
“Ah … ah … ahh … Kak, sakit,” dessah nafas seorang wanita yang kini sudah tak gadis lagi terdengar menenuhi ruangan.
Ia baru saja pulang dari sekolah dan dijemput oleh putra teman Mommy-nya. Kedekatan keduanya semakin terjalin karena itu, hingga tanpa disadari keduanya melakukan sesuatu di luar batas.
“Hanya sebentar saja sakitnya,” pria itu menghentak lebih dalam dan merasakan sesuatu yang hangat. Ia kembali mencium bibir gadis itu dan melummatnya perlahan untuk memberikan rasa relaks.
Setelah mencapai puncak, keduanya tertidur dengan saling memeluk, di dalam sebuah kamar hotel yang menjadi saksi pergulatan panas mereka.
“Sera!” Gil terbangun dari tidurnya. Di luar langit masih terlihat gelap, bahkan matahari sama sekali belum menampakkan warnanya.
Peluh membasahi tubuhnya, membuat Gil duduk terpaku memandang jendela kamar tidurnya.
“Di mana kamu, Sera? Maafkan aku.”
Saat kembali melihat Aunty Olivia, Gil jadi teringat apa yang telah ia lakukan pada Sera. Ia yang saat itu duduk di bangku kuliah, merasa panas saat melihat Sera bergandengan tangan dengan laki-laki lain di sekolahnya. Saat itu Sera masih duduk di kelas 1 sekolah menengah atas.
Gil membawanya berkeliling kota, mengajaknya makan. Dan ntah hasutan setan dari mana, ia membawa Sera ke hotel dengan alasan aneh. Sera yang saat itu masih polos dan percaya sepenuhnya pada Gil sebagai seorang kakak, mengikutinya tanpa curiga.
Di dalam kamar hotel, Gil memutar tubuh Sera hingga menghadap ke arahnya, “Kamu sedang menyukai temanmu itu?”
“Hmm, dia baik kak. Tapi aku belum menerima perasaannya. Saat ini kami akan berteman dulu sambil aku mengenalnya lebih dalam,” jawab Sera tersenyum.
“Jangan hanya melihat di luar dia baik, kamu harus tahu bagaimana dalamnya dia.”
“Maksud kakak?”
“Aku akan mengajarkan padamu sesuatu. Ingatlah kamu hanya boleh melakukan ini denganku. Jangan sampai melakukannya dengan laki-laki lain. Mengerti?” Kata Gil.
“Hmm …,” Gil semakin gemas dengan kepolosan Sera.
Ia menidurkan Sera di atas tempat tidur, kemudian ingatan di mana Sera sedang berpegangan tangan mulai kembali merasukinya. Gil langsung melummat bibir Sera, membuat Sera langsung kaget dan berusaha mendorong Gil.
__ADS_1
“Kak! Itu ciuman pertamaku,” kata Sera sambil mengusap bibirnya dengan tangan.
“Hmm … karena itu berikan padaku. Aku akan mengajarimu bagaimana berciuman yang benar.”
Gil kembali mencium gadis yang baru saja duduk di kelas 1 sekolah menengah atas itu. Sera selalu dijaga oleh Mommynya, Mom Olivia, sejak Daddynya meninggal. Oleh karena itu juga, Gil dipercaya untuk menjemput Sera karena kepercayaan yang diberikan oleh Aunty Olivia padanya.
Semakin lama mereka berciuman, tubuh keduanya terasa panas, terutama Gil. Tangannya mulai memegang dan meremas aset kembar milik Sera, yang terasa begitu pas di genggaman tangannya.
“Kak … Ahhh …,” dessahan yang keluar dari bibir Sera membuat Gil mulai gelap mata. Ia memberikan sentuhan-sentuhan hingga Sera seakan pasrah dan menikmati sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Kini keduanya telah polos dan tubuh keduanya menempel, tak ada jarak lagi di antara mereka. Gil tak henti-hentinya memberikan ciuman dan sentuhan di tubuh Sera yang kini terlihat begitu seksi di matanya.
“Kak …”
“Hmm ….”
Bagian bawah Sera mulai berkedut dan semakin lama semakin basah. Gil yang mengetahui bahwa Sera telah diliputi kabut gairrah kini mulai memasukkan miliknya ke inti milik Sera.
Ketika Gil berhasil memasukinya, ia merasa sangat puas dan mulai menghentakkannya perlahan. Semakin lama semakin cepat hingga nafas keduanya semakin memburu dan dessahan serta errangan memenuhi kamar hotel itu.
Gil menyemburkan benih-benihnya di dalam milik Sera, kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Sera.
“Kamu menyukainya?” bisik Gil.
“Apa aku juga bisa melakukan ini dengan James?” tanya Sera dengan polosnya.
“Tidak. Kamu hanya boleh melakukannya denganku. Mengerti? Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berciuman dan melakukan hubungan. Jangan berpacaran dulu sebelum kamu bisa melakukan semuanya. Aku akan melihat dulu apakah kamu bisa lulu atau tidak,” kata Gil. Ntah dari mana semua kalimat yang keluar dari mulutnya. Yang pasti saat ini ia mulai menginginkan lagi, karena sudah mencobanya 1 kali.
“Ooo apakah kita harus melakukan ini ketika sudah berpacaran?”
“Nanti aku akan memberitahumu semuanya. Untuk sekarang ingatlah, jangan memberitahu siapapun, termasuk Aunty Olivia. Ia pasti akan melarangmu berpacaran, karena kamu masih kecil.”
__ADS_1
“Baiklah Kak, Sera mengerti. Tapi … ini sakit sekali Kak.”
Hanya sakit sebentar, nanti juga tidak akan lagi.”
Sejak hari itu, Gil selalu meminta Aunty Olivia agar dirinyalah yang menjemput Sera. Mereka akan langsung pergi ke hotel dan belajar berpacaran, begitulah kata Gil.
“Apa aku sudah lulus, Kak?” tanya Sera.
“Memangnya kenapa? Kamu ingin cepat lulus?”
“Ya, aku ingin cepat berpacaran dengan James. Ia sudah menyatakan perasaannya padaku dan memintaku segera menjawabnya.”
Tangan Gil tiba-tiba saja mengepal. Ia tak percaya dengan apa yang Sera katakan. Mereka sudah berhubungan intim sejak 2 bulan yang lalu, tapi tak menumbuhkan perasaan di dalam diri Sera sama sekali padanya.
“Nanti aku akan mencoba membantumu bicara pada Aunty Olivia dulu. Jika Auntu mengijinkan, maka kamu boleh berpacaran,” kata Gil.
“Benarkah, Kak? Terima kasih. Aku senang sekali,” tiba-tiba saja Sera memeluknya dalam keadaan tubuh yang masih polos. Bagian bawah tubuh Gil kembali menegang, ia pun menatap Sera dalam-dalam.
“Kita belajar sekali lagi ya hari ini,” kata Gil dengan tersenyum. Sera yang masih terlihat polos itu pun mengangguk, tanpa mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh Gil telah merusak dirinya sendiri.
**
Ketiga orang temannya kini sudah menikah, hanya tinggal dirinya yang masih berstatus single. Menatap jalan di depannya, kini Gil merenungi apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia tak pernah bercerita apapun pada sahabat-sahabatnya, terutama tentang kejadian di antara dirinya dan gadis bernama Sera.
Mungkin di antara ketiga teman lainnya, dirinya-lah yang pertama kali melakukan hubungan intim dengan seorang wanita. Meskipun mereka nakal, tapi Gil sangat yakin bahwa sahabat-sahabatnya tak pernah melewati batas, berbeda dengan dirinya.
Meskipun ia selalu berusaha ceria dan tanpa beban di hadapan sahabatnya, namun ketika ia seorang diri, rasa bersalah seakan menghantui dirinya. Ia menelungkupkan wajahnya pada kemudi mobil saat berada di lampu merah. Ia menarik nafas dalam seakan beban di dalam dirinya sangat berat sekali.
Ketika lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, ia pun mulai menginjak pedal mobilnya. Namun, matanya menangkap sosok yang ia cari beberapa hari ini, yang akan membawanya pada seseorang.
“Aunty!”
__ADS_1
🌹🌹🌹