
Setelah Bella masuk ke dalam kamarnya, tinggallah Sean seorang diri di teras resort itu. Matanya terus melihat ke arah pintu yang sudah terkunci dengan gorden yang tertutup rapat.
Ia menghela nafasnya pelan. Ia sudah membuat keputusan bahwa apapun keputusan Bella, ia akan tetap berada di sana hingga wanita itu bisa benar-benar memaafkannya.
Sean tahu bahwa Bella tak tulus memaafkannya. Wanita itu hanya ingin dirinya pergi menjauh dan tak mengganggu kehidupnnya. Ia pun merebahkan diri di kursi panjang yang tentu saja tak bisa memuat dirinya. Ia terpaksa tidur dengan kaki menjuntai dan sedikit menekuk tubuhnya.
Udara pantai yang terasa dingin, tak mengurungkan niat Sean. Ia yang sudah merasa lelah pun pada akhirnya berhasil memejamkan mata dan tertidur.
Keesokan paginya, Sean sudah terbangun pada pukul 5 pagi. Ia benar-benar merasa kedinginan hingga ia langsung memeluk tubuhnya sendiri untuk mencari kehangatan.
Mendengar suara dari dalam kamar, Sean pun berpura-pura kembali memejamkan matanya. Ia mendengar suara pintu dibuka dan terdengar langkah kaki.
“Bangunlah!” Bella mencoba membangunkan Sean.
Di dalam hati Sean pun tersenyum kemudian mendapatkan ide gila. Ia akan sengaja menjatuhkan dirinya. Kalau ditangkap itu bagus, kalau tidak … ya sudahlah, mungkin ia akan dipersilakan masuk untuk diobati jika ada yang luka ataupun memar.
Sean menggeliat sedikit dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap Bella langsung mendekat dan tanpa sengaja memeluk Sean agar pria itu tidak jatuh.
“Aku suka harum tubuhmu, aku menyukai bibirmu, dan aku menyukai semua hal tentang dirimu.”
Mendengar itu, Bella langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Sean, hingga pria itu benar-benar terjatuh.
“Aduhh!!!” Sean meringis karena tanpa sengaja ia terjatuh dan langsung mengenai siku lengannya.
Sean memegang siku lengannya dalam kondisi tetap duduk di lantai. Bella yang melihat itu, langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil kotak P3K. Ia langsung duduk di sebelah Sean dan membuka kotak P3K itu.
“Berikan tanganmu,” ujar Bella.
“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”
“Cepatlah!” Bella menarik tangan Sean dan melihat bahwa siku lengan Sean mengalami memar, hingga berwarna kebiruan.
“Ahhh!!” Sean meringis ketika Bella mengoleskan salep memar pada siku lengan Sean.
“Tahan sedikit,” kata Bella. Dengan telaten, Bella mengobati Sean. Sean terus memperhatikan wajah Bella seakan tak ingin berpaling.
Mengapa aku tak menyadari bahwa dirimu terlihat begitu cantik. - batin Sean.
__ADS_1
“Jangan melihat ke arahku terus,” kata Bella yang sangat menyadari bahwa Sean terus menatap ke arahnya.
“Aku mencintaimu,” kata Sean tiba-tiba. Jujur hal itu kembali membuat jantung Bella berdetak dengan cepat. Sean yang mengatakannya pun merasakan hal yang sama.
“Sudah kukatakan, jangan mengartikan rasa bersalah dan penyesalanmu dengan mengatakan itu. Aku bukanlah Bella yang dulu, karena Bella itu telah mati. Hidupku saat ini hanya untuk keluargaku, jadi jangan pernah menggangguku dan kuharap kamu mengerti.”
Sean menghela nafasnya pelan. Dorongan dari dalam hatinya terus mengatakan bahwa ia harus memiliki Bella dan mengembalikan semuanya seperti dulu, di mana Bella menyukai dan mencintainya.
“Pergilah,” kata Bella sambil memasukkan salep ke dalam kotak P3K, kemudian menutupnya.
“Aku tidak bisa menyetir dalam kondisi seperti ini,” kata Sean.
“Aku akan memanggilkan taksi untukmu.”
“Apa kamu tidak mau mengantarku?”
“Maaf, tapi sebaiknya tidak. Kita tidak sedekat itu hingga aku harus mengantarkanmu. Kamu bisa mengambil mobilmu setelah lenganmu membaik,” Bella bangkit dan masuk ke dalam resort untuk meletakkan kotak P3K dan memesankan taksi untuk Sean.
Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesan oleh Bella telah datang. Ia berjalan ke teras dan menghampiri Sean, “taksimu sudah datang, pulanglah.”
Setelah Sean pergi, Bella mengambil keputusan untuk kembali ke Kota New York. Rencana awal ingin sedikit mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di pantai San Diego pun ia urungkan. Daripada terus bertemu dengan Sean, akan lebih baik kalau ia kembali dan bekerja.
Bella membereskan pakaiannya dan memesan taksi. Ia akan kembali ke Kota New York.
**
“Se, kamu tidak apa-apa?” tanya Mom Vera saat melihat Sean memegangi lengannya.
“Aku terbentur, Mom.”
“Kamu itu, selalu saja ceroboh.”
“Aku tidak ceroboh, Mom,” Sean tak mungkin mengatakan kalau ia sengaja menjatuhkan diri dan tanpa sengaja malah terkena sikunya.
“Kalau begitu, istirahatlah.”
“Aku akan mandi dulu, Mom,” kata Sean.
__ADS_1
“Apa kamu menemuinya semalam?” Mom Vera sangat peka jika ada sesuatu yang berbeda pada Sean. Ia melihat tatapan putranya itu terlihat berbeda antara semalam dengan pagi ini.
“Mom …”
“Kalau kamu mencintainya, katakan padanya. Jangan memendamnya dan menyakiti hatimu sendiri,” kata Mom Vera dengan bijak.
“Aku sudah mengatakannya, Mom. Tapi … dia tidak menerimaku. Itu semua memang karena kesalahanku.”
“Apa kamu begitu menyakitinya?”
Sean terdiam. Ia tidak tahu apakah ia harus menceritakan semuanya pada Mom Vera. Namun, hanya Mom Vera-lah tempatnya bercerita dan berbagi. Ia tak memiliki siapapun lagi. Jika ia menceritakan pada sahabatnya, ia juga tidak tahu nasihat apa yang akan ia dapatkan.
“Sepertinya dia tak akan pernah memaafkanku, Mom. Apa yang harus kulakukan, Mom?” tanya Sean.
“Wanita memerlukan cinta dan perhatian. Lakukan semuanya dengan tulus, tanpa mengharapkan balasan. Lambat laun ia akan menyadari bahwa kamu benar-benar menyayangi dan mencintainya.”
“Tapi … bagaimana jika ia tetap tak berubah?”
“Mungkin ia bukan seseorang untukmu, sayang.”
“Tapi aku tidak bisa, Mom. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, apalagi membayangkan ia bersanding dengan pria lain. Tidak Mom! Tidak boleh!”
Mom Vera tersenyum mendengar putranya yang benar-benar sedang jatuh cinta, namun sedikit terlambat, “Kalau begitu, berjuanglah lebih keras lagi. Mom akan selalu mendukungmu. Bahkan Mom bersedia membantumu jika memang diperlukan.”
“Terima kasih, Mom,” Sean memeluk Mom Vera. Keluarga satu-satunya yang ia miliki dan tempatnya bersandar sejak dulu.
Mom Vera mengelus bahu Sean. Putra kecilnya kini sudah dewasa. Ia tak pernah mengatakan masalah cinta sejak dulu. Putranya itu hanya memikirkan bagaimana bekerja agar mereka bisa hidup dengan baik dan layak. Usia Sean sudah 28 tahun dan bagi Mom Vera, Sean tetap putra kecilnya.
“Apa sudah diobati?” tanya Mom Vera ketika melihat Sean sedikit meringis ketika area memarnya tersenggol.
“Bella sudah mengobatinya, Mom,” kata Sean.
“Bella?”
“Hmm, namanya Bella, Mom.”
🌹🌹🌹
__ADS_1