
Sera mengambil langkah besar dalam hidupnya. Pertama kalinya ia keluar dari Desa S setelah 6 tahun berada di sana. Ia sudah bukan Sera yang dulu dan sekarang ia memiliki teman-teman yang selalu menjaga dan mendukungnya.
“Mereka menemukannya?” tanya Gil tak percaya.
“Hmm … sudah kukatakan, polisi pasti bisa membantu dan banyak tangan akan mempercepat prosesnya,” jawab Sean.
“Kapan kita akan bertemu dengannya?”
“Besok.”
Gil yang sudah tak sabar menantikan hari esok, tak bisa memejamkan matanya. Aunty Olivia pun sangat bahagia, penantiannya selama ini berbuah manis.
Namun Gil juga memiliki sedikit perasaan ragu. Bagaimana nanti jika Sera bertemu dengannya? Wanita itu pasti akan sangat membencinya.
**
Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Aunty Olivia. Tubuhnya terasa gemetar saat waktunya akan bertemu dengan putri yang sudah terpisah selama 6 tahun.
Sementara di dalam sebuah ruangan kerja milik Grace yang berada di kepolisian Kota New York, ruangan ternyaman di kantor polisi tersebut, telah duduk Sera bersama buah hatinya, Gerald.
“Tenanglah. Aku dengar Mommymu hanya datang sendiri, tidak dengan suaminya … karena mereka sudah berpisah.”
Sera menganggukkan kepalanya. Ia percaya pada Dokter Grace dan juga pada Nicole, karena merekalah yang menolongnya saat ia berada dalam keadaan paling terpuruk.
“Mom, apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Gerald yang sedari tadi memperhatikan, sambil memegang mainan truk miliknya.
“Kita akan bertemu dengan Grandma,” jawab Sera.
“Grandma? Grandma Sophie?”
“Iya sayang, seperti Grandma Sophie Super dan Shelo Sayura,” kata Sera lagi menekankan. Gerald pun menganggukkan kepalanya.
Tak lama, pintu ruangan terbuka. Di sana nampak sosok wanita dengan rambut yang memutih, sangat jauh berbeda dengan usianya yang seharusnya masih tampak muda.
“Mom!” Sera langsung berdiri dan menghampiri Mom Olivia. Ia tak percaya dengan penglihatannya.
“Sera sayang … maaf, maafkan Mommy,” Mom Olivia memeluk Sera dengan erat dan menangis. Ia benar-benar merindukan putrinya.
__ADS_1
“Mom …,” Mom Olivia mengurai pelukannya ketika mendengar suara anak kecil.
“Mom …,” sekali lagi Gerald menarik pakaian Sera.
“Sayang, kenalkan ini Grandma Olivia,” Sera menjelaskan pada Gerald dengan sebelumnya mensejajarkan tubuhnya dengan putranya itu.
“Grandma?”
“Iya, sayang.”
“Putramu? Apa kamu sudah menikah, Sera?” tanya Mom Olivia.
Sera menggelengkan kepalanya, ia tak ingin berbohong pada Mom Olivia, bahkan mungkin setelah ini ia akan menceritakan semuanya.
Sebenarnya Mom ingin banyak berbicara padamu saat ini, tapi ada seseorang yang memohon pada Mom tadi agar ia juga diperbolehkan bertemu denganmu. Mom tidak tahu apa yang ingin ia katakan, tapi Mom yakin sesuatu yang penting.
Deg
Apakah Uncle Johan yang ingin bertemu denganku? Tidak! Aku tidak mau menemuinya. Ia tidak boleh bertemu dengan Gerald, ia pasti akan melukainya atau bahkan berencana menjualnya seperti yang ia lakukan padaku.
Sera menghela nafasnya pelan. Ia berharap, bahkan sangat berharap ia tak perlu bertemu ataupun berbicara dengan mantan suami Mom Olivia, meskipun mereka berdua telah bercerai. Ia tak peduli jika pria itu menyesal karena ia tak akan mudah percaya lagi.
Mom Olivia keluar dan kini pintu terbuka kembali. Sera menunduk karena ia sebenarnya tak ingin melihat pria di hadapannya, pria yang telah menjualnya.
“Sera.”
Deg
Suara itu? Sera langsung mengangkat kepalanya. Kedua matanya menangkap sosok pria yang terlihat begitu dewasa di usianya yang kini hampir mencapai 29 tahun itu.
Gil dengan cepat menangkap tubuh Sera dan memeluknya erat, “maafkan aku, maafkan aku.”
Hanya isakan yang terdengar di telinga Sera setelahnya. Sera berusaha melepaskan tubuhnya darinpelukan Gil, namun Gil justru semakin memeluknya erat.
“Lepaskan! Jangan menyakiti Mommy!” Gerald yang melihat itu langsung berusaha memisahkan Sera dari Gil. Ia juga memukul Gil karena terlihat telah menyakiti Sera.
“Putramu?” tanya Gil pada Sera dan dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
Hati Gil mulai hancur. Ia tak percaya kalau Sera telah menikah dan memiliki seorang putra. 6 tahun sejak menghilangnya Sera merupakan masa tersulit dalam hidupnya. Jika di hadapan sahabat-sahabatnya ia tertawa, tidak jika ia seorang diri. Mimpi dan penyesalan selalu menghantuinya.
Gil melepaskan pelukannya kemudian berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan Gerald.
“Maaf, Uncle tidak bermaksud menyakiti Mommymu. Uncle hanya merindukannya. Uncle bersalah padanya dan ingin meminta maaf padanya.”
“Uncle benar-benar tak akan menyakiti Mom?” tanya Gerald.
“Uncle memang pernah menyakiti Mommymu dan Uncle yakin Mommymu sangat marah pada Uncle. Tapi …,” Gil seketika meneteskan air matanya. Ia teringat semua yang ia lakukan pada Sera, di mana ia menggunakan kepolosan Sera untuk mendapatkan keinginannya. Namun tanpa sadar, setiap hari bersama gadis itu membuat rasa cinta tumbuh tanpa bisa dikendalikan. Hingga ketika gadis itu menghilang, membuat sesuatu dalam dirinya hilang, tapi ia selalu menutupi dengan tawa di bagian luar dirinya.
Gerald menghapus air mata Gil dengan jemarinya yang kecil, “jangan menangis Uncle.”
Melihat interaksi keduanya, membuat hati Sera seketika menghangat. Ingin sekali ia merekamnya dengan ponsel, namun ia hanya bisa merekamnya di dalam pikirannya.
“Maaf, maafkan aku. Aku salah pernah mengambil keuntungan darimu. Aku ….”
Tubuh Gil bergetar, penyesalan bertahun-tahun yang ia sembunyikan di dalam dirinya seakan meluap keluar saat melihat Sera. Meskipun keadaan wanita itu kini terlihat baik-baik, tapi bagi Gil ia tidak baik-baik saja.
Brughhh
Tubuh tegap itu pun jatuh, Gil tak sadarkan diri. Sera yang melihatnya menjadi panik. Ia segera berlari ke luar dan memanggil siapapun di luar.
Sean yang turut mendampingi Gil saat ini sangat terkejut saat melihat sahabatnya itu jatuh pingsan. Ia memanggil beberapa petugas agar membantunya. Ia pun segera membawa Gil ke rumah sakit.
“Aku ikut!” Kata Sera pada Sean. Ia sangat kuatir dengan keadaan Gil yang tiba-tiba pingsan.
Mom Olivia, Mom Gemma juga panik melihat keadaan Gil. Mereka semua pun menemani Sean ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Gil masuk ke dalam ruang darurat untuk mendapatkan penanganan khusus terlebih dulu. Seluruh keluarga menunggu di luar dengan cemas dan gelisah.
“Sayang, Aunty merindukanmu. Melihat keadaanmu yang baik-baik saja, sungguh membuat hati kami lega,” ujar Mom Gemma.
Seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampiri keluarga, “Setelah dilakukan pemeriksaan, tak ada apapun yang perlu dikuatirkan. Namun, jika berdasar dari apa yang dikatakan oleh salah satu keluarga tadi, maka saya bisa mengambil sedikit kesimpulan bahwa pasien mengalami stres yang mengarah pada penyakit psikosomatis,” jelas sang dokter.
“Psikosomatis?”
🌹🌹🌹
__ADS_1