
“Gil, di mana Mommy?” tanya Sean yang sedang merapikan jas yang ia kenakan.
“Aunty bilang mau pergi ke toko cincin.”
Sean menepuk keningnya. Saking bahagia dirinya menyambut hati pernikahannya, ia lupa harus mengambil cincin yang seharusnya ia ambil kemarin.
“Gue lupa ambilnya kemarin,” ungkap Sean.
“Ya udah, gue langsung jemput Aunty dulu ya. Lo langsung ke tempat acara aja,” kata Gil.
“Nggak usah, gue aja yang jemput Mom. Lo ke tempat acara kasih tahu gue terlambat sedikit aja … ya … ya,” kata Sean sambil tersenyum.
“Nggak! Kita barengan aja. Kalau gitu, cepetan yuk. Ntar kita lewatnya kebanyakan dari jadwal.”
Gil mengambil alih kemudi karena ia tak ingin sahabatnya itu terlalu terburu-buru.
“Mom, aku akan langsung menjemputmu di sana,” kata Sean.
Sean pun mematikan sambungan ponselnya dan langsung meminta Gil mengemudikan mobil menuju toko perhiasan tempat ia memesan cincin pernikahannya.
Sean melihat Mom Vera yang sudah berada di tepi jalan dan berencana untuk menyeberang untuk menghampiri mobil. Rasa bahagia yang tercetak di wajah Mom Vera, membuatnya seakan lupa bahwa ia sedang berada di tepi jalan.
Tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Mom Vera langsung saja menyeberang. Sean yang melihat hal itu langsung meminta Gil untuk berhenti dan ia keluar dari mobil.
“Mom!”
Sebuah mobil yang tengah melaju cepat dari arah berlawanan membuat Sean dilanda ketakutan. Ia kembali berteriak untuk memperingatkan Mom Vera karena kecepatannya menyeberang tak bisa lebih cepat dari mobil itu.
Cittttt ….
Seorang wanita paruh baya menarik tangan Mom Vera dan membawanya kembali ke trotoar, membuat keduanya terjatuh. Sementara mobil tadi membuka jendela dan mengumpat ke arah keduanya karena dianggap ingin bunuh diri. Setelah itu ia langsung pergi.
“Mom!” Sean langsung menghampiri Mom Vera.
“Are you okay, Mom?” tanya Sean.
Mom Vera sedikit meringis saat melihat siku lengan dan telapak tangannya yang terluka. Gaun yang ia kenakan pun terlihat kotor karena terkena debu trotoar.
Mom Vera melihat ke arah wanita yang menariknya tepat waktu, “Mam?”
“Lutut anda terluka, Aunty,” kata Sean.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa. Aku bersyukur kamu tidak apa-apa,” ujar wanita itu melihat ke arah Mom Vera. Ia berusaha untuk bangkit, meskipun lututnya terluka dan berdarah.
“Anda harus ikut kami ke dokter.”
“Tidak perlu, aku akan mengobatinya di rumah nanti.”
“Tidak, Mam. Kamu harus ikut dengan kami. Kamu telah menolongku, aku sangat berhutang budi padamu,” kata Mom Vera.
Mom Vera melihat ke arah Sean dan Sean mengerti apa yang dimaksud oleh Mommynya itu. Ia langsung memanggil Gil agar membantu mereka.
Gil memarkirkan mobilnya di tepi jalan kemudian keluar. Ia menghampiri Sean.
“Se, waktu lo tinggal 10 menit lagi,” kata Gil.
“Gue mesti bawa Mommy dan Aunty ke rumah sakit dulu. Lo bantu gue temuin Bella dan keluarganya dulu ya,” pinta Sean.
“Apa nggak mendingan lo aja yang langsung ke tempat acara dan gue yang anterin ke rumah sakit?” tanya Sean.
“Gue nggak akan nikah kalau nggak ada Mommy, Gil. Gue juga berhutang budi pada Aunty.”
Gil melihat ke arah wanita paruh baya dengan penampilan yang terlihat sedikit lusuh. Pakaian yang dikenakannya sudah ada yang robek di beberapa bagian. Rambutnya diikat dengan tak teratur, sehingga terkesan berantakan. Ketika wanita itu mengangkat wajahnya, Gil menautkan kedua alisnya, ia seperti pernah melihat dan mengenalnya.
Akhirnya Gil menuju ke tempat acara dan Sean mengantar Mom Vera dan wanita tadi ke rumah sakit. Di dalam taksi, ia mencoba mengingat di mana ia pernah melihat wanita itu.
Matanya seketika membulat saat mengingat siapa wanita itu. Perasaannya langsung berubah tidak enak dan sedikit kuatir, “Aunty Olivia?”
**
Gil sampai di tempat acara pernikahan Sean akan berlangsung. Ia berlari menghampiri Sky dan Daniel yang terlihat menunggu kedatangan dirinya dan Sean. Wajah Gil menampakkan rasa panik, bukan karena keadaan Mom Vera ataupun Sean yang akan terlambat, tapi ia memikirkan keadaan Sera. Bagaimana keadaan Sera jika keadaan Aunty Olivia seperti itu.
“Gil, di mana Sean? acara akan dimulai,” kata Sky yang terlihat tidak sabaran.
“Gue temuin Bella dulu ya.”
Gil pun bergegas menuju ke ruangan Bella. Ia harus menyampaikan pesan Sean dan keadaan mereka saat ini.
Tokk tokk …
“Bel, ini gue, Gil.”
Bella yang tengah bersama kedua orang tuanya pun langsung membukakan pintu. Sejak tadi ia merasa kuatir karena Sean tak kunjung datang. Apa mungkin Sean kembali tidak menepati janjinya? Ada rasa takut di dalam hati Bella.
__ADS_1
“Di mana Sean?” tanya Bella.
“Sean ada di rumah sakit,” jawab Gil.
“Rumah sakit? Dia kenapa?” Kini wajah Bella yang terlihat menjadi sangat kuatir.
“Aunty Vera mengalami sedikit kecelakaan, jadi Sean mengantarkannya terlebih dulu ke rumah sakit. Apakah kalian bisa menunggu? Gue akan ngomong sama pendetanya untuk menunggu lebih lama,” kata Gil.
“Hmm … aku tidak apa-apa. Aku akan menunggunya, seperti dia yang telah menungguku dan menerima diriku,” kata Bella.
Pendeta tersebut akhirnya mau menunggu. Sean terlambat hampir 1 jam, namun ia sangatberstukur karena Bella mau menunggunya.
“Terima kasih, Bel,” bisik Sean di telinga Bella, membuat wanita itu merasakan gelenyar aneh.
Acara pemberkatan pernikahan pun dimulai. Keduanya mengucapkan janji pernikahan dengan senyum di wajah mereka. Kini, keduanya sudah saling terikat. Sahabat mereka turut berbahagia. Hanya saja di balik wajah bahagia Gil, tersimpan suatu tanda tanya besar yang harus segera ia ketahui jawabannya.
“Aunty, di mana wanita yang tadi bersama Aunty ke rumah sakit?” tanya Gil.
“Ooo dia sudah Aunty antar ke tempat di mana tadu Aunty bertemu dengannya. Awalnya Aunty ingin mengantarkannya sampai ke rumah, tapi ia menolak karena katanya ia harus menemui seseorang terlebih dulu,” kata Aunty Vera.
“Baiklah, Aunty.”
Gil mulai berpikir untuk mencari Aunty Olivia. Mommynya sudah sangat ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Namun, komunikasi yang terputus di antara mereka membuat hubungan mereka pun tak terjalin lagi.
**
Sean langsung membawa Bella pulang ke apartemen yang ia beli. Ia akan menjadikan itu sebagai tempat tinggal mereka sebelum ia membeli sebuah rumah nantinya.
“Kamu benar tidak apa-apa?” tanya Bella sekali lagi. Ia hanya tak ingin Sean menyembunyikan luka atau sakitnya seorang diri.
“Aku tidak apa-apa. Mom yang terluka karena terjatuh. Untung saja ada seseorang yang menolongnya tadi.”
Bella bernafas dengan lega. Ia pun memeluk Sean dengan erat ,”jujur aku takut jika tadi kamu tidak datang.”
“Sudah kukatakan padamu, aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi seorang diri. Aku yang akan selalu menjaga, menyayangi, dan mencintaimu. I love you,” Sean meraih tengkuk Bella dan menyesap bibir wanita itu.
Malam itu, mereka habiskan dengan pergelutan panas. Tentu saja Sean melakukan semuanya dengan perlahan karena ia tak ingin kembali membangkitkan trauma di dalam diri Bella akibat ulah Jarvis yang kini sudah berada di dalam tahanan pihak kepolisian.
“I love you too,” balas Bella.
🌹🌹🌹
__ADS_1