
Malam harinya, tanpa mempedulikan sakit di siku tangannya, ia kembali ke resort di mana Bella menginap. Namun, ia tak mendapati wanita itu lagi di sana. Suasana resort begitu sepi dan hanya menyisakan mobil yang ia parkir di depan kamar resort yang ditempati oleh Bella.
“Tidak, tidak!” Sean berusaha membuka pintu kamar resort itu dan ternyata sudah terkunci. Ia pun berlari menuju ke bagian resepsionis utama untuk memeriksa.
“Tamu di kamar 102?” tanya Sean.
“Sebentar saya cek,” staf resepsionis memeriksa daftar tamu di komputernya, “Tamu kamar 102 sudah check-out tadi pagi.”
“Coba periksa lagi,” kata Sean.
“Sudah kami periksa, Tuan. Tamu kamar 102 atas nama Farabella Lincoln sudah check-out sekitar pukul 10 pagi tadi.”
“Arghhh!!” teriak Sean.
Pada akhirnya ia pun kembali ke hotel dengan mengendarai mobil yang awalnya ia tinggalkan di resort. Mom Vera yang melihat wajah Sean yang sendu pun bertanya.
“Ada apa, Se?” tanya Mom Vera.
“Dia pergi, Mom. Dia kembali ke New York.”
Mom Vera tersenyum dan duduk di samping Sean, “Dia hanya kembali ke tempat tinggalnya, sayang. Kamu bisa menemuinya di sana. Kita kembali saja.”
“Tapi aku ingin mengajakmu berlibur,” kata Sean.
“Kita bisa berlibur lagi lain kali. Mom tidak ingin kamu kehilangan seseorang yang kamu cintai. Tunjukkan padanya keseriusanmu dan ketulusanmu, hmm.”
“Mom … “
Sean tak langsung kembali ke Kota New York. Ia tetap melanjutkan liburannya bersama Mom Vera. Ia hanya berlibur selama 1 minggu saja karena selain ia ingin segera bertemu dengan Bella, Mom Vera juga sudah ingin kembali mengurus toko kue-nya.
Ia tak ingin kehilangan kesempatan juga untuk berlibur dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Mom Vera. Jarang sekali ia bisa melakukan ini dan ia tak mau menyia-nyiakannya. Ia bisa mengejar Bella saat ia kembali nanti ke Kota new York.
**
Bella sudah kembali bekerja keesokan harinya, setelah ia kembali. Ia selalu menghargai waktu dan tak ingin hanya diam dan bermalas-malasan di rumah.
__ADS_1
“Bawalah bekal ini, sayang,” kata Mom Agnes.
Jika ada waktu, Mom Agnes selalu membawakan putra dan putrinya bekal. Sebisa mungkin ia meminimalisir mereka untuk jajan di luar karena menurutnya lebih sehat dan bersih jika membawa makanan dari rumah.
“Okay, Mom. Oya Mom, aku akan pulang terlambat hari ini karena aku harus bertemu dengan klien yang ingin melihat-lihat apartemen terlebih dahulu,” kata Bella.
“Baiklah, hati-hati saat pulang nanti,” pesan Mom Agnes.
“Pasti, Mom,” Bella mencium pipi Mom Agnes sebelum ia berangkat.
Minggu depan, Dad Kevin harus melakukan terapi pada kedua kakinya. Untuk itu, Bella memerlukan uang. Untuk itulah ia sedikit melanggar prinsipny sendiri yang biasanya tak ingin bekerja melewati jam kantor.
Klien kali ini akan membeli sebuah apartemen dan komisi yang akan ia dapatkan akan lumayan besar. Klien ini baru bisa bertemu setelah ia pulang bekerja, karena itulah Bella akhirnya menyetujui.
Hari berjalan begitu cepat bagi Bella, rasanya ia baru saja berangkat, tapi kini sudah jam pulang kantor. Ia berjanji untuk langsung bertemu di lokasi agar menghemat waktu. Ia menunggu di lobby setelah memarkirkan motornya di area parkir apartemen.
Bella melihat ke arah jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam, padahal mereka janjian jam 6. Itu artinya klien sudah terlambat setengah jam. Bella merasa sedikit gelisah karena kalau penjualan kali ini gagal atau batal, maka hilang kesempatannya untuk mendapatkan komisi yang akan ia gunakan untuk biaya pengobatan Dad Kevin.
“Ma-maaf, kamu sudah menunggu lama?”
Bella langsung mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang ada di hadapannya, karena jujur ia sangat mengenali suara itu.
“Tentu saja untuk bertemu denganmu. Bukankah kita sudah janjian untuk bertemu?”
“Jangan katakan kalau ternyata kamu yang menghubungiku ingin membeli sebuah apartemen,” Bella mulai menebak dan ia sebenarnya berharap pemikirannya salah.
“Ya, aku yang menghubungimu,” jawab Sean.
“Apa kamu sengaja melakukan ini?” tanya Bella yang merasa telah dibohongi.
“Aku memang menghubungimu untuk bertemu denganmu, tapi … aku juga tidak berbohong bahwa aku ingin membeli sebuah apartemen,” jawab Sean.
Bella akhirnya mengajak Sean untuk naik ke lantai 10 untuk melihat sebuah apartemen. Ia sebenarnya membawa beberapa unit dan akan menunjukkan semuanya. Namun, melihat siapa yang membeli, ia pun mengambil keputusan untuk memilih yang menurut dirinya paling bagus. Hal itu ia lakukan agar pertemuannya dengan Sean bisa segera selesai.
“Ini adalah salah satu unit terbaik dengan kondisi full furnished. Silakan melihat-lihat. Jika anda tidak menyukainya, saya akan mengantarkan anda melihat unit lainnya,” kata Bella.
__ADS_1
“Kamu menyukainya?” tanya Sean, membuat Bella menautkan kedua alisnya.
“Maksud anda, Tuan?”
“Apa kamu menyukai unit ini?”
“Ya, tentu saja. Seperti yang saya katakan bahwa ini adalah salah satu unit terbaik di sini, dengan view yang juga luar biasa,” Bella membuka gorden untuk memperlihatkan pada Sean bagaimana pemandangan Kota New York bisa terlihat dari sana.
“Aku akan membelinya,” kata Sean.
Saat mendengar itu, sebenarnya Bella sangat ingin melonjak bahagia. Namun, ia berusaha menahan dirinya karena tak ingin Sean melihatnya.
“Benar, Tuan?”
“Hmm … tapi, bisakah kamu tidak memanggilku Tuan, Bel?” Kata Sean, “Aku bukan majikanmu.”
“Tapi anda adalah klien saya, Tuan.”
Sean berjalan mengelilingi tempat itu. Ia membayangkan bahwa ia akan tinggal di tempat itu bersama dengan wanita yang ia cintai, Bella.
Bella berdiri diam sambil memperhatikan Sean. Jantung Bella berdetak cepat saat melihat Sean yang berdiri di depan jendela kaca dengan balutan pakaian kerjanya. Pria itu masih sama, masih terlihat sangat tampan dan gagah.
Ia melamun sampai tak menyadari kalau Sean telah berjalan hingga kini berada di belakangnya. Dengan lembut dan perlahan, Sean melingkarkan tangannya di pinggang Bella, membuat wanita itu sedikit kaget.
“Apa yang anda lakukan?” tanya Bella yang berusaha melepaskan tangan Sean.
“Diamlah, sebentar saja. Apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu tidak menyukaiku lagi? Apa kamu benar-benar sudah membenciku?” Tanya Sean dengan suara lirih.
“Tuan …”
“Menikahlah denganku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia,” kata Sean.
“Lepaskan aku. Maaf, aku tak bisa menerimanya, karena … aku tak akan menikah. Sebaiknya kamu mencari wanita lain yang akan hidup mendampingimu,” kata Bella.
“Dan yang kuinginkan hanyalah dirimu. Bel, maukah kamu memaafkan aku?”
__ADS_1
Sejak pertemuannya dengan Sean, sepertinya pria itu tak berhenti mengatakan kata maaf. Bella sendiri sebenarnya tak ingin menyimpan dendam, karena ia tahu itu semua hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Namun ntah mengapa setiap melihat Sean, ia teringat masa lalu.
🌹🌹🌹