oya, tadi gue ketemu Leon. Dia ngasih ini,” Sean memberikan sebuan undangan pada Sky.
“Reuni?” Kata Sky saat melihat isi dalam undangan tersebut.
“Hmm …, kita bisa pergi bersama-sama kalau lo mau.”
“Ya, nanti gue pikirin. Gue nggak tahu bisa ninggalin Ivy atau nggak.”
“Cuma semalam doang itu, Sky. Ya ampun!! Bucinnya tingkat dewa,” kata Sean.
“Ishhh, jangan sampai lo nanti lebih bucin dari gue. Gue ledekin sampai puas nanti,” gerutu Sky sambil menggoda Sean.
Sean pun pergi dari ruangan Sky, kemudian melajukan kendaraannya menuju ke rumah Bella. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika ia sampai persis di depan tempat tinggal keluarga Lincoln.
Sean mengetuk pintu rumah tersebut dan seorang pria muda membukakannya, “Selamat malam.”
“Malam, bisakah saya bertemu dengan Nyonya Lincoln?”
“Anda? Ada perlu apa ya?”
“Sean?!” Bella yang melihat Flint berada di pintu masuk cukup lama pun akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri adiknya itu.
Sean tersenyum sambil melihat ke arah Bella, sementara Bella menjadi aalah tingkah karena tak pernah ada pria yang mendatanginya di rumah.
“Masuklah Flint,” kata Bella, namun ia belum mempersilakan Sean untuk masuk.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Bella pada Sean dengan setengah berbisik.
“Aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa kamu sedang memiliki hubungan denganku,” kata Sean sambil tersenyum.
“Tapi bukankah aku mengatakan aku akan mencoba? Itu bukan berarti kamu adalah kekasihku,” kata Bella.
“Mungkin bagimu, aku bukanlah kekasihmu. Tapi tidak demikian bagiku. Biarkan aku melakukan ini. Aku juga tak ingin kedua orang tuamu kuatir jika suatu saat aku mengajakmu keluar. Aku ingin mereka percaya padaku,” ucap Sean dengan serius.
Seserius itukah dirimu padaku? Sementara hatiku ini masih belum bisa terlalu dalam padamu. - batin Bella.
__ADS_1
“Percayalah, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya tidak ingin kedua orang tuamu kuatir,” Bella akhirnya mengijinkan Sean untuk masuk dan bertemu dengan Mom Agnes.
“Selamat malam, Aunty,” sapa Sean.
“Selamat malam,” Mom Agnes menyambut kedatangan Sean dengan senyum. Ia turut bahagia jika Bella telah bisa membuka hatinya untuk seorang pria. Ia juga ingin putrinya itu berbahagia dengan seseorang, tidak hanya memikirkan kebahagiaan keluarganya. Bukankah kebahagiaan itu harus dimulai dari dalam diri sendiri terlebih dahulu?
Sean menjelaskan maksud kedatangannya. Ia menjelaskan bahwa saat ini, mereka berdua sedang mencoba untuk menjalin hubungan dan mengenal satu sama lain lebih dekat.
Mom Agnes sangat senang dengan kepribadian Sean yang sangat menghargai dirinya sebagai orang tua Bella. Ia pun mengerti dan mengijinkan Sean jika ingin mengajak putrinya keluar.
“Terima kasih, Aunty,” kata Sean.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Sean pun berinisiatif undur diri. Bella mengantarkan Sean hingga ke depan pintu.
“Terima kasih sudah mengijinkanku bertemu dengan Mommy-mu. Oya, ini ada undangan dari Leon. Ia mengadakan reuni. Datanglah bersamaku,” kata Sean.
“Aku akan melihat jadwal kerjaku dulu,” kata Bella.
“Aku akan mengatakannya pada Rey dan Flo. Mereka pasti akan mengijinkanmu cuti.”
“Tidak perlu, biar aku saja yang mengatakan pada mereka.”
“Baiklah.”
Sean pun pergi dari rumah Bella dan kembali ke kediamannya sendiri.
**
Beberapa kali Sean telah mengajak Bella untuk keluar, baik itu untuk nonton, makan malam bersama, atau sekedar berjalan keliling kota. Namun, sikap Bella masih sama, sedikit acuh dan dingin.
Hari ini, mereka akan berangkat bersama menuju cottage milik Leon. Daniel dan Sky tidak dapat hadir di sana karena Daniel harus menemani Vinnie untuk menjaga putra mereka, begitu pula dengan Sky yang baru mengetahui bahwa Ivy sedang mengandung buah cinta mereka.
Jadi, Sean berangkat bersama dengan Gil dan juga Bella. Sean telah menceritakan pada Gil, semua yang terjadi antara dirinya dan Bella. Gil juga meminta maaf pada Bella karena dirinya dulu sempat memperlakukan Bella dengan tidak baik.
Gil duduk di kursi depan bersama dengan Sean yang mengemudi, sementara Bella duduk di kursi belakang. Cuaca agak sedikit dingin karena memang iklim sudah memasuki musim dingin. Bella membekali dirinya sendiri dengan sweater dan jaket tebal.
Mereka sampai di cottage sekitar jam 3 sore. Mereka langsung masuk ke dalam cottage dan menemui Leon.
“Se, Gil!” sapa Leon.
__ADS_1
“Hi Bel!” sapa Leon juga pada Bella.
“Hi Leon.”
“Ayo masuk, beberapa teman sudah datang,” kata Leon.
Mereka masuk ke dalam cottage yang terlihat sangat hangat karena hampir keseluruhan dinding dilapisi dengan kayu.
“Sean! Gil!” Beberapa wanita menyapa keduanya. Mereka sebenarnya berharap Sky dan Daniel juga turut hadir, karena keempat pria itu adalah idola mereka.
Bella hanya duduk diam menyaksikan Sean dan Gil dikelilingi oleh para wanita. Sean melihat ke arah Bella yang diam, ia pun segera menjauh dan mendekati Bella. Sedangkan Gil masih berada di antara para wanita.
“Kamu mau minum atau makan sesuatu?” tanya Sean.
“Tidak. Aku akan mengambilnya sendiri jika menginginkannya. Terima kasih. Kembalilah ke sana,” kata Bella.
“Aku akan menemanimu di sini,” kata Sean.
Sepasang mata melihat ke arah keduanya dan menampakkan wajah tak suka.
Malam semakin datang dan udara semakin dingin. Teman-teman seangkatan mereka sudah mulai berdatangan dan suasana semakin ramai. Sean dengan setia menemani Bella, meskipun Gil dan Leon serta teman-teman yang lain mengajaknya mengobrol di luar.
“Se, bergabunglah dengan mereka. Biarkan Bella bersama dengan kami. Mengapa kamu menjaganya terus menerus seperti itu?” ujar Rosa.
“Pergilah Se, aku akan bersama dengan Rosa,” kata Bella. Ia juga merasa tak enak hati karena Sean terus berada di sisinya, sementara teman-teman pria yang lain bercengkerama bersama.
“Baiklah. Ros, aku titip Bella padamu. Jaga dia,” kata Sean.
Sean pun akhirnya meninggalkan Bella bersama Rosa dan beberapa teman wanita lainnya. Mereka pun mengajak Bella untuk duduk di dekat perapian yang memberikan rasa hangat bagi mereka.
“Temani aku ke belakang, yuk,” kata Rosa pada salah seorang temannya.
“Ahh, kamu saja. Aku sudah nyaman sekali di sini,” Rosa mengajak beberapa teman, tapi tak ada seorang pun dari mereka yang mau menemaninya.
“Pergilah sendiri, Ros. Kamu itu sudah besar, bukan anak kecil lagi yang harus ditemani.”
“Kalian menyebalkan!” kata Rosa.
“Bel, temani aku ya,” pinta Rosa akhirnya pada Bella. Bella yang sudah melihat teman-teman mereka menolak permintaan Rosa pun akhirnya tak tega. Ia pun akhirnya menemani Rosa.
__ADS_1
🌹🌹🌹