
Pacar 99% Bab 16
Oleh Sept September
Menuju Jakarta, sepanjang jalan Tata terus saja menatap pemberian Dimas. Bibirnya mengulas senyum, tapi saat Tafli yang duduk di sebelahnya hendak meledek, Tata langsung memasukkan benda tersebut dalam saku jaket miliknya.
Tata kemudian merapatkan jaket hoodie, lalu memilih pura-pura tidur. Lagian ia juga sudah merasa lelah sekali, meskipun begitu camping ini terasa begitu mengasikkan. Rasanya Tata sangat puas, entah karena acarannya, atau karena cowok yang ada di camp tersebut.
***
Sepanjang jalan Tata habiskan dengan istirahat dan tidur, sampai tidak terasa mereka telah kembali ke kota metropolitan. Begitu tiba di kampus ternyata Tata sudah dijemput. Ada ayah dan ibu serta adeknya.
"Loh, Ayah kapan datang?"
Ayah Tata yang selama ini kerja di luar pulau ternyata sudah pulang, untuk memberikan surprise pada sang anak, ia langsung menjemput Tata, mengajak istri dan anak terakhir mereka yang kini masih SD.
"Kemarin, Ayah mau samperin ke Malang, gak boleh sama ibumu."
"Ayahmu ada-ada saja, anak camping sudah besar juga masa ditengok!" sela ibu Tata sembari mengusap adik Tata yang masih kecil.
Tata tersenyum senang, kemudian meminta untuk segera pulang, karena ia capek banget, mau mandi juga.
Ayah menjemput pakai mobil milik paman Tata yang rumahnya di sebelah rumah mereka pas, untuk saat ini mereka belum punya mobil sendiri. Rencananya akan beli, nunggu ayah Tata balik dari luar pulau.
"Beli yang seperti punya om aja, Yah."
"Kamu mau?" tanya ayah.
"Jangan, kok mirip," protes ibu Tata.
"Ya sudah, terserah ibu aja. Mau model apa. Avanzaa boleh?"
"Nah, itu aja ya."
Tata tersenyum melihat keluarganya yang bahagia, tapi sayang. Karena mereka jarang melalui moment bersama seperti ini. Ayahnya paling juga balik lagi, ia juga akan ke kos lagi. Rumah pun sepi kembali. Karena tuntutan ekonomi, sang ayah harus kerja ke luar pulau.
***
Kurang dari satu jam, mereka sampai di sebuah rumah. Rumah kediaman pak Abdullah, ayah Tata.
Turun dari mobil, Tata membatu ayahnya menurunkan tas yang ia bawa. Kemudian langsung menuju kulkas, gadis itu kehausan, ingin yang dingin-dingin langsung dari lemari es.
"Mbakkkk ... jangan diminum! Itu punya Icaaaa!"
Anak kecil dengan rambut ekor kuda itu langsung mengambil sebotol jus yang akan diminun Tata.
'Idih, bocil pelit!' Tata menjulurkan lidah, meledek adiknya yang masih TK tersebut.
"Ibuuuuu mbak Tata nakal!"
Mata Tata langsung melotot, ingin rasanya mencubit pipi Ica yang gembul tersebut.
"Lah anak ini!"
"Taaaa!" panggil ibunya.
Tata pun akhirnya mengalah, mengambil air putih dan masuk ke kamarnya. Namun, sebelum masuk kamar ia berbalik.
__ADS_1
"Awas ya, besok Mbak ke indoapril nggak Mbak ajak."
Tata sengaja mengancam anak kecil yang polos itu. Membuat Ica kembali mengadu pada ibunya.
"IBUUUU!"
"TAAAA!"
Buru-buru Tata kabur sebelum adiknya menangis. Di dalam kamarnya, ia tersenyum ketika ponselnya berbunyi.
"Ya."
"Sudah sampai?"
"Sudah. Barusan."
"Oh. Lagi apa?"
"Lagi rebahan."
"Gak mandi?"
"Iya, bentar lagi."
"Mandi dulu, nanti aku telpon lagi."
"Ya."
"Dah."
"Hem."
Beberapa saat kemudian, Tata sudah wangi, sudah harum, sudah segar.
Tok tok tok
"Ta ... makan," panggil ibunya.
"Bentar!"
Tata yang sedang mengeringkan rambut, kemudian meletakkan handuknya di hanger. Menggantung di tempat biasanya, kemudian keluar.
Mereka semua makan bersama-sama, kebetulan ayah Tata tadi beli bebek goreng, malam ini mereka pesta, makan bareng makan bebek goreng dari tempat langganan ayah. Tata begitu buru-buru makan, tidak seperti biasanya. Sampai ibunya heran.
"Sini loh, habis makan nonton TV bareng."
"Itu, Bu ... ada tugas dari camping kemarin belum Tata kerjakan," ucap Tata mencari alasan.
"Iya, iya ... gak apa-apa," sela ayah Tata. Dan membuat gadis itu langsung ngibrit.
Benar saja, begitu masuk kamar, ponselnya banyak sekali miss call. Tata pun mengirim pesan.
[Habis makan]
Beberapa menit kemudian, ponsel Tata berdering.
"Hallo," sapa Dimas.
__ADS_1
"Ya."
"Oh ya, bagaimana cincinnya? Apa pas? Itu sama seperti yang aku pakai."
"Ow ... cincin couple?"
"Ya. Apa pas?"
"Sepertinya."
"Nggak dipakai?"
"Em ... Masih aku simpen."
"Oh, kamu gak suka?"
Tata diam sesaat.
"Suka, bagus kok."
"Syukurlah."
Keduanya telpon begitu lama, sampai telinga mereka panas. Sampai Tata menguap dan ketiduran. Dimas sengaja tidak mematikan ponselnya, ia membiarkan telpon itu terus meyala. Sampai batrenya habis.
***
Hari-hari berlalu, Tata dan Dimas masih sering komunikasi, meskipun hanya lewat telpon dan pesan singkat. Seperti janjinya, Dimas menempati apa yang ia katakan saat mereka camping kemarin.
Pulang dari kampus, Tata ketar-ketir, dag dig dug menunggu kedatangan Dimas. Tadi katanya sudah OTW, tapi sudah satu jam lebih cowok itu tidak muncul.
"Kamu mondar-mandir kaya setrika, ngapain sih, Ta?" tegur teman satu kosan Tata.
Tata hanya tersenyum tipis, kemudian mengintip pintu.
"Nunggu apa sih, Ta? Abang tukang bakso? Apa abang siomay?"
"Ish!" Tata mendesis.
...
...
Mbremmm
CHITTTT
Tata langsung buru-buru keluar, mengintip kembali. Wih, ia sedikit terkejut ketika Dimas turun dari sebuah mobil yang parkir di depan kosan.
'Kenapa dia jadi tambah berlipat-lipat kerennya?' batin Tata.
Dimas turun, melepaskan kacamata hitam, kemudian tersenyum padanya.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
__ADS_1
Follow yaaa hehehe