
Sean merasakan hal yang berbeda yang tak pernah ia rasakan saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Bella. Gelenyar halus di tubuhnya mulai timbul dan membuat sesuatu hampir saja terbangun.
Buliran air mulai keluar dari ujung mata Bella. Sekali lagi ia merasa direndahkan oleh Sean, setelah bertahun-tahun.
Sean yang bisa merasakan air mata Bella yang jatuh pun melepaskan ciumannya dan menjauhkan sedikit wajahnya untuk memperhatikan wajah wanita di hadapannya.
Bella ingin sekali keluar dari tempat yang sempit itu, namun pintu terhalang oleh tubuh Sean. Meskipun ia bisa menjangkau, tapi ia tetap tak akan bisa membukanya.
“Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak,” ujar Bella yang sudah tidak tahan lagi berada dekat dengan Sean.
“Apa kamu belum memaafkanku?” tanya Sean tiba-tiba.
“Maaf, Tuan. Di antara kita sebaiknya tidak saling mengenal dan biarkan aku sendiri,” tubuh Bella mulai bergetar dan Sean pun menyadari itu.
Ia pun akhirnya membuka pintu dan keluar. Bella yang melihat itu langsung menerobos keluar dan kembali ke tempat duduknya. Jantungnya masih berdetak dengan cepat dan ia pun memegang bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir milik Sean.
Sean yang telah menuntaskan sesuatu di toilet tadi, kini kembali ke tempat duduknya. Matanya sempat melihat ke arah Bella yang memalingkan wajahnya ke arah lain, seakan tak ingin melihat dirinya.
“Kamu lama sekali, Se,” kata Mom Vera.
“Hmm, tadi toiletnya sedang dipakai Mom, jadi aku menunggu sebentar,” jawab Sean.
Sean duduk bersebelahan dengan Mom Vera, sementara Sky dan Ivy menunda perjalanannya menjadi sore hari karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan terlebih dahulu.
Hampir 6 jam perjalanan dari New York ke San Diego, terasa begitu lama bagi Bella, tapi tidak bagi Sean yang rasanya ingin kembali merasakan bibir pink milik Bella.
Pesawat mendarat dengan selamat dan sempurna di Bandar Udara Internasional San Diego, yang juga dikenal sebagai Lindbergh Field. Bella masih duduk diam di kursinya dan membiarkan para penumpang yang lain untuk keluar lebih dulu. Ia bahkan mempersilakan penumpang yang duduk di sebelahnya untuk keluar.
Sean sendiri sengaja tidak keluar karena ia ingin melihat Bella. Namun yang ia tunggu tidak bangkit berdiri dan keluar. Untung saja Mom Vera juga menginginkan suasana yang lebih lengang dan tak ingin berdesakan.
“Ayo, Mom,” ajak Sean saat penumpang sudah sangat sedikit. Ia melayangkan pandangannya ke arah Bella yang masih duduk diam di kursinya, tanpa ada keinginan untuk turun.
“Kamu tidak turun?” tanya Sean. Mom Vera yang melihat interaksi antara Sean dengan Bella, merasakan sesuatu yang berbeda pada putranya.
Bella melihat sekilas ke arah Sean, kemudian berdiri. Ia mengambil koper yang ada di bagasi kabin. Sean kembali membantunya untuk menurunkan koper kecilnya.
__ADS_1
“Terima kasih,” kembali diucapkan oleh Bella pada Sean, seakan tak terjadi apapun di antara mereka.
“Ayo, Se.”
Mereka pun akhirnya turun dan langsung menuju ke hall bandara. Bella sengaja berjalan agak pelan agar ada jarak antara dirinya dengan Sean.
“Kamu menyukainya, Se? Mommy bisa melihatnya dari matamu,” kata Mom Vera pada putranya.
“Ahh, dia adalah temanku saat di Sekolah Menengah Atas dulu,” jawab Sean. Ia sendiri belum mengetahui bagaimana perasaannya dan ia belum ingin mengakuinya.
Saat ini ia hanya ingin terus berdekatan dengan Bella. Sejak pertemuan mereka kembali, ntah mengapa Sean terus saja memikirkan Bella. Bagi Sean, Bella telah banyak berubah. Ia bukan lagi Bella yang pecicilan dan genit. Bella malah terlihat seperti wanita dewasa yang sesuai dengan tipenya.
Dengan sebuah kacamata hitam, Bella berjalan menyusuri hall bandara menuju pintu keluar. Pandangannya terus tertuju ke depan. Ia langsung menuju ke pintu keluar karena ia tak perlu menunggu bagasi, sementara Sean harus menuju ke tempat pengambilan bagasi.
**
“Kamu cantik sekali, Flo,” puji Bella yang melihat Flo dalam balutan gaun pengantin cantik berwarna putih yang senada dengan gaun bridesmaid yang ia kenakan.
Gaun yang ia kenakan sudah diubah bagian bawahnya hingga tidak terlalu lebar. Bella terlihat sangat anggun dengan gaun itu.
“Mungkin dengan ini pun aku masih belum bisa membalas semua kebaikan yang kamu berikan padaku dan keluargaku,” ujar Bella.
“Kamu adalah sahabatku, jangan sungkan-sungkan meminta bantuanku.”
“Terima kasih, Flo.”
“Flo!” sapa Ivy yang datang bersama dengan Sky. Bella yang melihat itu langsung mundur dan berdiri menjauh.
“Ivy!! Ahhh aku senang sekali kamu ada di sini,” ujar Flo.
“Tentu saja aku akan datang, bahkan Rey mengundangku secara khusus,” kata Ivy dengan senyum di wajahnya.
Sky memberikan selamat kepada Flo. Ia melihat ke arah sosok wanita yang berada di ujung ruangan san ia tahu siapa wanita itu.
“Aku keluar dulu, Love. Aku akan menemui Rey,” kata Sky. Ivy pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
**
“Se,” panggil Sky.
“Ada apa?” tanya Sean pada Sky yang tiba-tiba saja memanggilnya.
“Gue ketemu dia lagi.”
Sean menautkan kedua alisnya karena ia tak mengerti maksud perkataan Sky.
“Bella.”
“Bella?” tanya Sean setengah berbisik.
“Hmm, ia berada di dalam bersama dengan Flora.”
Sean terdiam dan menatap ke arah ruangan di mana Sky mengatakan bahwa Bella berada di dalam.
“Mom, aku tinggal sebentar,” kata Sean yang langsung menuju ke ruangan Flora. Hati, pikiran, serta tubuhnya seakan membawa dirinya menuju ke arah wanita itu terus menerus.
Mungkin kedua perasaan mereka bertaut tanpa mereka sadari. Bella yang tak ingin mengganggu momen pertemuan antara Ivy dengan Flora pun mengambil langkah keluar dari ruangan.
Dengan rambut yang digerai dan sedikit ikal di bagian bawah, membuat penampilan Bella terlihat seperti dewi yunani. Mungkin kalau ia dan Flora berdiri bersebelahan, para tamu akan sedikit bingung yang mana pengantin wanitanya karena keduanya sama cantik dan menggunakan gaun berwarna senada yang sangat cantik dan anggun.
Sean langsung menarik pergelangan tangan Bella dan membawanya ke tempat yang agak sepi. Ia mengungkung wanita itu ke dinding dan menatap matanya, sementara Bella justru terus berusaha memalingkan wajahnya.
“Kamu cantik,” bisik Sean di telinga Bella, membuat tubuh Bella merasakan gelenyar halus yang tidak biasa.
Sebuah suara yang tak lain adalah MC acara pernikahan mulai terdengar. Bella yang menyadari itu pun melihat ke arah Sean.
“Maaf Tuan, aku harus pergi. Mempelai wanita sudah menungguku,” kata Bella.
“Berjanjilah dulu bahwa kita akan bertemu lagi setelah ini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Baiklah. Ku rasa kita harus segera menyelesaikan semuanya, agar tak ada yang tersisa di antara kita,” kata Bella dengan nada datar.
__ADS_1
🌹🌹🌹