ONLY LOVE

ONLY LOVE
#85 (Gil - Sera)


__ADS_3

“Kita sebaiknya memasukkan foto Sera di dalam daftar pencarian orang hilang. Dengan lebih banyak tangan yang bekerja, pasti akan lebih cepat ditemukan,” usul Sean.


“Menurutmu begitu?” tanya Sky.


“Tapi ini sudah lama berlalu, apa pihak kepolisian masih mau menerima laporan ini?” tanya Gil.


“Aku tidak tahu. Tapi tidak ada salahnya mencoba, bukan?”


Akhirnya Sean pun memasukkan nama Sera di dalam pencarian orang hilang. Ia memberikan foto saat Sera remaja, juga foto kedua orang tuanya. Mungkin dengan itu pihak kepolisian biaa mengira-ngira seperti apa Sera setelah dewasa.


**


“Ada yang mencariku?” tanya Sera.


“Ya,” Nicole memperlihatkan daftar pencarian orang. Di sana terlihat foto Sera saat remaja dan foto kedua orang tuanya.


“Siapa yang mencariku?”


“Di sana tertulis nama Olivia.”


“Mommy?” Kata Sera dengan lirih.


“Bagaimana?”


“Tapi aku takut. Bagaimana jika Uncle Johan masih bersama Mommy. Ia pasti akan kembali memukulku dan menjualku lagi.”


“Tidak akan ada yang melakukan itu, Sera. Aku akan memastikannya. Kamu sudah seperti adik bagiku, tak mungkin aku akan membiarkanmu mengalami itu.”


“Boleh aku pikirkan dulu?” tanya Sera.


“Tentu saja,” Nicole mengusap kepala Sera. Dulu ia menemukan Sera saat baru menjalani pekerjaannya di kepolisian. Ia juga yang membawa Sera lari menuju Desa S, tempat yang menurutnya teraman saat itu.


Yang tidak ia ketahui hanyalah bahwa Sera sedang hamil saat itu. Ia merasa iba karena remaja berusia 16 tahun sudah mengalami itu. Sampai hari ini, Sera tak pernah menceritakan siapa Dad dari putranya Gerald dan Nicole tak pernah memaksanya.


“Kalau begitu pikirkanlah. Aku kembali dulu untuk menemui Dad dan Danilo.”


“Baik, Kak. Terima kasih banyak.”


Nicole menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia pun meninggalkan rumah yang ditempati oleh Sera bersama Gerald.


**


“Mommy, aku mau tidur,” kata Gerald ketika ia mulai menguap.


“Kemarilah, sayang,” Gerald naik ke atas tempat tidur dan Sera mulai membuka sebuah buku. Ia terbiasa menceritakan sebuah dongeng sebelum anaknya tertidur.

__ADS_1


Tak berselang lama, Gerald pun tertidur. Sera sangat bersyukur karena saat ia mengetahui bahwa dirinya hamil, ia memiliki Nicole yang membantunya. Bahkan sesekali Dokter Grace datang untuk memeriksa keadaannya. Meskipun ia bukan dokter kandungan, namun apa yang dilakukan oleh Dokter Grace sangat membantunya.


Gerald pun bukan anak yang sulit diatur, bisa dikatakan ia adalah anak yang penurut. Sera menghela nafasnya pelan kemudian mengusap kepala Gerald, “apa yang harus Mommy lakukan, sayang?”


Flashback on


“Kita akan pergi ke mana, Uncle?” tanya Sera pada Uncle Johan, suami kedua Mom Olivia.


“Kita akan bersenang-senang, bagaimana? Bukankah kamu sudah melalui ujian tengah semester?” tanya Uncle Johan.


“Ya!” Sera mengangguk dan menyunggingkan senyum.


“Kalau begitu kamu berhak mendapatkan hadiah!”


Sera sangat senang karena Uncle Johan sangat baik padanya. Bahkan Uncle Johan tak pernah memaksanya memanggilnya dengan sebutan Dad. Ia sangat suka dengan Uncle Johan.


“Aku ke toilet dulu ya, Uncle.”


“Baiklah, tapi jangan lama-lama ya.”


“Baiklah,” Sera mengangguk.


Di dalam toilet, Sera mengirimkan pesan singkat pada Mom Olivia. Ia mengatakan bahwa ia akan pulang terlambat karena Uncle Johan mengajaknya berjalan-jalan.


“Sudah?”


“Sudah, Uncle.”


“Kalau begitu kita berangkat sekarang,” Sera pun menganggukkan kepala.


Ia mengikuti Uncle Johan hingga menuju parkiran. Ia naik dan duduk di kursi sebelah kemudi. Wajahnya terus menampilkan senyuman karena rasa bahagia.


Sera terus memperhatikan ke arah jendela. Lalu lalang mobil seakan menarik baginya.


“Kita makan dulu ya,” ajak Uncle Johan., “kamu suka makan di mana?”


Sera menunjuk salah satu restoran fast food favoritnya. Uncle Johan memarkirkan mobilnya dan mereka turun berdua. Memesan makanan dan menikmati bersama-sama sambil sesekali mengobrol.


Setelah mereka menyelesaikan makan mereka, mereka pun kembali ke dalam mobil. Uncle Johan kembali mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang terlihat seperti gudang.


“Di mana kita, Uncle?” tanya Sera.


“Turunlah dulu. Uncle akan bertemu dengan teman Uncle dulu,” kata Uncle Johan.


Sera berdiri persis di sebelah mobil sambil melihat ke kanan dan ke kiri, sementara Uncle Johan masuk ke dalam gudang dengan sebuah pintu yang terbuat dari lembaran seng bergelombang.

__ADS_1


Tak lama, Uncle Johan keluar bersama dengan 2 orang pria berbadan besar.


“Itu anaknya, bagaimana? Nilainya sangat tinggi, ia belum tersentuh,” kata Uncle Johan.


“Sangat menarik. Baiklah, aku ambil dia.”


“Berikan padaku uangnya dan kamu holeh langsung mengambilnya,” kata Uncle Johan.


Salah satu pria itu memberikan perintah pada pria yang satu lagi. Pria yang satu kembali masuk ke dalam dan mengambil sebuah tas tangan berwarna hitam.


“Ini uangnya.”


“Terima kasih. Aku pergi dulu. Silakan kalian menikmati.”


Uncle Johan meletakkan tas itu di bagian kursi belakang. Ia pun segera masuk dan mengunci pintu, tak membiarkan Sera untuk ikut masuk ke dalam mobil.


“Uncle, bukakan pintunya! Pintunya terkunci,” teriak Sera sambil terus mencoba membuka pintu mobil.


Namun, Uncle Johan seakan menulikan telinganya dan memundurkan mobilnya terus tanpa peduli dengan Sera yang terus berteriak.


“Uncle! Uncle!” Hanya itu kata yang terdengar keluar dari mulut Sera sebelum akhirnya tak terdengar lagi suara Sera karena gadis itu telah dibawa masuk ke dalam gudang oleh 2 orang pria berbadan besar itu.


Flashback off


“Mom masih takut, sayang. Bagaimana kalau Uncle Johan masih bersama Mommy? Mommy tak ingin dia melakukan hal yang buruk lagi, terutama padamu,” Sera mencium kening putranya yang telah tertidur, terbang ke alam mimpi.


**


“Bagaimana? Apa sudah ada kabar?” tanya Gil pada Sean.


“Belum, bersabarlah. Seperti katamu, tidak mudah mencari seseorang yang sudah lama menghilang. Kita juga harus memberikan waktu bagi pihak kepolisian untuk melakukan yang terbaik,” jawab Sean.


Gil ingin segera menemukan Sera. Ia ingin meminta maaf pada gadis itu karena dirinya telah mengambil keuntungan darinya. Namun, setelah kepergian Sera dan tak ada kabar beritanya, setiap hari membuat Gil sangat merindukannya. Ia merindukan senyum dan tawa Sera yang selalu menghiasi hari-harinya.


Sera, di manakah kamu? Apa kamu tidak ingin lagi bertemu denganku? Apa kamu sangat marah padaku karena kini kamu pasti sudah tahu apa yang telah kulakukan padamu dulu. - batin Gil. Ia memejamkan matanya, hanya ada penyesalan di dalam hatinya saat ini.


“Lo nggak apa-apa, Gil?” tanya Sean.


“Nggak apa-apa,” jawab Gil.


“Tapi muka lo sedikit pucat.”


“Gue nggak apa-apa. Mungkin gue cuma cape aja, belakangan ini kerjaan gue lagi banyak-banyaknya. Maklum, orang penting,” kata Gil berusaha bercanda. Namun tak ada yang tahu bahwa di dalam hatinya saat ini penuh dengan kegelisahan dan kegundahan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2