
Pacar 99% Bab 17
Oleh Sept September
"Lama ya? Sorry, Ta. Tadi macet." Dimas mengatakan alasannya kenapa terlambat datang. Pria itu kemudian menatap sekeliling, terlihat sepi. Hanya ada beberapa motor yang parkir di halaman kosan.
"Nunggu lama ya, maaf ya," ucap Dimas lagi.
"Eh ... iya gak apa-apa." Tata masih kaget, karena Dimas datang bawa mobil.
"Dah sore banget, mau malam. Sekarang aja ya?" ajak Dimas saat melihat ke atas. Dilihatnya hari mulai gelap.
"Heh? Apa? Sekarang?"
Dimas mengangguk.
"Tunggu sebentar, aku pamit sama temenku dulu."
"Iya, aku tunggu di sini."
Tata buru-buru masuk ke dalam kamar kosan.
"Eh ... aku pergi dulu," pamit Tata pada temen kosan.
"Jangan lupa, ntar bawain kebab apa Pizza yaaa!" canda teman Tata.
"Ish."
Tata pun bergegas keluar, tidak lupa membawa tas serta ponselnya.
"Udah? Ada yang ketinggalan nggak, ponsel? Atau apa?" tanya Dimas meyakinkan.
"Udah, udah aku masukin dalam tas."
"Oh, ya sudah. Ayo masuk."
Pertama jalan sama cowok, Tata diperlakukan dengan manis. Dimas membukakan pintu untuknya, membuat Tata deg degan. Sebab ia kini yang bingung, status mereka itu apa sekarang.
"Pasang sabuknya, Ta."
"Iya."
Dimas kemudian masuk lewat pintu sebelahnya, kemudian mulai menyalakan mesin mobil. Sambil menoleh ke samping, ia mulai tancap gas.
***
Jalanan ibu kota menjadi saksi perjalanan Dimas dan Tata. Hingga malam menjelang dan langit benar-benar gelap. Suara adzan magrib terdengar samar-samar, membuat Dimas melirik kanan kiri, pasti di sana ada masjid atau musholla.
"Ta, kita sholat magrib dulu ya."
Dengan ekspresi bengong, Tata mengangguk kaku. Akhirnya mobil yang dikendarai Dimas berhenti di halaman masjid kecil yang ada di ujung jalan. Sepi dari keramaian.
"Nanti kalau kamu duluan yang keluar, tunggu di sini aja ya."
Tata mengangguk dengan patuh. Dia masih shock, sejak kapan Dimas jadi se perfect ini? Astaga, lalu apa kata teman-temannya dulu? Ish!
Beberapa saat kemudian, benar saja, Tata yang keluar lebih dulu. Ia menunggu Dimas yang tidak kunjung keluar.
"Doa apa itu si dimsum?" gumam Tata, kemudian bibirnya mengulas senyum saat melihat Dimas yang keluar dari tempat ibadah tersebut.
Tata memperhatikan Dimas yang memakai sepatu, memperhatikan tatanan rambut yang berbeda. Dimas yang dulu memang benar-benar beda dengan Dimas yang kini duduk di depannya.
"Ayo, Ta."
Dimas berdiri kemudian mengajak Tata untuk masuk mobil kembali.
"Kita cari makan dulu ya, setelah itu nonton."
"Em, iya."
Mereka berdua kembali masuk mobil, dan Dimas mulai memutar audio. Lagu band kotak, pelan-pelan saja mulai terdengar mengudara. Keduanya larut dalam bait-bait yang disuarakan oleh Tantri tersebut.
"Suka lagu apa, Ta?" tanya Dimas di sela-sela musik yang mengalun indah.
"Semuanya aku suka, oh ya. Coba puter lagunya Fatin Sidqia."
"Oh, itu. Oke. Suka lagu ini?" Tata mengangguk. Ia pun bersenandung, dan Dimas sesekali melirik gadis tersebut.
__ADS_1
***
Mobil Dimas kemudian berhenti di sebuah cafe yang cukup kecil. Tidak ramai pengunjung, tapi sepertinya nyaman. Dari tempatnya ada yang duduk ada pula yang lesehan.
"Makan di sini ya, Ta? Kita makan pecel Lele? Mau?"
"Aku gak makan Lele, Dim?"
Dahi Dimas mengkerut, "Kenapa?"
"Jarang makan juga. Ibu hampir gak pernah masak itu juga."
"Oh, Kita cari tempat lain?"
"Gak usah, lama muter-muter, itu ada ayam penyet juga. Makan itu saja."
"Ya udah. Kamu duduk dulu, aku ambil sesuatu di dalam mobil."
Tata masuk, kemudian memilih duduk yang ada lesehannya, biar makannya enak bisa selonjoran juga. Sesaat kemudian, Dimas datang dengan pelayan cafe. Saat akan duduk, Dimas menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
Tata curiga, Dimas lagi menyembunyikan apa di balik tubuhnya.
'Ni cowok ngapain lagi?'
Setelah pelayan pergi, barulah Dimas memberikan bucket coklat pada Tata.
"Happy birthday."
Tata semakin melonggo.
"Dim, kan ultah aku udah lewat bulan kemarin."
"Sorry telat. Sorry juga ... cuma bisa ngasih coklat. Ntar, kalau aku udah kerja, aku janji sama kamu. Bukan hanya coklat."
"Eh, Dim. Kamu apa-apa sih," sela Tata yang malu-malu meong.
Dimas kemudian meletakkan buckets itu di pangkuan Tata.
"Boleh ambil fotonya?" ijin Dimas.
Selang beberapa saat, pesanan mereka datang. Dimas dan Tata makan bersama, sambil bercerita tentang apa saja. Sampai tidak terasa, perut mereka sudah kenyang. Pecel Lele, ayam penyet, jus alpukat dan jus jambu. Kenyang, mereka pun melanjutkan acara lagi. Nonton film horor di bioskop.
***
Di sebuah mall yang cukup besar, yang berada di tengah kota, Dimas dan Tata masuk ke dalam sana, karena hampir telat, mereka sedikit bergegas menuju gedung bioskop.
"Ta ... kamu berani nonton ini?" tanya Dimas saat sudah mendapat tiket di tangan. Keduanya akan masuk dan menyerahkan tiket pada petugas.
"Nggak, aku berani."
"Oh, ya sudah."
Mereka ternyata duduk di bangku paling depan, dan apesnya adegan di layar yang besar tersebut banyak memunculkan jenis-jenis setan yang keluarnya dadakan. Alhasil, Dimas berkali-kali teriak seperti anak gadis.
"Dim, kamu takut hantu?" bisik Tata saat film masih berjalan.
"Takut nggak, cuma ...!"
Haaaaaaaa
Semua riuh berteriak saat suster yang keluar dari lift menarik salah satu kaki pemainnya. Adengannya tidak begitu mengerikan, hanya saja munculnya tiba-tiba, membuat para pengunjung sport jantung.
"Minum dulu, Dim!" bisik Tata yang sempat menahan tawa karena Dimas teriak paling kenceng.
Dimas yang mengatur napas, tanpa melihat meraih gelas yang ada di sebelahnya. Bukan gelas, yang ia pegang justru tangan Tata. Eh, bukannya dilepas, tapi Dimas malah menggenggam tangan yang terasa dingin itu. Tata ingin menarik tangannya karena canggung, tapi Dimas malah memasukkan ke dalam saku jaketnya.
"Dim ...!"
"Tanganmu dingin, masukin biar hangat," ucap Dimas tanpa menatap, matanya masih fokus pada layar besar di depannya. Meskipun tak menatap, hatinya sudah bicara.
Tata pun tidak berkutik, ia hanya mengigit bibirnya. Dimas kenapa jadi manis?
Tidak terasa film horor yang mereka lihat akhirnya selesai. Lampu yang semula dimatikan, kini kembali menyala. Sambil malu-malu karena tangannya masih dikuasai Dimas, Tata pun berbicara.
"Dim, lepasin tanganku. Udah pada keluar, ayo kita keluar."
"Nunggu sepi, keluar paling akhir, biar gak sempit."
__ADS_1
"Iya, tapi tanganku lepasin!"
Dimas menatap Tata, kali ini disinari cahaya terang dari lampu yang ada di sekitarnya.
"Andai waktu bisa aku hentikan," gombal Dimas.
"Aapan sih, Dim!" Tata menepuk pundak Dimas dengan tangan satunya.
"Apa aku pindah kampus aja, ya?"
"Jangan aneh-aneh."
Dimas menghela napas panjang.
"Besok aku balik." Kata Dimas tiba-tiba.
"Gak capek?"
"Capek sih, gimana lagi." Padahal masih mau dekat-dekat Tata.
"Ya udah, Kita pulang sekarang. Biar bisa istirahat."
"Masih jam segini, kamu mau ke mana? Aku anterin."
"Gak usah, ini udah cukup. Makasi udah ajak makan, udah ajak nonton," ucap Tata tulus.
Dimas mengangguk, kemudian mengandeng tangan Tata keluar dari gedung bioskop. Karena besok mau balik, mereka pun tidak ke mana-mana. Dimas langsung mengantar Tata ke kosan. Tidak lupa, saat melewati kebab pinggir jalan, Tata beli beberapa untuk teman kosan.
"Gak usah, Dim!" Tata menepis dompet Dimas yang disodorkan padanya. Ia memilih membayar pakai uangnya sendiri.
"Gak apa-apa, pakai aja."
Tata menggeleng pelan.
"Berapa, Mbk?" tanya Tata pada penjual.
"Semuanya 125 ribu."
Dengan cepat Dimas mengeluarkan uang merah dua lembar. Dan ia serahkan pada Mbk penjual.
"Dimas!" Tata protes, tapi Dimas hanya senyum. Kemudian ikut membatu membawa pesanan Tata untuk teman kosnya.
Mereka mengendara lagi, tidak lama karena jarak yang dekat. Tata masuk dulu memberikan sogokan kebab untuk anak-anak dan juga yang lain. Kemudian keluar lagi ke depan, masih kangen.
Keduanya duduk di bangku depan, sambil menatap langit malam.
"Ngantuk gak, Ta?"
Tata menggeleng.
"Bagus, karena aku juga masih mau ngobrol sama kamu."
Tata salting sendiri.
"Nanti tidur di mana?"
"Ada, gak jauh dari sini. Sudah pesan online."
"Oh."
"Kosan ditutup jam berapa, Ta?"
Tata melihat ponselnya, "Setengah jam lagi biasanya gerbang ditutup."
Dimas manggut-manggut.
"Masih setengah jam, mau mampir ke tempatku? Kebetulan aku belum lihat tempatnya, tadi langsung ke sini."
DEG
Jangan mauuuuu
Bersambung
fb Sept September
IG Sept_September2020
__ADS_1