
“Kamu yakin?” tanya Nicole.
“Aku yakin, Kak. Aku tak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Aku takut ia akan menjualku lagi.”
“Aku akan melindunginmu, Sera.”
“Aku tahu, Kak. Tapi aku lebih nyaman dan aman tinggal di sini, tanpa siapapun mengenalku.”
“Lalu, apa kamu tak ingin membawa Gerald bertemu dengan Dad kandungnya?” tanya Nicole.
Sera tersenyum, “Aku tak tahu apa ia menginginkan seorang anak dariku atau tidak. Bahkan mungkin aku dulu terlalu polos hingga mudah dibohongi hanya dengan kata-kata. Ah tidak … aku terlalu bodoh.”
“Sera, mungkin saja dia juga mencarimu.”
“Ya, dia mungkin saja mencariku untuk kembali mengambil keuntungan dariku. Dulu aku mengira bahwa ia begitu baik padaku. Namun, ternyata aku yang terlampau bodoh.”
Nicole menggenggam kedua tangan Sera kemudian mengelusnya, “Aku mengerti perasaanmu dan aku tidak akan memaksamu. Tapi, jika nanti kamu berubah pikiran, segera kabari aku, hmm …”
“Aku mengerti, Kak. Terima kasih banyak.”
**
Sera yang tak ingin posisinya diketahui oleh siapapun, membuat pencarian semakin memakan waktu. Hal itu tentu saja membuat Gil semakin gelisah, sementara Aunty Olivia yang sudah terbiasa seperti itu selama bertahun-tahun hanya tersenyum datar.
“Mommy!” Dari kejauhan terdengar suara Gerald menangis sambil berlari dengan tas ransel kecil miliknya.
Sera yang berada di perkebunan tentu saja menjadi bingung karena tidak biasanya Gerald menangis. Putranya itu adalah anak yang tangguh dan bisa dikatakan hampir tak pernah menangis, ya kecuali saat masih bayi.
“Ada apa, sayang?” tanya Sera menghampiri.
Gerald langsung memeluk Sera dan meluapkan kesedihannya. Ia memegang sebuah kertas bergambar miliknya.
“Duduk dulu, sayang. Ceritakan pada Mom, apa yang terjadi hingga kamu menangis seperti ini.”
“Mom, siapa itu Dad?”
“Dad?”
“Ya, hari ini di sekolah aku mendapatkan tugas menggambar keluargaku. Lihatlah Mom, bagus kan? Aku menggambar Mom dan aku.”
“Bagus sekali, sayang,” puji Sera.
“Teman-teman mengejekku. Katanya gambarku hanya ada Mom, yang berarti aku tidak punya Dad.”
Sera sedikit merasa sakit hati, bukan karena ejekan teman-teman Gerald, tapi karena melihat air mata di pipi putranya. Selama ini ia tak pernah memperkenalkan siapapun sebagai Dad dari Gerald. Ia juga tak pernah bercerita apapun pada Gerald yang berhubungan dengan Dad. Bahkan di setia dongeng dari pengantar tidur yang ia bacakan, ia selalu memilih agar tak ada kata Dad di sana. Ia tak ingin putranya bertanya.
__ADS_1
“Apakah tidak punya Dad itu buruk? Mengapa mereka mengejekku?” tanya Gerald.
“Sayang, dengarkan Mom. Gerald memiliki Dad, tapi saat ini ia sedang bekerja mencari uang di tempat yang sangat jauh. Oleh karena itulah ia jarang sekali pulang.”
“Kalau begitu kapan Dad akan pulang, Mom? Aku ingin memamerkannya pada teman-temanku,” kata Gerald, membuat hati Sera terasa nyeri.
“Mom tidak tahu kapan Dad akan pulang, sayang.”
“Kalau begitu telpon saja Mom! Aku ingin melihatnya.”
“Dad tidak diperbolehkan menggunakan ponsel saat bekerja, sayang,” Tampak sekali di wajah Gerald kesedihan. Ia kecewa lebih tepatnya.
“Bukankah kamu masih punya Mommy, sayang,” kata Sera melanjutkan.
“Aku menyayangimu, Mom. Tapi bolehkah aku melihat Dad sekali saja,” pinta Gerald.
Gerald yang penurut, kini menginginkan sesuatu. Ia tidak menuntut, hanya penuh rasa ingin tahu. Sera jarang sekali membuka ponselnya karena memang jarang sekali ada sesuatu di sana. Ponsel ia miliki hanya untuk berjaga-jaga saja.
Pada akhirnya ia membuka halaman pencarian di sana, sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ini karena merasa dunia luar hanya akan menyakitinya. Ia mengetikkan nama Gil di sana dan menemukan wajah seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. Pria itu semakin tampan dan terlihat dewasa, mirip dengan putra mereka, Gerald.
“Kamu ingin melihat Dad, sayang?” tanya Sera.
“Ya, Mom. Apakah boleh?”
“Aku punya Dad. Aku juga punya Dad!” teriak Gerald senang. Putranya itu bahkan melompat sambil berputar-putar, membuat Sera tersenyum dan menitikkan air mata.
“Sudah … sudah … sayang.”
“Mom, bolehkah aku membawanya ke sekolah? Aku ingin memperlihatkannya pada teman-temanku,” kata Gerald bahagia.
“Sayang, dengarkan Mommy. Mommy tidak melarangmu untuk bahagia, tapi Mommy melarangmu untuk memamerkannya pada teman-temanmu.”
“Tapi aku hanya ingin mereka tidak mengejekku lagi, Mom,” kata Gerald.
“Maafkan Mommy, sayang.”
“Siapa nama Daddy, Mom?” tanya Gerald.
“Gil Anderson,” jawab Sera.
“Kapan Dad akan pulang, Mom? Aku benar-benar tidak sabar,” Gerald melompat di hadapan Sera.
“Mom tidak tahu, sayang. Apa kamu mau bersabar?”
“Tentu saja, Mom.”
__ADS_1
Perbincangan siang itu dengan Gerald, membuat Sera kembali berpikir ulang. Apakah ia harus menemui Gil untuk memberitahu bahwa Gerald adalah putranya? Ataukah ia harus terus diam hingga nanti Gerald dewasa?
**
“Kamu mau ke mana, baby?” tanya Gregory pada Grace.
“Aku merindukan Gerald, sayang.”
“Hmm … aku juga merindukannya. Apa kamu juga akan membawa Ryan dan Ryana?”
“Ya, aku akan membawa mereka. Mereka sedang bersiap-siap di kamar.”
“Apa kamu juga akan membujuk Sera seperti yang dilakukan Nicole?” tanga Gregory.
“Aku harus melakukannya, sayang. Bagaimanapun juga, Gerald harus mengetahui siapa keluarganya. Berjanjilah sayang kalau kamu akan melindungi Sera dan putranya. Aku tak ingin hal buruk terjadi pada mereka.”
“Tentu saja, baby. Apapun keinginanmu, aku akan mengabulkannya,” Gregory memeluk tubuh Grace dan mencium pucuk kepala wanita yang telah memberikannya sepasang anak kembar, seorang putra dan seorang putri, Ryan dan Ryana.
Sore hari di Desa S,
“Halo, Sera,” sapa Grace memeluk wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya, sama seperti Nicole.
“Halo, Kak. Apa kabar?”
“Aku baik. Bagaimana keadaanmu?”
“A-aku baik,” jawab Sera.
“Dari caramu menjawab, aku bisa pastikan bahwa dirimu sedang tidak baik-baik saja.”
“Kak …”
“Dengarkan aku. Kamu selalu memikirkan perasaanmu, apakah kamu pernah memikirkan perasaan Gerald? Aku tahu memang tidak mudah bagimu untuk melupakan bahkan memaafkan siapapun di masa lalumu. Tapi setidaknya bukalah pintu itu dengan perlahan, maka lama kelamaan akan terbuka dengan lebar.”
“Aku takut, Kak. Bagaimana jika pria itu tak menemrima Gerald? Bagaimana jika Mom masih bersama dengan Uncle? Aku takut.”
“Apa kamu pernah mencoba mengatakannya? Apa kamu yakin ia akan menolaknya?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan mengambil kesimpulan apapun sebelum kamu mencoba. Saat ini kamu tidak sendirian lagi. Kamu punya kami, Sera. Kami akan selalu melindungimu. Dan jika mereka tak menerimamu, maka masih ada kamu yang akan selalu ada di sampingmu,” kata Grace menggenggam tangan Sera.
“Kak …”
🌹🌹🌹
__ADS_1