ONLY LOVE

ONLY LOVE
#77 (Sean - Bella)


__ADS_3

Sean yang berkumpul bersama teman-teman prianya, kini asyik bersenda gurau. Mereka kembali mengingat masa-masa sekolah mereka.


Malam semakin larut, dan salju yang diperkirakan turun minggu depan, kini sudah menampakkan butirannya. Udara menjadi semakin dingin dan para peia yang tadinya duduk di teras, kini beranjak masuk ke dalam cottage.


Sean melihat ke arah para wanita yang tengah berkumpul dan berbincang. Ia menautkan kedua alisnya dan matanya terus memindai ke seluruh ruangan, namun ia tak menemukan keberadaan Bella sama sekali.


“Ros, di mana Bella?” tanya Sean.


“Aku tidak tahu. Aku kira dia bersamamu,” jawab Rosa.


“Bukankah tadi dia menemanimu saat ke toilet?” kata salah seirang teman mereka.


“Iya, tapi saat aku keluar dari toilet, aku tidak menemukannya. Kukira ia sudah kembali masuk dan menemui Sean,” kata Rosa.


“Coba cari di kamar, Se. Mungkin dia tidur karena lelah,” kata salah satu wanita itu.


“Baiklah.”


Sean menyusuri koridor dengan perasaan yang mulai gelisah. Ia mengetuk pintu ruangan yang memang diperuntukkan untuk Bella tadi. Namun tak terdengar suara sama sekali dari dalam. Ia mencoba membukanya dengan perlahan karena tak ingin mengganggu Bella jika benar wanita itu sedang tidur.


Ia segera berlari kembali ke ruang duduk dekat perapian dan kembali melihat sekeliling.


“Bella tak ada di kamarnya. Kalian benar-benar tak melihatnya?” tanya Sean dengan kuatir.


“Tidak, Se. Kami terakhir melihatnya ketika ia menemani Rosa ke toilet.”


“Dan aku terakhir melihatnya sebelum aku masuk ke dalam toilet,” Rosa menimpali.


“Arghhh!!!”


“Dia sudah dewasa, Se. Jika ia keluar, ia pasti akan kembali,” kata salah seorang wanita.


“Kalian tidak akan mengerti! Dan Ros, aku menitipkan Bella padamu. Kalau sampai sesuatu terjadi padanya, aku akan membuat perhitungan denganmu,” kata Sean menatap Rosa dengan tajam.


“Whatt??!! Kamu tidak bisa menyalahkanku, Se! Aku bukan babysitter-nya,” gerutu Rosa yang tidak terima Sean menyalahkannya.


Sean langsung kembali ke dalam kamarnya dan mengambil jaket tebalnya. Ia akan keluar untuk mencari Bella. Cottage milik Leon tidak berada di tengah kota, jadi di sekelilingnya tidak ada tempat yang bisa dikunjungi.

__ADS_1


“Bel, kamu di mana?” gumam Sean yang terus mengeratkan jaket tebalnya.


**


“Lepaskan aku!” teriak Bella ketika melihat seorang pria di hadapannya.


Bella berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Ia didudukkan di sebuah kursi kayu dengan tangan terikat ke belakang. Bagian kaki juga terikat di bagian depan.


“Apa untungnya aku melepaskanmu, hah?!”


“Jarvis!” panggil Bella dengan keras.


“Hmm … kamu memanggilku, sayang?” tanya Jarvis yang berdiri di hadapan Bella sambil memainkan sebuah pisau kecil.


“Lepaskan aku! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”


“Aku? Aku ingin kamu menjadi kekasihku. Bukankah dulu kamu mengejar diriku? Sekarang aku mau, jadi jangan jual mahal,” ujar Jarvis berbisik di telinga Bella.


Udara dingin semakin menusuk kulit Bella dan ingatannya kembali ke masa di mana Sean yang tidak datang sesuai dengan janjinya.


“Aku tidak pernah mengejar dirimu!”


Jarvis mendekatkan tubuhnya ke arah Bella, kemudian memeluk wanita itu. Ia mencium bahu Bella kemudian menolehkan kepalanya hingga hidungnya kini berada di leher Bella. Ia menyesap harum tubuh wanita itu.


Bella semakin memejamkan matanya dan bulir bening mulai keluar dari ujung matanya. Ia ingin sekali melawan, tapi apa daya kedua tangan dan kakinya terikat. Ia ingin berteriak, namun suaranya seakan tertahan dan tak mau keluar.


“Tubuhmu harum sekali. Rasanya pasti akan sangat nikmat. Bagaimana kalau kita mencobanya, hmm … Aku bisa meyakinkanmu bahwa aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa untukmu, Bel.”


“Tidak! lepaskan aku. Tolong jangan lakukan itu padaku,” kata Bella memohon.


“Kita sudah sama-sama dewasa dan ku rasa tak ada yang salah jika kita melakukannya. Kamu hanya perlu menerimanya saja, aku yang akan memberikan pelayanan terbaik untukmu.”


“Ahhhh tidak!!! Tolong! Jarvis, lepaskan aku!” Jarvis menggendong Bella seperti menggendong karung. Ia membawa Bella ke dalam kamar di sebuah rumah kayu kecil yang berada sekitar 1 km dari cottage milik Leon.


Brughhh


“Ahhh,” Bella merasakan sedikit sakit di kepalanya ketika bagian atas kepalanya mengenai kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


“Jangan mendessah seperti itu, sayang. Kamu membuatku tidak sabar untuk mendengarmu mengerangg dan mendessah di bawah kungkunganku.”


“Tidak Jarvis, jangan lakukan ini. Kita bicara baik-baik. Lihatlah, salju sudah mulai turun dan udara semakin dingin. Kita harus segera kembali ke cottage Leon,” kata Bella.


“Kamu kedinginan? tenanglah, aku akan menghangatkanmu,” Jarvis membuka pakaiannya sendiri hingga menampakkan tubuhnya yang tegap.


“Jar, sadarlah! Aku tidak mencintaimu dan kita tidak seharusnya melakukan ini.”


“Kamu tidak mencintaiku, hah?! Kamu benar-benar melukai perasaanku.”


“Ahhhh!!!” Bella kembali berteriak saat Jarvis mulai merobek sweater yang ia kenakan.


Jarvis mengambil pisau kecil miliknya dan memperlihatkannya pada Bella. Ia memainkan pisau kecil itu di depan mata Bella, kemudian meletakkannya di pipi Bella. Bella langsung memejamkan matanya.


Sretttt


Jarvis merobek pakaian yang dikenakan Bella dengan menggunakan pisau kecil itu. Bella terus memejamkan matanya karena ia tak ingin melihat mata Jarvis. Rasa takut terus mendera Bella dan membuat tubuhnya mulai bergetar.


“Ahhh tubuhmu indah sekali, Bel. Sayang sekali kalau hanya ditutupi tanpa bisa dinikmati. Buatlah dirimu berguna dengan membiarkan aku menikmati tubuhmu, setidaknya kamu berguna untukku menyalurkan hassratku.”


Trek tek tek


Jarvis kembali membuka celana panjang yang digunakan oleh Bella, hingga wanita di hadapannya kini hanya menggunakan pakaian dallam saja.


“Bel, lihatlah, adik kecilku sudah berdiri dan ingin kamu menyambut kedatangannya. Ahhh aku benar-benar sudah tidak sabar merasakan milikku berada dalam gua-mu itu.”


Kaki dan tangan Bella yang masih terikat membuat Jarvis dengan mudahnya melucuti semua pakaian yang dikenakan Bella. Sugesti tentang cuaca dingin mulai masuk ke dalam pikiran Bella. Tubuhnya bergetar dan matanya mulai sayu. Bibirnya memutih dan bergetar.


“Kamu kedinginan, sayang? Baiklah, aku akan segera memulainya. Aku berharap setelah ini kamu akan terus memintanya padaku. Kita akan terus melakukan ini setiap hari, setiap malam. Tinggallah di apartemenku, aku pastikan kamu tak akan kekurangan apapun. Yang terpenting hanya kamu melayaniku setiap waktu dengan tubuhmu.”


Jarvis mendekatkan wajahnya ke telingan Bella dan mulai membisikkan kata-kata cinta. Bella yang mulai kehilangan kesadarannya, sudah tidak merasakan apapun. Rasa takut dan sugesti yang menderanya seakan semakin hebat. Jarvis mulai mencium leher Bella, bahkan meninggalkan bekas kepemilikannya di sana.


Ia mencium leher Bella untuk memberikan ranggsangan sambil perlahan membuka penutup kedua aset kembar milik Bella.


Brakkk


Bughh bughhh bughh!!

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2