Pacarku Buaya

Pacarku Buaya
Kapan Nikah


__ADS_3

Pacarku Buaya Bab 26


Oleh Sept


"Mas, aku balik duluan. Papa telpon." Desi tiba-tiba pamit, karena papanya memintanya pulang. Kebetulan, Dimas jadi bisa lama-lama dengan Tata, tanpa ada penganggu.


"Naik taksi, ya. Mas Dimas kasih ongkos," kata Dimas lalu mengeluarkan dompetnya.


"Gak usah! Desi punya uang!" potong Desi dengan ketus, tapi bercanda.


"Mbk Tata, aku pulang ya. Lain kali semoga bisa ketemu lagi," pamit Desi.


Tata mengangguk, sempat mengantar Desi sampai pintu.


"Dim, anterin aja Desi," kata Tata.


"Gak usah Mbak, lagian aku mau mampir juga ke tempat lain. Dah ... Mbak masuk lagi sama Mas Dimas, aku pulang duluan."


'Husss ... sana sanaaaa!' suara hati Dimas yang girang karena adiknya akan pulang.


Setelah mendapat taksi, Dimas pun meninggalkan adeknya, ia kembali masuk ke Matos dengan Tata. Keduanya ngobrol santai, sampai Sandi datang menyapa.


Dimas dan Sandi saling lempar tatapan sinis, tapi saat Tata menatap keduanya, mereka malah tersenyum ramah. Ada perang dingin di antara mereka berdua yang disembunyikan dari Tata.


Saat Tata harus pergi untuk membereskan sesuatu, Dimas langsung to the point. Ia menatap sinis pada Sandi yang juga bersikap dingin ketika mereka hanya duduk berdua.


"Kamu suka Tata?"


"Apa urusannya sama kamu, toh kamu bukan pacarnya," celetuk Sandi.


Dimas tersenyum tipis.


"Tata gak bisa move on, dia masih suka denganku. Jadi jangan berharap banyak sama Tata."


"CIH! Lihat saja, nanti Tata berakhir dengan siapa.


Sandi langsung bangkit, ia beranjak meninggalkan Dimas. Karena malas berurusan dengan pria yang memiliki kadar PD melebihi batas tersebut.


Sandi yang tergabung dengan Tim berkali-kali melirik Dimas. Ia berdiri di samping Tata, seolah membuktikan, bahwa ia menang banyak.


Sampai sore menjelang, Tata mencari Dimas, karena pria itu pergi begitu saja seperti biasanya. Tata merapikan stand bersama yang lain, kemudian menolak saat diajak bareng Sandi.


"Kamu duluan, aku masih ada urusan."


"Oh," Sandi tersenyum kecut.


***


Bukannya langsung kembali ke hotel, Tata justru nongkrong di cafe sembari mencari ide untuk besok. Ia sibuk dengan laptopnya, sampai tidak sadar setangkai mawar di letakkan di samping gelas miliknya.


"Istirahat dulu," kata Dimas lalu duduk.


"Aku kira sudah balik?"

__ADS_1


"Belum, tadi ada urusan bentar."


"Cewek lagi?" sindir Tata.


"Ish ... apanya! Sekarang aku gak ada cewek. Sudah aku putusin cuma buat kamu."


Hueekkk prett


Tata langsung merasa mual.


"Udah basi, gombalan kamu gak mempan lagi, Dim!"


Dimas terkekeh, kemudian memanggil waiters, dia juga mau pesan minuman.


"Coffee late, Mbak."


"Baik, Mas."


Sambil nunggu pesanan datang, Dimas kembali mengeluarkan jurus gombalan.


"Gak suka ya bunganya? Dilirik saja enggak ... malang sekali nasibnya."


"Elehhh!" sela Tata kemudian meraih bunga itu. "Thanks!"


"Hemm. Oh ya, nggak pulang? Semua sudah pada pulang tuh."


"Dikit lagi, ini mumpung dapat ide."


Dimas manggut-manggut, kemudian memperhatikan Tata yang masih serius dengan laptopnya. Sampai Dimas pesan dua gelas kopi, Tata masih saja asik. Tenggelam dalam dunianya.


"Kamu juga bisa rajin, kalau ada niat ... pasti berhasil. Yang bersungguh-sungguh akan berhasil, Dim. Makanya, cepet lulus, terus kerja."


Dimas menghela napas panjang.


"Habis kerja terus ngapain, Ta?" pancing Dimas.


KLEK


Tata melipat laptop miliknya.


"Ya cari pasangan, nikah hidup bahagia."


"Gak usah dicari, Wong orangnya ada di sini. Ada di depan gue."


BUGH


Tata langsung menonyor lengan Dimas.


"Basiiii, MODUS!" Tata memasang muka bebek. Membuat Dimas gemas dan langsung mencubit hidung Tata.


"DIMM!"


Dimas yang tadi tersenyum, kemudian berubah serius. Ekspresi wajahnya terlihat meyakinkan.

__ADS_1


"Denger ya, Ta. Tunggu aku lulus, terus dapat kerja, aku bakal buktiin kata-kata aku yang tadi."


"Udah udahhh, stop gombal! Kamu cocok jadi raja gombal!" ledek Tata kemudian menyesap minuman yang dipesankan Dimas lagi.


Plekkk


Tata kaget, ketika telapak tangan Dimas diletakan tepat di atas tanganku.


"Aku serius."


Tata terdiam.


"Kalau gitu, jangan main cewek. Buktiiin ke aku, kalau kamu udah tobat!"


Dimas garuk-garuk kepala. "Buktiiin apa lagi?"


"Biarkan waktu yang jawab, yuk pulang."


Tata membereskan meja, sedangkan Dimas dibuat tertegun.


Mereka berdua pun pulang ke tempat masing-masing, Dimas mengantar Tata terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


***


Karena jadwal kuliah padat, Dimas tidak bisa main-main lagi. Apalagi Tata sudah memberi lampu kuning. Dimas harus segera lulus lalu bekerja. Hal itu yang membuatnya terngiang-ngiang.


Hingga hari terakhir Tata di Malang, Dimas malah sibuk dengan ujiannya. Ia sedikit menyesal karena tidak punya waktu lama, tapi ia sudah bertekad kalau harus fokus biar bisa buktiin pada Tata, kalau dia bisa.


***


Jakarta, 5 tahun kemudian.


"Ta, kamu ini nunggu apa? Lihat ... Tiwi teman sekolahmu dulu sudah gendong anak. Kamu kok sibuk kerja saja, Ta. Gak mau nikah?"


Tata tersenyum simpul.


"Ibu lihat kamu juga gak punya pacar. Apa mau ibu kenalkan sama anak temennya arisan ibu?"


"Apa sih, Bu"


Inilah yang membuat Tata malas pulang ke Jakarta, selalu ditanya itu dan itu. Kapan nikah, bagai pertanyaan yang sangat mengerikan untuk dijawab.


***


Kalimantan, di sebuah area tambang. Seorang pria memakai topi proyek sambil memegang kertas. Ia menatap ke depan, kemudian menoleh saat seorang wanita cantik menghampiri dengan senyum menawan.


"Makan siang dulu."


Dimas mengangguk, kemudian melipat kertas di tangannya. Ia berjalan bersama wanita cantik tersebut menuju tempat yang lebih nyaman.


"Jangan sibuk melulu, sampai mengabaikan persiapan pernikahan Kita!" protes wanita cantik tersebut.


Dimas menatap arah yang berbeda, tatapan matanya kosong menyusuri area tambang. Dan bersambung.

__ADS_1



__ADS_2