ONLY LOVE

ONLY LOVE
#78 (Sean - Bella)


__ADS_3

Sean berjalan terus menyusuri jalan setapak yang terlihat di matanya. Jarak pandangnya semakin memendek karena salju yang turun semakin lebat dan udara yang semakin dingin.


Sudah 10 menit ia berjalan, namun tak ada tanda keberadaan Bella. Hati Sean benar-benar gelisah dan pikirannya mulai memikirkan hal-hal buruk.


Kemudian ia melihat sebuah rumah tak jauh dari jalan setapak yang ia lalui. Ia melihat cahaya berwarna kemerahan menerangi bagian dalam rumah itu.


Sebuah teriakan membuat Sean membulatkan matanya. Ia mengenali suara itu dan membuatnya langsung berjalan cepat mendekati rumah kayu. Ia melihat ke dalam rumah kayu melalui kaca jendela, namun terlihat tidak ada siapa-siapa di dalam.


“Tolong!” Sean kembali mendengar suara itu dan membuatnya mencoba membuka pintu yang untungnya ternyata tidak terkunci. Ia membukanya dan masuk dengan perlahan.


Suara seorang pria terdengar dari area belakang rumah. Sean pun berjalan mendekat dan mendengar suara pria yang terus berbicara di balik sebuah pintu.


Brakkk


Sean masuk dengan paksa dengan menendang pintu kayu tersebut. Matanya membulat melihat siapa yang ada di atas tempat tidur. ia segera mendekat dan memberikan pukulan ke wajah Jarvis.


Bughh bughh bughh


“Berani sekali kamu melakukan itu, Jar!” teriak Sean sambil terus mendaratkan pukulannya ke tubuh Jarvis hingga pria itu tak sadarkan diri.


Sean yang teringat pada Bella langsung bangkit dan melihat keadaan wanita itu. Tubuh yang menggigil, mata terpejam dengan bibir yang memutih, membuat rasa takut di dada Sean semakin bertambah.


Ia mengambil selimut dan langsung menyelimuti tubuh Bella. Dengan perlahan ia membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Bella dan memindahkan ikatan itu pada kaki dan tangan Jarvis.


“Bel,” Sean memegang wajah Bella yang terlihat pucat dan menggigil. Ia langsung membuka jaket tebal miliknya dan memakaikannya pada tubuh Bella.


Sean terus berjaga di samping Bella. Ia tak mungkin menggendong Bella kembali ke cottage dengan salju yang terus turun dan angin yang semakin kencang. Ia memastikan jendela tertutup rapat agar tak ada angin dingin yang masuk.


Ia juga menarik tubuh Jarvis keluar dari kamar itu dan mengikatnya lagi di kursi agar pria itu tak ke mana-mana. Setelahnya, Sean masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


“Tolong … tolong …,” Bella mengigau dan melengkungkan tubuhnya untuk menambah kehangatan.


Sean yang mendengarnya langsung berjalan mendekat dan memeluknya, “Aku di sini, Bel. Tak akan ada yang mengganggumu lagi.”

__ADS_1


Mata Bella sedikit terbuka dan samar-samar ia tersenyum, “tolong aku, Se. Dingin …, dingin sekali.”


“Aku akan memelukmu,” Sean mendekatkan dirinya pada Bella, kemudian masuk ke dalam selimut untuk mengeratkan pelukannya.


“Aku tidak kuat lagi. Dingin … dingin sekali … Dad, Mom … Flint ….,” racau Bella.


Sean akhirnya membuka pakaiannya sendiri dan membuka jaket tebal yang ia kenakan pada Bella. Ia menyelimuti tubuhnya dan tubuh Bella dan ditimpa lagi oleh jaket tebal milik Sean.


Ia pernah mempelajari bahwa metode skin to skin bisa digunakan untuk mentransfer panas tubuh agar keduanya tetap hangat. Sean memeluk tubuh Bella yang terasa dingin, bahkan rasanya ia tak bisa menghangatkannya. Yang timbul justru rasa yang lain yang tak mungkin ia salurkan saat ini.


Keduanya akhirnya terlelap dengan kondisi Sean terus memeluk Bella. Ketika pagi tiba, cahaya tetang masuk ke dalam ruangan, membuat Sean terbangun. Ia langsung mengenakan pakaiannya kembali, kemudian mengenakan pada Bella semua pakaian yang Bella kenakan sebelumnya, meskipun sudah rusak. Lalu ia membungkusnya dengan jaket tebal miliknya.


Meskipun agak sulit karena jaket tebal yang dikenakan Bella, Sean tetap berusaha menggendongnya untuk membawanya kembali ke cottage Leon.


Saat ia melewati ruangan tempat ia mengikat Jarvis, ia menatap tajam ke arah pria yang masih terlelap dalam keadaan terikat.


“Aku akan membuatmu membayar ini semua, Jarvis!” kata Sean dengan ketus.


Sean pun segera meninggalkan rumah kayu itu dengan menggendong Bella di bahunya. Ia berjalan perlahan dan hati-hati karena tak ingin terjatuh dan melukai Bella.


“Gue mau pulang, Gil. Tolong ambilin tas gue dan tas Bella. Lo mau ikut gue pulang atau nggak?” tanya Sean tanpa mempedulikan teman-teman mereka yang lain.


“Gue ikut lo!” kata Gil tanpa banyak bertanya. Melihat kondisi Bella, Gil tahu bahwa saat ini Sean sedang marah sekaligus kuatir.


Gil berlari ke dalam dan membereskan semua barang mereka. Ia pun langsung memasukkannya ke dalam bagasi dan mengambil alih kemudi sementara Sean menemani Bella di kursi belakang.


“Gil, sorry. Gue di belakang dulu ya.”


“It’s okay, Se. Kita ke rumah sakit sekarang ya,” kata Gil dan langsung diangguki oleh Sean.


**


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gil pada Sean ketika melihat sahabatnya itu sudah duduk di sofa, setelah sebelumnya sibuk mengurus keperluan Bella. Gil ingin membantu Sean, namun sahabatnya itu tidak mau.

__ADS_1


“Jarvis,” Sean menyebut salah satu teman mereka.


“Jarvis? Apa hubungan Jarvis dengan Bella?”


“Gue nyari Bella semalam karena tak menemukan dia di mana pun. Semalam gue lihat Jarvis yang hampir melecehkan Bella.”


Mata Gil membulat dan mulutnya setengah ternganga, “Lalu di mana Jarvis sekarang?”


“Di rumah kayu tak jauh dari cottage Leon. Gue ikat dia di sana dan Gue udah hubungi pihak kepolisian untuk nangkep dia,” ujar Sean.


“Sorry Se, semalam gue terlalu larut dengan obrolan bersama teman-teman, sampai-sampai gue aja nggak sadar lo udah nggak ada di cottage,” kata Gil.


“Nggak apa-apa, yang terpenting gue masih sempat menyelamatkan Bella dari Jarvis,” Sean menghela nafasnya pelan.


“Lo balik aja dulu, bawa mobil gue nih. Gue mau temenin Bella dulu di sini,” lanjut Sean.


“Ya udah. Besok gue ke sini lagi bareng sopir. Nanti gue bawain baju ganti buat lo,” kata Gil sambil menepuk bahu sahabatnya.


“Thank you.”


Gil pun akhirnya keluar dari ruangan dan meninggalkan Sean bersama Bella. Sean yang awalnya duduk di sofa, kini bangkit kemudian mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Bella.


“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Maaf,” Sean merasa sangat bersalah, meskipun Bella juga mengijinkannya untuk berkumpul bersama teman-teman mereka.


Tak berselang lama, seorang dokter masuk ke dalam ruangan. Ia melakukan pemeriksaan kembali.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Sean.


Dokter menghela nafasnya pelan, “ia mengalami hipotermia dan sepertinya ini bukan pertama kali ia mengalaminya.”


Sean melihat ke arah Bella. Ia tak mengetahui riwayat kesehatan Bella.


“Saya akan memeriksanya lagi saat ia telah sadar nanti. Segera panggil saya ketika ia sadar,” kata sang dokter.

__ADS_1


“Baik, Dok. Terima kasih.”


🌹🌹🌹


__ADS_2