ONLY LOVE

ONLY LOVE
#72 (Sean - Bella)


__ADS_3

“Tunggu aku di sini, aku akan segera kembali. Aku akan mengantar Mommyku terlebih dahulu,” kata Sean ketika melihat Bella yang akan kembali ke area penginapan dari tempat resepsi setelah acara selesai.


Bella melihat ke arah Sean dan menghela nafasnya pelan. Ia pun mengangguk, kemudian pergi ke area penginapan. Flora menyediakan tempat menginap khusus untuk Bella di pinggir pantai San Diego selama 3 hari 2 malam. Sementara dirinya akan langsung pergi ke Benua Eropa untuk honeymoon.


Bella masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan ia merasa tubuhnya sudah sangat lengket. Ia pun pergi berendam sebentar untuk me-relax-kan tubuhnya.


Setelah seleaai, ia menggunakan piyama tidur panjang. Meskipun hari sudah malam, tapi ia belum bisa memejamkan matanya. Selain itu, ia akan menunggu Sean karena mereka akan membicarakan masalah mereka.


Bella membuka pintu resort kecil yang disewakan oleh Flora. Pintu teras yang langsung menghubungkan antara kamar tidur dengan pantai, ia buka dan ia keluar. Mendengar deru ombak dan suasana malam yang sunyi dan tenang, membuat Bella merasa nyaman.


Ia berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki. Sesekali air laut mengenai kakinya. Rambut panjang dan wajahnya diterpa oleh angin, membuat ia memejamkan mata kemudian merentangkan kedua tangannya.


“Bel,” Bella menoleh ke belakang ketika mendengar namanya dipanggil.


Bella memutar tubuhnya dan kembali berjalan ke arah resort. Ia duduk di kursi yang berada di teras.


“Duduklah, bukankah kamu ingin bicara?” kata Bella pada Sean.


Sean yang belum berganti pakaian, kini duduk di kursi satu lagi yang lebih panjang yang ada di teras itu. Ia melihat ke arah Bella yang diam menunggunya bicara, tapi sama sekali tidak melihat ke arahnya.


Apakah seperti ini rasanya tidak dipedulikan dan tidak dianggap? - batin Sean seakan meringis membayangkan apa yang dulu pernah ia lakukan pada Bella. Namun, itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, sahabat-sahabatnya-lah yang membuatnya masuk dalam hubungan dengan Bella.


“Bel, mengenai masalah 10 tahun yang lalu … maukah kamu memaafkanku?” tanya Sean.


Bella tertawa kecil seakan menertawakan pernyataan Sean, “Jika aku memaafkanmu, apa kamu mau mengabulkan permintaanku?”


“Ya, aku akan mengabulkan apapun, asalkan kamu mau memaafkanku.”


“Baiklah, aku memaafkanmu,” dengan mudahnya Bella memaafkan Sean, membuat Sean banyak berpikir. Ia kira akan sulit dan memerlukan waktu yang panjang untuk meyakinkan Bella untuk menerima permintaan maafnya.

__ADS_1


“Kamu yakin?”


“Hmm, aku yakin. Aku sudah memaafkanmu, sekarang kamu harus mengabulkan permintaanku.”


“Katakanlah.”


“Menjauhlah dariku. Jangan menggangguku lagi dan anggaplah kita tidak pernah saling mengenal,” kata Bella sambil menatap lurus ke arah pantai.


“Tidak! Aku tidak bisa! Kalau begitu lebih baik kamu tidak memaafkanku,” kata Sean dengan keras.


“Apa sulitnya bagimu? Bukankah sejak dulu itu juga yang kamu inginkan, agar aku menjauh dan tak mengganggumu.”


“Ya, sulit untukku.”


“Tapi tidak untukku. Bukankah selama ini kehidupanmu sudah baik-baik saja tanpa ada aku yang mengganggumu? Kembalilah seperti itu, karena aku juga sudah nyaman dengan kehidupanku saat ini,” kata Bella dengan tegas.


“Bel, izinkan aku untuk menebus kesalahanku dulu. Maaf … jujur aku tidak tahu bahwa kamu menungguku selama itu dan menyebabkan dirimu harus menunda ujian akhir sekolah selama 1 tahun.”


“Pergilah, sudah malam dan aku mau istirahat,” Bella bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke arah kamarnya.


“Bel,” Sean dengan cepat meraih pergelangan tangan Bella dan menarik wanita itu hingga ia terjatuh di dada Sean. Wajah mereka begitu dekat dan tubuh mereka saling menempel, hanya berjarak pakaian yang melekat di tubuh mereka.


Sean langsung menahan tengkuk Bella dan kembali mencium bibir wanita itu. Pikiran Bella mengatakan kalau ia harus segera melepaskan diri dari Sean, namun tubuhnya seakan berkata lain dan enggan untuk menjauh dari pria yang pernah menyakiti hatinya itu.


Dengan gerakan cepat, Sean memutar tubuhnya hingga kini Bella-lah yang berada di posisi bawah, yang juatru berada dalam kungkungan Sean. Mata mereka saling menatap, seakan terikat satu sama lain dan tak ingin lepas.


“Aku tak akan pernah mau menjauh lagi darimu. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku. Ntah sejak kapan, pikiranku hanya tertuju padamu dan aku tak bisa menghilangkannya. Sepertinya … aku mencintaimu.”


Perkataan Sean membuat Bella membulatkan matanya. Ia tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulu Sean dan tentu saja Bella tak akan percaya begitu saja.

__ADS_1


“Kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya kehilangan perhatian yang dulu pernah kuberikan padamu. Pulanglah, aku ingin sendiri.”


“Bella!”


“Aku lelah. Biarkan aku sendiri. Aku perlu memikirkan banyak hal.”


Jika saja Sean mengatakan hal itu dulu, mungkin ia akan melompat dan berteriak bahagia. Namun ketika kata-kata itu keluar saat ini, justru menambah rasa sakit dalam dirinya.


Bella masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup rapat pintu kaca penghubung. Ia juga menutup gorden berwana kecoklatan itu, membiarkan Sean duduk diam seorang diri di sana.


Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan merentangkan kedua tangannya. Ia menatap ke langit-langit, namun beberapa kali ia melihat ke arah gorden di mana pintu penghubung dengan teras berada.


Ia pasti sudah pulang. - batin Bella. Ia pun akhirnya memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.


**


Keesokan paginya,


Bella yang sudah terbiasa bangun pagi, sudah terbangun di jam 5 pagi. Ia berjalan ke arah pintu teras dan membuka gorden. Matanya membulat ketika melihat Sean yang masih berada di teras dan tidur di kursi panjang.


Ia segera membuka pintu dan menghampiri, “Hei, bangunlah!”


Bella berusaha membangunkan Sean, namun pria itu tampak tertidur dengan lelapnya. Ia bisa merasakan kulit tubuh Sean yang begitu dingin, membuatnya langsung teringat pada hipotermia ringan yang pernah ia alami. Ia pun langsung masuk ke dalam dan mengambil selimut, kemudian ia menyelimuti Sean.


Menatap wajah Sean yang tengah tertidur, membuat Bella tanpa sadar tersenyum. Namun, dengan cepat ia sadar dan kembali menjadi Bella yang datar dan tak peduli.


“Bangunlah!” Sekali lagi Bella mencoba membangunkan Sean.


Sean menggeliat sedikit dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap Bella langsung mendekat dan tanpa sengaja memeluk Sean agar pria itu tidak jatuh.

__ADS_1


“Aku suka harum tubuhmu, aku menyukai bibirmu, dan aku menyukai semua hal tentang dirimu.”


🌹🌹🌹


__ADS_2