ONLY LOVE

ONLY LOVE
#69 (Sean - Bella)


__ADS_3

Sean duduk di dalam ruang kerjanya. Untuk sementara waktu, selama Sky berada di negeri antah berantah untuk menikmati honeymoonnya, semua berkas yang seharusnya berada di ruangan Sky kini beralih ke ruangannya.


“Se, ini sudah semuanya,” kata Lily.


“Terima kasih, Li. Untung saja masih ada dirimu, kalau tidak aku pasti gila,” kata Sean dan membuat Lily tersenyum. Usia Lily berada 3 tahun di atas Sean dan Sky, namun ia lebih suka dipanggil dengan namanya. Ia juga telah menikah dan memiliki 2 orang anak.


“Baiklah, aku keluar dulu. Panggil aku jika kamu membutuhkan sesuatu,” kata Lily dan diangguki oleh Sean.


Sean ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya dan berharap Sky segera kembali. Ia akan mengambil cuti dan mengajak Mom Vera ke California. Di sana banyak tempat wisata dan alam yang terkenal indah.


**


“Aku akan menikah bulan depan, Bel,” Flo memberitahu Bella dengan senyuman di wajahnya.


“Aku ucapkan selamat, Flo. Aku turut berbahagia untukmu,” kata Bella dengan tulus.


“Maukah kamu menjadi bridesmaid-ku?”


Bella tak mungkin menolak permintaan Flora yang telah begitu baik padanya, dengan memberikannya pekerjaan yang lebih layak dari sebelumnya.


“Tentu saja, Flo. Aku akan selalu siap sedia. Bahkan aku siap menjadi MC di acara pernikahanmu,” kata Bella.


“Ahh iya benar, kamu lebih cocok menjadi MC. Tapi kali ini aku ingin kamu menjadi bridesmaid-ku saja. Datanglah ke alamat yang akan kukirimkan via pesan padamu. Di sana kamu bisa mencoba gaun yang akan kamu gunakan nanti di acaraku.”


“Baiklah, Flo.”


Bella pun menyerahkan pekerjaannya pada salah satu anggota tim marketing di sana. Ia akan mengikuti permintaan Flora dan tentu saja tak akan mengecewakannya.


Dengan menggunakan sepeda motor, Bella pun menyusuri jalanan Kota New York. Bila menggunakan kendaraan umum seperti bis atau taksi, ia merasa akan menghabiskan waktu di jalanan Kota New York yang terkenal dengan kepadatannya.

__ADS_1


Bella memarkirkan motornya di area parkir sebuah butik yang terlihat begitu mewah. Setelah melepas helm dan jaket yang ia kenakan, ia memasuki butik melalui sebuah pintu kaca.


“Selamat siang,” sapa Bella saat masuk dan melihat seorang staf di sana.


“Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?”


“Aku ke sini atas permintaan Flora.”


“Ooo Nona Flo. Mari ke sini, Nona,” staf tersebut membawa Bella menuju ke sebuah ruangan di mana terdapat banyak gaun berwarna putih. Bella cukup takjub melihat ruangan dengan banyak kaca di bagian lain, tanpa sadar ia tersenyum.


2 orang staf butik tersebut membantu Bella memilih gaun, “Cobalah yang ini, Nona.”


“T-tapi saya bukan pengantinnya. Saya hanya bridesmaid saja,” kata Bella karena staf tersebut memberikan sebuah gaun yang begitu indah dengan bagian belakang sedikit menjuntai ke lantai.


“Hmm, kami diminta untuk merubahnya dari gaun-gaun ini, Nona. Nona Flo menginginkan pesta yang sederhana namun terlihat elegan dan ia meminta kami untuk membantu memilih dari gaun-gaun khusus di lemari ini,” kata staf itu.


“Baiklah, terserah Flo saja,” akhirnya Bella pun mencoba gaun tersebut.


Pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka, “ah Tuan Sean.”


“Aku hanya ingin mengembalikan gaun pengantin ini,” Sean membawa gaun pengantin yang dipergunakan oleh Ivy di acara pernikahannya. Salah seorang staf mengambil gaun pengantin yang dipergunakan oleh Ivy dari tangan Sean. Ivy memang tidak berencana untuk menyimpan gaunnya karena ia berpikir ia tak akan menggunakannya lagi dan akan lebih baik jika bisa dipergunakan lagi oleh wanita lain yang menginginkan model seperti itu dengan harga yang lebih terjangkau.


Mata Sean terhenti saat melihat sosok wanita yang ia kenal tengah menggunakan sebuah gaun pengantin yang terlihat begitu indah.


Dia akan menikah? - batin Sean.


Bella yang selesai memperhatikan dirinya di cermin melihat kehadiran Sean. Mata mereka bersirobok, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.


“Aku ambil yang ini saja, tapi minta bagian bawahnya diubah sedikit agar tidak terlalu panjang,” kata Bella pada seorang staf.

__ADS_1


Sean tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Bella, namun ia hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa Bella menyukai gaun yang ia kenakan.


Bella pun masuk kembali ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaian kerjanya. Ia ingin segera kembali ke tempatnya bekerja karena ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pembeli ataupun penyewa karena ia mendapatkan insentif dari sana.


Bella keluar dari ruang ganti. Ia melihat sekeliling dan sudah tak menemukan Sean, ia bernafas dengan lega. Berada jauh dari Universe Boys adalah hal yang paling ia inginkan.


Keluar dari butik, Bella langsung menghampiri motor yang ia parkir. Ia mengeluarkan kunci dari dalam tas miliknya. Bella menggunakan jaket yang ia simpan dalam bagasi motor, namun baru ia mau menggunakan helm, tubuhnya berputar ke arah lain.


“Kita harus bicara,” ucap Sean.


“Lepaskan aku! Tidak ada yang harus kita bicarakan, Tuan,” Bella menghempaskan tangan Sean yang berada di pinggangnya. Berurusan dengan Sean, sama saja mengembalikan ingatannya pada masa-masa kelam dalam hidupnya.


“Bel!”


Bella memutar tubuhnya dan menatap mata Sean dengan tajam. Nafasnya seakan memburu dan ingin sekali ia memukul dan menghajar pria yang ada di hadapannya itu.


“Cepat katakan apa yang mau anda katakan, saya harus segera pergi. Tidak ada waktu untuk berlama-lama di sini,” kata Bella dengan ketus.


“Aku … aku minta maaf.”


Bella menatap Sean dengan tatapan mengejek, “Maaf Tuan, saya tidak mengingat anda dan saya rasa tidak ada yang perlu dimaafkan. Jika mengenai janji anda di cafe tempo hari, saya maklum mengingat anda adalah orang yang sangat sibuk.”


Bella kembali memutar tubuhnya dan mengambil helm. Ia segera memasangkannya di kepala dan menaiki motornya. Ia segera menyalakan mesin motornya dan pergi dari hadapan Sean. Berlama-lama di dekat pria itu membuat nafasnya terasa sesak.


Ia dulu sempat mengalami hipotermia ringan dan membuatnya dirawat beberapa waktu di rumah sakit. Ia pun harus kehilangan kesempatan untuk mengikuti ujian akhir sekolah dan terpaksa menundanya selama 1 tahun, yang artinya ia akan semakin membebani keadaan orang tuanya yang kala itu ternyata sedang menghadapi masalah dengan usahanya.


Oleh karena itulah kini Bella bekerja mati-matian hanya untuk keluarganya. Ia tak ingin brrurusan dengan cinta yang menurutnya tak memiliki kepastian. Ia memiliki keluarga yang lebih pantas untuk mendapatkan semua cinta dan perhatiannya.


Sean terdiam berdiri memandang kepergian Bella. Jantungnya berdetak dengan cepat saat berdekatan dengan Bella, membuatnya merasakan hal berbeda dalam tubuhnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2