ONLY LOVE

ONLY LOVE
#79 (Sean - Bella)


__ADS_3

Dengan setia Sean selalu berada di samping Bella. Ia tak pernah pergi selain untuk mencari makanan. Bella yang berada dalam pengaruh obat masih tertidur dan kadang membuat Sean bertanya-tanya, berapa besar dosis obat yang diberikan oleh dokter.


Bella yang mulai tersadar karena dosis obat yang mulai menghilang, mengerjapkan matanya. Sean yang terjaga akibat pergerakan Bella pun langsung memegang tangan wanita yang mengisi hatinya itu.


“Kamu sudah sadar?” tanya Sean.


“Tolong aku …,” kata Bella dengan lirih.


“Aku di sini. Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Maafkan aku,” Sean memeluk tubuh Bella yang bergetar. Ia pun menekan tombol untuk memanggil dokter.


Seorang dokter jaga masuk ke dalam ruangan, karena dokter yang memeriksa Bella sebelumnya tidak ada shift malam. Saat dokter telah selesai memeriksa Bella, ia pun mengajak Sean untuk berbicara.


“Saat ini kondisinya sudah membaik, hanya saja saya melihat ada sesuatu yang mengganggu Nona Bella. Wajahnya seperti menampakkan rasa takut dan was-was. Ia juga tak menjawab apapun saat kita bertanya padanya dan lebih banyak untuk diam. Apa ada sesuatu yang menimpanya selain hipotermia yang ia alami?” tanya sang dokter jaga. Ia tak bisa mengambil kesimpulan apapun jika ia tak mengetahui penyebabnya.


“Ia hampir saja dilecehkan,” kata Sean menghela nafas pelan.


“Kalau seperti itu, ada baiknya Nona Bella menemui seorang psikiater. Kita belum tahu bagaimana keadaannya jika tidak mencobanya.”


“Baik, Dok. Saya mengerti. Terima kasih.”


Sean kembali mendekati Bella setelah dokter jaga itu pergi. Tatapan mata Bella terarah pada jendela yang kini menampakkan salju yang kembali turun. Ia langsung memeluk dirinya sendiri.


“Bawa aku pergi dari sini,” kata Bella, “Aku tidak mau di sini.”


“Aku akan membawamu pulang ketika kamu sudah sembuh. Sementara ini kamu harus berada di sini dan aku akan menjagamu,” bisik Sean di telinga Bella.


Sean sudah menghubungi keluarga Bella dan mengatakan bahwa Bella saat ini masih berada di California untuk bertemu dengan Flo. Sean tak ingin kedua orang tua Bella kuatir dengan keadaan Bella saat ini dan berpengaruh pada kesehatan Dad Kevin.


**


Seorang psikiater datang mengunjungi Bella. Wajahnya terlihat sangat ramah dan penuh senyuman. Ia seakan menebarkan aura keceriaan dan kebahagiaan pada orang-orang di sekitarnya.


“Selamat pagi, Bella!” sapa Dokter Bella. Awalnya Dokter Grace hanyalah seorang dokter umum, namun setelah menikah dengan Gregory, seorang kapten polisi, ia pun mempelajari psikologi untuk membantu suaminya itu menginterogasi para penjahat. Mereka juga kini menetap di Kota New York dan Gregory kini bekerja di Kepolisian New York, dengan rekomendasi dari sahabatnya.


Bella melihat ke arah pintu kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela. Dokter Grace masuk ke dalam ruangan dan tersenyum pada Sean yang selalu berada di samping Bella.

__ADS_1


“Apa saya boleh mengambil alih sementara waktu?”


“Silakan,” Sean pun akhirnya keluar dari ruangan dan membiarkan Bella bersama dengan Dokter Grace. Ia sendiri harus menghubungi Sky untuk meminta waktu lebih lama untuk cuti-nya kali ini. Ia tak mau meninggalkan Bella seorang diri.


Berselang 45 menit, Dokter Grace keluar dari ruang rawat Bella dan menemui Sean, “Tuan.”


“Ah Dokter, bagaimana?”


“Tak ada yang perlu dikuatirkan. Nona Bella hanya mengalami syok sementara. Saya yakin dalam beberapa hari ia akan kembali seperti semula. Ia hanya memerlukan tempat untuk bercerita, serta rasa aman.”


“Apa ada sesuatu lagi yang harus saya lakukan?”


“Tidak ada, namun buatlah dirinya senyaman mungkin,” kata Dokter Grace.


“Baik, Dok. Terima kasih.”


Dokter Grace pun segera meninggalkan tempat itu karena suaminya sudah menghubunginya. Mereka akan pergi untuk menjemput putra mereka yang kini sudah masuk ke Taman Kanak-Kanak.


Sean yang telah menyelesaikan urusannya dengan Sky, kembali masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Bella yang tersenyum ke arahnya, padahal sebelumnya hanya tatapan biasa saja.


“Hmm …”


Dengan hati-hati, Sean membantu Bella untuk duduk lebih tegak, kemudian mendorong troli meja makan yang disediakan oleh Rumah sakit.


“Ayo makan,” Sean menyendokkan makanan dan ingin menyuapi Bella.


“Aku makan sendiri,” ujar Bella.


Sean pun memberikan sendok itu pada Bella. Ia teringat akan perkataan Dokter bahwa Bella harus mencoba menggerakkan tangan dan kakinya agar sarafnya kembali bekerja dengan baik.


“Kapan aku bisa pulang?” tanya Bella.


“Jika kamu sudah sembuh.”


“Aku sudah tidak apa-apa. Dad dan Mom pasti mengkuatirkan aku.”

__ADS_1


“Aku mengatakan pada mereka bahwa saat ini kamu berada di California untuk bekerja. Maaf jika aku lancang.”


Bella menoleh ke arah Sean, “terima kasih.”


**


2 hari setelahnya, Bella diizinkan pulang dengan catatan harus rajin meminum vitamin dan obat yang diresepkan padanya. Selain itu, Dokter Grace juga berharap Bella mau menemui seorang psikiater agar rasa syok dan traumanya bisa segera pulih.


“Langsung pulang?” tanya Sean.


“Apakah wajahku sudah tidak terlihat pucat?” tanya Bella. Ia tak ingin keluarganya kuatir jika melihat keadaannya.


“Sudah tidak.”


Suasana hening begitu terasa selama perjalanan mereka kembali ke rumah Keluarga Lincoln.


“Bel, aku mau minta maaf sebelumnya, atas apa yang terjadi,” Sean tak ingin mengingatkan Bella akan kejadian malam itu, hanya saja di dadanya terasa sesak jika ia belum mengatakan maaf.


“Kamu tidak bersalah. Aku yang seharusnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rosa.”


“Rosa?” Sean yang belum mengetahui kenyataan ini pun menjadi bertanya-tanya.


“Malam itu, Rosa memintaku menemaninya ke toilet. Namun ternyata di sana telah menunggu Jarvis. Ia memberikanku obat bius, tapi aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.”


“Jangan dilanjutkan jika kamu tak ingin,” kata Sean.


“Aku akan menceritakannya padamu,” Bella sudah berani berbicara dan menceritakannya pada Sean karena ia sudah mulai nyaman berada di dekat pria itu.


“Rosa menerima sejumlah uang dari Jarvis untuk membawaku padanya. Setelah itu, aku baru tersadar lagi di dalam rumah kayu dengan keadaan sudah terikat.”


“Tak perlu diteruskan lagi, aku tahu kelanjutannya,” kata Sean.


“Apa kamu tidak merasa jijik denganku? Jarvis telah menyentuh tubuhku dan ….,” bayangan malam itu kembali masuk dalam ingatan Bella. Namun, ia langsung menggelengkan kepalanya dan mengingat hal yang lain, yang membuatnya bahagia. Dokter Grace selalu mengajarkan padanya untuk mengingat kenangan indah bersama dengan orang-orang yang kita sayangi dan cintai, hal itu akan menambah semangat dan kekuatan dalam hidup.


“Jangan kuatir, aku yang akan menghapus semua jejaknya di tubuhmu nanti. Aku pastikan ia akan mendapatkan hukuman karena berani melakukan itu padamu.”

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2