
Pacarku Buaya Bab 23
Oleh Sept September
"Selamat pagi," sapa pria yang memakai kemeja putih dengan lengan yang sedikit dilipat ke atas. Body oke, tampang oke, saat menyapa, lesung pipinya terlihat manis.
"Pagi! Silahkan duduk."
"Senang berkenalan dengan bu Tari."
Tata langsung menggeleng, "Bukan, harusnya memang bu Tari, tapi karena beliau ada urusan. Saya yang gantikan. Mari kita mulai, biar gak terlalu siang."
"Oh, baik Bu ... maaf dengan bu siapa?"
"Panggil saja Tata,"
"Baik, Bu."
"Panggil saja Mbk, karena usia kita sepertinya juga tidak beda jauh. Jangan Bu."
"Oh ... baik, Mbak Tata."
***
Karena sudah mengalami hari yang sama saat pertama magang beberapa bulan silam, kini gantian ia melakukan hal tersebut. Dengan sabar Tata mengajak pria magang tersebut berkeliling kantornya, tidak lupa Tata juga menjelaskan banyak hal tentang perusahaan pada pria yang memiliki nama Sandi tersebut. Pria muda, masih 23 tahun. Sudah tampan dan kelihatan sopan.
Mulai dari hari itu, mungkin sikap Tata yang baik dan humble, membuat Sandi sering curi-curi pandang. Tata gadis yang cerdas, jika dimintai pendapat tentang pekerjaan, selalu bisa diandalkan. Tata bahkan sering dimintai Sandi untuk jadi mentornya, karena Sandi masih baru.
Mulailah hubungan yang sekedar di kantor itu menjurus lebih luas. Sandi terang-terangan mengajak Tata keluar saat malam minggu, padahal baru sebulan magang, tapi Sandi cukup bisa membuat Tata mau keluar bersamanya.
Tata sih menganggap Sandi sebagai rekan kerja yang baik, teman ngobrol yang asik karena ternyata mereka se frekuensi. Mungkin juga karena sama-sama pintar di bidangnya, membuat keduanya nyambung.
"Kita nonton ya?"
"Boleh," jawab Tata ketika memasuki TP, mall di kota tersebut.
"Mau lihat film apa? Ini ada action, romance, apa ..."
"Horor!" sahut Tata.
"Oke."
"Aku beli popcorn dulu, kamu antri tiket."
"Sip."
Keduanya antri di tempat yang berbeda, Sandi lebih cepat balik, sedangkan Tata masih menunggu di stand popcorn, antri karena malam minggu, banyak pasangan yang mau ngedate.
"Udah, Ta? Sini aku bawain!" pinta Sandi, memang jika di luar kantor, mereka akan santai. Tidak seformal seperti di lingkungan kantor.
Tata mengangguk kemudian memberikan popcorn ukuran besar pada pria muda tersebut. Mereka akhirnya masuk sama-sama. Sepanjang film, jantung mereka dibuat terpacu karena hantu tiba-tiba nonggol begitu saja dari dalam sumur.
Beberapa kali terdengar suara jeritan keras, semua pengunjung dibuat kaget dan teriak histeris karena takut juga. Sedangkan Tata, ia malah kembali terkenang pada masa lalu. Di mana dia juga pernah nonton film horor bersama Dimas.
Pria itu mengelikan, karena takut melihat film horor. Tiba-tiba Tata tersenyum simpul, kenapa juga mikirin dimsum yang playboy itu. Membuatnya keki saja.
***
__ADS_1
Selesai nonton, mereka pun memutuskan makan malam di salah satu kafe yang masih ada di dalam sana.
"Mau makan apa?"
"Nasi goreng seafood boleh tuh, kayaknya enak."
"Oke," kata Sandi kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil waiters.
Pesanan mereka pun dicatat, saat menunggu makanan siap, seorang wanita muda berpakaian fashionable langsung duduk di depan Tata.
"Tata ya?"
Tata mendongak, merasa aneh. Karena merasa tidak kenal.
"Kamu pasti kaget, aku kok kenal kamu. Kenalin ... aku Jelita, mantan Dimas."
Tata menelan ludah. Dari mana dia tahu kalau dia adalah Tata.
"Btw, bagaimana kabar Dimas? Lama juga gak ada kabar dari anak itu."
Tata bingung, sebab dia juga tidak paham.
"Maaf, Mbk. Mbak tahu saya dari mana ya?"
"Ya dari Dimas lah. Lagian poto kamu kan ada di mana-mana."
Tata tambah heran.
"Sorry ya. Aku gak tahu kalau kalian pacaran sejak lama, bahkan dari SMA. Aku salut sama Dimas, meskipun jengkel sih. Aku pikir kamu yang jadi Dimas putusin aku. Tak tahunya, kalian memang sudah pacaran sejak SMA. Pantes aja, dia setia banget ... masa selama pacaran gak mau ciummm aku. Aku pikir dia homoooo. Oh, ternyata dia setia sama kamu. Sakit sih ... jadi selingkuhan. Eh .. kok malah curhat. Habisnya aku penasaran baget sama pacar Dimas. Pantes dia milih kamu, kamu sepertinya orang baik. Sampekin Salam buat Dimas ya. Dan sorry, gak bisa datang di pemakaman tante."
Gadis bernama Jelita itu berdiri ketika pacarnya datang. Pacar baru tentunya.
"Oh ya, Salam kenal. Kamu lebih cocok sama Dimas," Jelita tersenyum, kemudian melirik pada Sandi yang menatapnya tidak suka. Mungkin karena membahas pacar Tata. Ia pikir Tata jomblo. Kata temen-temen juga Tata gak ada gandengan. Mana yang bener?
"Dimas siapa, Ta? Pacar kamu?"
Tata menelan ludah, kemudian menggeleng tapi juga ragu. Kenapa dia jadi kepikiran Dimas betulan?
"Mantan aku," jawab Tata kemudian.
"Oh. Mantan."
Makanan pun datang, mereka fokus makan. Namun, Tata masih kepikiran Dimas. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Sandi. Baru aja PDKT, dia pun tidak mau mundur.
***
Pulang dari malam mingguan, meskipun bukan dengan pacar. Tata langsung membuka blokir dari Dimas. Tata menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Begitu banyak pesan masuk.
Meski tidak ia baca, Dimas terus saja mengirim pesan. Sampai akhirnya pesan terakhir, membuat Tata langsung menelpon nomor tersebut.
"Ta," sapa Dimas sebelum Tata menyapa duluan.
"Apa kabar?" tanya Tata kaku.
"Lumayan," jawab Dimas lirih.
"Sehat?"
__ADS_1
"Ya."
"Tinggal di mana sekarang?" tanya Tata.
"Masih sama, di Malang."
"Oh ... sudah lulus?"
"Belum."
Tata langsung tersenyum.
"Aku sudah," ucap Tata.
"Iya, bagus."
Tata tertegun, Dimas kok jadi murung. Meski hanya mendengar lewat suara, tapi ia bisa merasakannya.
"Aku di Surabaya."
"Oh, ngapain."
"Kerja, sudah mau 5 bulan ini."
Tidak terasa, mereka terus saja bicara. Meski kesel, ada rasa penasaran, ada rasa nyaman juga. Tata seperti sedang bernostalgia.
"Oh, nanti kalau weekend boleh mampir?"
Tata mengusap dahinya sendiri.
"Fokus kuliah aja, jangan pacaran mulu. Biar cepet lulus!"
Dimas mencebik.
"Ya."
"Dah malam, nih. Kapan-kapan sambung lagi."
"Ya."
Ini Dimas jadi pelit bicara, jadi irit saat di telpon, sampai Tata kok jadi gemas sendiri.
"Bye!"
"Bye!"
"Mimpi indah, Ta."
Seketika bibirnya menggembang mengulas senyum.
"Hem."
Setelah telponnya terputus, Tata merebahkan kepalanya di kasur. Ia memeluk ponselnya, perkataan gadis di mall tadi cukup membuatnya berpikir. Ia jadi ingin tersenyum, karena Jelita bisa aja dikadalin Dimas. Yang jadi selingkuhan kan Tata, bukan Jelita.
'Ya ampun ... buaya banget kamu, Dim!' batin Tata tapi dengan wajah tersenyum.
Ada rasa yang belum selesai, belum ada label tamat di hati Tata. BERSAMBUNG
__ADS_1
Fb Sept September
IG Sept_September2020