
Pacarku Buaya Bab 24
Oleh Sept
Langit hari itu sangat cerah, dibalut awan tipis-tipis membuat cuaca terasa panas. Tata sedang makan siang di luar dengan satu timnya. Mereka berangkat satu mobil milik teman Tata. Sambil menikmati makanan, mereka saling ngobrol.
"Ta, beli tu mobil gue. Buat modal kawin!" ucap teman Tata yang bernama Jhoni tersebut.
Tata mencebik, ia hanya melempar senyum. Mana ada duit si Tata, ada sih, tapi bukan buat mobil. Tata simpen buat ditabung, dan beberapa ia berikan pada sang ibu. Sebagai rasa terima kasihnya selama ini, meskipun mau ditebus berapa pun gak bakal lunas, dan Tata paham betul akan hal itu.
"Emang berapa?" sela Sandi kemudian yang sepertinya tertarik.
Semua orang menatap ke arah Sandi. Maklum, biar penampilan kece, Sandi ini kini terlihat sederhana. Semua dapat dinilai dari gadget yang dipakai pria tersebut. Padahal, apa yang terlihat kadang tidak seperti kelihatannya. Bisa saja Sandi anak orang kaya, tapi lebih milih tidak mengumbar kekayaan. Tuh, buktinya dia tanya harga mobil Jhoni.
"Seratus lah, bolong dikit juga gak apa-apa," jawab Jhoni.
"Oh, 100 ya? 95 aku mau."
"Heh?" Tata menoleh. Ini Sandi serius mau beli mobil? Magang aja baru berapa bulan.
"Beneran lo?" tanya Jhoni tak percaya.
"Hemm."
"Eh, Sand, jangan canda kamu ya," sela Tata.
"Udah, Ta. Dia serius kok. Kalau gini, gue bisa langsung urus dokumen pernikahan." Jhoni tersebut lebar.
"Oke, ini semua gue bayar. Makan sampai puas, gue traktir," tambah Jhoni yang mobilnya laku buat modal kawin.
Tata hanya geleng-geleng. Kemudian menikmati camilan kentang gorengs yang crispy.
***
Pulang dari makan bareng, mereka balik lagi ke kantor. Kembali serius dengan pekerjaan dan target yang diberikan perusahaan pada tim mereka.
Mereka sangat solid, karena bekerja dengan hati yang gembira. Apalagi usia yang tidak beda jauh. Kalau berselisih pendapatan pun, mereka langsung diskusi. Hingga pada suatu hari, perusahaan mengadakan event di seluruh kota besar. Tata kebagian yang di Malang. Padahal ia berharap ikut event yang di Jakarta, sekalian pulang.
__ADS_1
Bersama Sandi, sabtu sore Tata dan tiga orang lain pergi ke kota batu. Event akan di adakan di Matos, Malang town square.
Terbiasa udara panas di Surabaya, kini Tata merasakan kesejukan yang berbeda. Malang rupanya asik juga, pas perjalanan juga seru. Melewati lembah dengan aliran air dari gunung yang mengalir deras. Jernih, dan sepertinya sangat segar. Pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Minggu pagi, Tata yang menginap di salah satu hotel di kota apel tersebut, sedang menikmati pagi di balkon hotel. Pemandangan di depannya sangat indah, rasanya ia ingin di sana lama. Padahal, dia cuma dapat jatah 5 hari, dan dua harinya ia bebas. Entah mau balik minggu sore atau kapan, yang jelas, senin depan ia sudah harus masuk dan memberikan laporan.
"Ta!"
Panggil seseorang dari balkon di sebelahnya. Itu adalah Sandy dan Jhoni.
"Mumpung belum ada jadwal, anak-anak ngajak main. Ikut gak?" Tata menggeleng. Ia sudah ada rencana lain.
"Sorry, aku ada acara lain."
Sandi kepo, ia jelas penasaran.
"Ke mana?"
"Ada, ada sodara di sini," jawab Tata bohong.
"Oh."
"Iya."
"Hotel apa, Ta? Aku ke sana. Nanti aku tunggu di lobby."
"Oke."
Tata buru-buru mandi, siap-siap mau ketemu mantan. Bukan untuk balikan, Tata hanya penasaran. Sudah itu saja, sekalian mau ngucapin turun bela sungkawa atas meninggalkan ibu dari Dimas tersebut.
Satu setengah jam kemudian.
Sebuah pesan SMS masuk. Membuat hp Tata bergetar.
[Ta, aku sudah di lobby]
Tata pun langsung membalas.
__ADS_1
[Oke, aku Otw turun]
Saat akan keluar, Tata malah berpapasan dengan Sandi yang juga baru membuka pintu.
"Tumben dandan, Ta."
Mendengar celetukan Sandi, Tata langsung mengkerut.
"Menor, ya?"
"Nggak juga sih. Cuma lipstiknya terlalu terang."
"Oh."
Tata langsung mengambil tisu, padahal anti air, mungkin Tata lupa. Tapi karena ia gosok keras, malah make upnya acakadut.
Sandi hanya tersenyum melihat tingkah konyol Tata, keduanya pun masuk lift sama-sama, dan menuju lobby yang sama.
TUTTT
Pintu lift terbuka, Tata berjalan sambil memeriksa riasan.
"Gimana? Belepotan gak lipsticknya?"
Sandi tersenyum. Kemudian mengulurkan tangan, ia usap bibir Tata yang sedikit coreng moreng tadi dengah jempolnya.
"Sudah ... sudah perfect!" puji Sandi dengan tatapan yang dalam.
Mereka berdua tidak tahu, ada api cemburu yang mulai menyala. Dimas menatap nanar pada pemandangan yang mengusik hati tersebut.
'Dia ngajak ketemu, cuma mau tunjukkin cowok barunya? Kamu terlalu PD, Dim ... kelewat penuh harap,' batin Dimas kemudian meraih kunci mobil yang ia letakkan di sebelahnya. Pria itu berbalik, pergi tanpa sempat menyapa Tata. Tanpa mengucap kata, pergi bagai angin, tanpa jejak. BERSAMBUNG
Gitu aja, Dim dim ... lah selama ini kamu main api apa tidak mikir perasaan anak orang dipakai mainan? Mainan itu main bekel, main slodoran, main kelereng, jangan main hati. Hehehe. Ingat, kurma itu manis. Dan karma itu pahit.
IG Sept_September2020
Fb Sept September
__ADS_1