ONLY LOVE

ONLY LOVE
#75 (Sean - Bella)


__ADS_3

Bella berdiam sendiri di dalam kamar tidurnya. Kejadian hari ini membuat prinsip dalam hidupnya yang mengatakan bahwa ia tak memerlukan cinta dari seorang pria seakan patah.


Ia kembali mengingat bagaimana Sean berlutut di hadapannya, meminta maaf untuk kesekian kali padanya. Bella menyadari, bahkan sangat menyadari bahwa dirinya begitu keras kepala. Tak ingin terlalu banyak berpikir, Bella pun segera memejamkan matanya dan terlelap.


Keesokan harinya, Sean datang ke tempat kerja Bella. Seluruh staf di sana memandang Sean dengan tatapan yang kagum. Bella yang melihatnya ntah mengapa tak suka dengan cara para wanita memandang Sean.


“Masuklah,” ajak Bella pada Sean. Ia mengajak Sean masuk ke dalam sebuah ruang meeting kecil. Di sana mereka akan melakukan perjanjian sebelum Sean bertemu langsung dengan pemilik apartemen untuk melakukan perjanjian jual beli.


“Mau minum apa?” tanya Bella.


“Temani aku minum di cafe depan, bagaimana?” tanya Sean.


“Aku tidak bisa.”


“Bel.”


Bella juga ingin berterima kasih pada Sean meskipun secara tidak langsung karena dengan Sean membeli apartemen itu, maka ia bisa membiayai pengobatan Dad Kevin.


“Baiklah. Tanda tangani surat-surat ini dulu. Setelah ini aku akan mengatur pertemuanmu dengan pemilik untuk melakukan perjanjian jual beli.”


“Ya, kamu atur saja.”


Keduanya berjalan keluar dari kantor dan masuk ke dalam cafe. Mereka duduk di kursi yang berhadapan dan hanya dipisahkan sebuah meja kecil.


“Teh lemon dingin,” kata keduanya bersamaan pada seorang pelayan.


“2 teh lemon dingin. Ada lagi?” tanya pelayan.


“Kamu tidak ingin makan?” tanya Sean.


“Tidak, Mommy membawakanku bekal,” jawab Bella.


“Baiklah, itu saja,” kata Sean pada pelayan.


Keduanya diam, namun Sean tak melepaskan tatapannya dari Bella. Dulu ia pernah duduk berdua seperti ini, namun hatinya saat itu diliputi kekesalan karena harus menggantikan posisi Gil. Kali ini, perasaan senang bahwa Bella ada di hadapannya, seakan tak bisa terkatakan.


“Aku akan menemui orang tuamu,” kata Sean pada Bella.


Mata Bella membulat, “untuk apa?”


“Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku mencintaimu dan aku ingin menikahimu.”


“Se!”


“Akhirnya kamu mau memanggil namaku,” Sean meraih tangan Bella yang berada di atas meja. Bella berusaha melepaskan, namun Sean menggenggamnya erat.

__ADS_1


“Beri aku kesempatan, 1 kali lagi. Aku berjanji kali ini aku tak akan mengecewakanmu.”


“Tapi aku tak bisa …”


“Biarkan kali ini aku yang mencintaimu.”


“Berikan aku waktu untuk memikirkannya,” kata Bella.


“Hmm, aku akan memberikannya. Tapi beri aku kesempatan juga untuk membuktikan keseriusanku padamu,” balas Sean.


Bella akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia akan mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk Sean. Namun, jika ia tetap tak bisa, maka ia akan langsung mengatakannya. Ia tak ingin memberi Sean harapan palsu.


**


Wajah Sean berbinar-binar dan Mom Vera bisa dengan jelas melihatnya.


“Kamu sedang bahagia, sayang?” tanya Mom Vera.


“Dia memberiku kesempatan, Mom.”


“Gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya karena kesempatan tak akan datang 2 kali.”


“Aku mengerti, Mom.”


“Sahabatmu menunggu di kamarmu,” kata Mom Vera.


“Okay Mom.”


Sean membuka pintu dan mendapati Gil yang tengah terlelap di atas tempat tidurnya. Tanpa berbicara, Sean langsung menimpa tubuh Gil, hingga membuat sahabatnya itu terbangun.


“Ahhh tega banget lo, Se!”


“Lagian lo, punya kamar tidur sendiri di rumah, malah numpang tidur di sini.”


“Gue lagi males banget di rumah. Mau ngajak lo pada ngumpul, eh tinggal lo doang yang single, makanya gue ke sini,” kata Gil.


“Lo ada masalah, Gil?” tanya Sean, karena tak biasanya wajah Gil terlihat sedikit berbeda.


“Nggak, gue nggak ada masalah. Gue cuma kangen ngumpul aja. Sejak Sky menikah, kita jadi lebih jarang ngumpul.”


“Kalau masalah itu, nanti gue bantu atur sama Sky dan Daniel. Gimana?”


“Boleh, tapi kabar-kabarin gue dulu ya. Maklum, gue kan sibuk,” kata Gil.


“Ishh nih anak. Dari antara kita berempat, kayaknya lo deh yang paling santai. Dasar sok sibuk!”

__ADS_1


“Gue nginep sini ya, Se?”


“Hmm ..!!! Biasa juga lo nggak nanya. Main mandi trus ambil baju gue, trus langsung molor,” gerutu Sean, yang membuat Gil tertawa.


Malam itu, Gil menginap di rumah Sean. Ia memang memiliki masalah, namun maaalah itu ada dalam hati dan pikirannya. Ia ingin bercerita, namun raaanya sulit sekali untuk kata-kata keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menghela nafasnya pelan dan memikirkan jalan yang akan ia pilih, untuk sementara ini.


**


“Se, lo bisa bantuin gue nyari buah strawberry,” tanya Sky.


“Gampang itu mah, beli aja di supermarket,” jawab Sean.


“Tapi harus yang biji luarnya ada 30,” kata Sky lagi.


“Whattt???!! Buat apaan?”


“Ivy yang minta. Dia lagi pengen makan buah strawberry, tapi harus yang biji luarnya ada 30, nggak boleh lebih, nggak boleh kurang.”


“Lo ke supermarket aja sana, pilih dah,” kata Sean yang tidak jadi ingin direpotkan.


“Tapi Se, lo tahu kam kerjaan gue lagi numpuk banget. Tolongin gue lha, ya … ya ,” Sean mengusap wajahnya kasar. Untuk kali ini ia benar-benar merasa dikerjai oleh Sky. Namun, ia tetap pergi juga.


Di supermarket, Sean langsung beralih ke tempat buah dan mencari buah strawberry. Ia melihat ke atah buah-buah itu dan menghitung biji di bagian luar kulitnya dan semuanya lebih dari 30.


Ia menghela nafasnya kasar, kemudian mengeluarkan sebuah pinset yang sudah ia beli sebelumnya. Ia mencabuti setiap biji buah strawberry sehingga hanya bersisa 30 di setiap buahnya.


“Se!”


“Hei!”


“Apa kabar?” tanya Leon, salah satu teman seangkatan mereka dan anggota tim basket.


“Seperti yang kamu lihat,” kata Sean.


“Kita akan ada reuni sekolah. Acaranya bulan depan di cottage milikku dan ini undangannya. Kamu bisa memberikan pada teman-teman kita yang kamu temui karena aku tak bisa menemui semuanya,” kata Leon.


“Baiklah, aku akan menyampaikan pada beberapa teman kita yang masih kutemui.”


“Thanks, Se!”


“You’re welcome,” keduanya berpisah begitu saja tanpa ada obrolan panjang. Sean pun bergegas pergi ke kasir setelah menyelesaikan tugasnya membeli buah strawberry.


Selain itu, tak lupa ia membeli beberapa buah-buahan untuk ia bawa ke rumah Bella malam ini. Ia berencana akan menemui kedua orang tua Bella dan mengatakan keseriusannya.


Ia juga ingin Bella percaya bahwa dia serius dengan semua ucapannya. Ia tak akan mengulangi apa yang ia lakukan dulu. Kini ia selalu menepati janji-janjinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2