Pacarku Buaya

Pacarku Buaya
COKER Cowok Keren


__ADS_3

Pacar Idiot Bab 10


Oleh Sept September


Wisuda sudah berlalu, setelah acara selesai Tata dan Dian memilih kumpul-kumpul setelah semua serangkain acara berakhir. Bersama beberapa teman yang lain, mereka sepakat berkumpul di rumah Dian.


Rumah Dian sangat asri, di depan rumah terdapat banyak pohon mangga. Cukup luas sehingga mampu untuk dipakai parkir motor beberapa buah.


"Nih ... kemarin bunda gue petikin mangga banyak. Dirujak enak," kata Dian yang menenteng satu baskom mangga yang terlihat mengiurkan.


"Wah, enak banget. Cabenya yang banyak!" celetuk teman yang lain. Semua terlihat bersemangat. Ada yang menyiapkan buah yang lain, ada yang membuat dan meracik bumbu, sedangkan Tata malah duduk melamun di depan buah nanas yang belum dikupas.


"Taaa! Itu buahnya gak bisa dimakan kalau kamu lihat saja!" celetuk Dian.


Tata menoleh, kemudian meraih pi sau. Gadis remaja itu kemudian mulai mengupas kulit nanas yang tajam tersebut.


"Eh, minggu depan, kita main rame-rame ke dufan, ya?"


"Wah, pasti seru."


"Ke Ragunan aja?"


"Ngapain? Mau cari sodara yang hilang?"


Semua langsung terkekeh berjamaah. Kecuali Tata, wajahnya kusut seperti cucian kotor yang ada di pojok ruangan.


"Ta, Lo sakit?" tanya teman Tata.


"Malarindu dia!" sela Dian.


Dian langsung mendapat tatapan tajam dari Tata. Usil sekali Dian, dari tadi suka mancing-mancing.


"Apaan sih, Yan! Ember banget!" ucap Tata kemudian mencubit lengan temannya tersebut.


Mereka semua pun bercanda ria, menikmati sekaligus merayakan hari kelulusan. Bukan diisi dengan konvoi seperti teman kelas yang lain, mereka lebih suka masak rujak sambil berceloteh banyak hal.


***


Sudah sore, semua pun mulai pulang. Tata sendiri pulang pakai motor, sendirian.


"Berani?" canda Dian.


Tata hanya mendesis, kemudian mulai menyalakan mesin motornya.


"Dah, aku pulang dulu ya. Makasih banyak yaaa!"


"Hati-hati, Ta."

__ADS_1


Tata mengangguk, kemudian memakai helm lalu mulai menstater motornya.


"Bye!"


"Hati-hati!"


Tata pun pulang, sepanjang jalan ia malah melamun. Ada sesuatu yang mengganjal. Sebab, tidak dapat dipungkiri. Bahwa ia juga penasaran, apa Dimas juga sudah wisuda?


'Ish, kenapa kamu mikir cowok gak jelas itu, Ta?' rutuk Tata dalam hati.


********


Beberapa bulan kemudian.


Tata sedang duduk di bangku perpustakaan, gadis itu sedang fokus dengan bacaan yang ada di depannya, sampai tidak sadar Dian duduk di depannya.


"Baca apa sih?"


Tata langsung mendongak, kemudian menutup bukunya.


"Gak ada kelas?" tanya Tata.


Mereka satu kampus, tapi beda jurusan. Tata jurusan sastra Jerman sedangkan Dian jurusan ilmu komunikasi.


"Udah, udah selesai. Eh ... nanti ke mall yuk, ada beberapa kebutuhan yang harus aku cari, sekalian cari camilan."


Dian menghela napas panjang, andai mereka satu jurusan, bisa bersama-sama, happy-happy bareng kaya SMA dulu.


"Ya udah, aku balik duluan."


"Hemm, hati-hati."


***


Seperti rencana semula, Tata akhirnya janjian sama Tafli, temen satu jurusan. Mereka sedang siap-siap untuk camping yang diadakan beberapa hari lagi.


"Sudah pernah ke Bromo, Ta?" tanya Tafli.


"Belum," jawab Tata jujur sambil memilih beberapa barang yang ada di rak.


"Aku udah ke sana 2 kali. Dingin banget di sana. Nanti kamu bawa jaket yang paling tebal."


"Oke, sip."


Keduanya pun melanjutkan belanja mereka. Kemudian pulang ke rumah masing-masing, Tata pulang dengan membawa kantung besar, ada makanan serta peralatan untuk camping. Semuanya sudah siap, sudah ready. Tingga menunggu berangkat.


***

__ADS_1


Di halaman kampus sudah berjejer bus untuk membawa anak-anak menuju gunung Bromo di jawa timur. Sepanjang perjalanan, para mahasiswa tersebut memainkan musik. Bernyanyi bergembira bersama. Semua terlihat begitu antusias, tidak sabar melihat indahnya lukisan alam yang cukup terkenal tersebut.


Setelah mengendara sangat jauh, akhirnya mereka tiba juga di tempat yang cukup dingin tersebut. Tata yang sejak tadi tidur, langsung segar kembali saat hawa dingin menusukk kulit.


"Ya ampun, dingin banget."


"Pakai jaket lagi, Ta."


"Ini udah tebel."


"Kurang tebel itu."


Tata kemudian masuk lagi ke dalam bus. Dan dia mengambil syal kemudian ia lilit di lehernya.


"Lumayan."


Tap tap tap


Tata turun, kemudian mengambil ransel. Mereka kemudian ganti kendaraan untuk menuju lokasi camping.


Beberapa jam kemudian, mereka harus jalan kaki melewati jalan setapak. Ya, karena kendaraan tidak bisa maju ke depan. Mereka harus jalan kaki. Karena ini pengalaman pertama Tata, meski lelah, ia masih tetap semangat. Hingga kakinya yang sudah lelah itu menginjak bukit dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.


"Taf, ini sih indah banget."


Tafli kemudian mengambil ponselnya.


"Sini, gue poto."


Tata kemudian berpose, setelah dipoto, ia kemudian menyimpan lagi ponselnya. Kemudian menyusul teman yang lain yang sedang membuat tenda.


Tidak jauh dari sana, ada rombongan dari universitas lain. Tata sih tidak kepo, beda dengan teman-temannya, yang terlihat heboh karena salah satu mahasiswa yang mencuri perhatian.


"Ta ... sini deh. Ada pemandangan gratis."


Tata menoleh. "Apa?"


"Tuh ... cowok kece."


Mata Tata kemudian beralih ke sebuah bebatuan, di mana seorang pria sedang berdiri sambil membidik panorama alam dengan lensa mahalnya.


"Ternyata di gunung malah ketemu cowok keren!" canda Tafli sambil mencari ponselnya. Ia mau mencuri foto dulu.


Sedangkan Tata, gadis itu malah tertegun. Dari samping saja Tata bisa mengenali sosok tersebut.


Bersambung


Fb Sept September

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2