
Pacar 99% Bab 12
Oleh Sept September
"Astaga! Ngagetin aja kak!"
Tata kaget karena ada seniornya yang ikut masuk tenda.
"Kakak numpang di sini dulu. Tenda Kaka rame banget."
"Iya, Kak. Santai aja," jawab Tata kemudian memberikan bantal leher yang ada dalam tenda. Bukan miliknya sih, seperti punya Tafli atau temannya yang lain.
"Eh, kamu gak lihat perform anak-anak, seru tuh. Banyak cowok-cowok keren juga."
Tata tersenyum simpul, kemudian malah bertanya balik.
"Lah, Kakak sendiri kenapa gak lihat?"
Senior Tata yang bernama Juli itu terkekeh.
"Maunya sih ... sekalian cuci mata. Tapi pasti bang Iqbal marah."
Ganti Tata yang terkekeh, Juli dan Iqbal memang pasangan fenomenal. Keduanya selalu terlihat bersama di area kampus. Sudah cocok, kabar yang beredar, keduanya pacaran dari jaman putih abu-abu. Eh, mendadak Tata lesu. Tiba-tiba ia jadi masam. Ingat putih abu-abu sama saja ingat dengan Dimas, cowok menyebalkan tersebut.
"Enak ya, Kak. Pacaran lama, awet sampai sekarang?"
"Idih ... kadang bosen juga sih. Pernah selingkuh juga," Juli kembali tertawa.
"Astaga, cowok seganteng itu kakak selingkuhin?" tanya Tata dengan nada tidak percaya.
"Ya ... namanya lama bareng-bareng, kadang pengen sesuatu yang baru gitu, Ta. Tapi jangan dicontoh ya. Gak bagus. Jangan pernah sia-siain cowok yang suka dan tulus sama kita. Sebab, kadang kesempatan gak datang dua kali. Kakak saja nyesel pernah duain Iqbal. Dia cowok baik, rasanya gak adil Kakak selingkuh hanya karena rasa bosan."
Mendengar curahan Juli, Tata malah tertegun. Entah apa yang ada dalam benaknya, yang jelas wajahnya semakin murung.
"Eh, kok dari Tadi Kakak yang cerita, gantian dong. Tata dah punya cowok belum? Kakak lihat kamu ke mana-mana gandengan sama Tafli atau Dian, kamu cantik ... pasti banyak yang naksir. Gak mungkin jomblo kan?" pancing Juli yang memang butuh teman ngobrol.
"Gak ada," jawab Tata singkat.
"Wah, sayang banget. Masa muda kan masa manis-manisnya. Mau Kakak kenalin sama temen Kakak?"
"Gak, Kak. Gak ... Tata fokus sama kuliah."
"Hehehe. Biar tambah semangat Ta."
__ADS_1
Tata pun tersenyum tipis, yang ada nanti malah nilainya anjlok gara-gara mikir pacar, persis seperti sama Dimas dulu. Dimas lagi, Dimas lagi. Gadis itu menghela napas panjang.
"Tata nyaman gini aja. Asik jomblo kak," ucap Tata miris, meskipun sebenarnya ia kadang iri melihat teman-temannya banyak yang bisa malam mingguan, ada yang nonton sama nongkrong.
"Idih, mengsedih banget nasib kamu, Ta?" Juli tertawa lepas. Tawanya terhenti ketika ada yang membuka tenda.
"Lah? Kalian malah di sini?"
Tata dan Juli tersenyum, keduanya bangkit kemudian keluar untuk menyaksikan acara kembali.
Saat mencari tempat untuk duduk, Tata tanpa sengaja melihat Dimas. Pria itu duduk bersama 2 orang gadis cantik. Putih, bersih, rambut panjang, sudah mirip bintang shampoo. Iri? Sedikit, tapi Tata memasang muka cuek.
"Mau, Ta?" Tafli duduk di sebelah Tata kemudian menyodorkan kantung besar kuaci.
"Makasi!" ucap Tata lalai meraih kuaci tersebut. Sambil jengkel dia membuka satu biji kuaci, mungkin karena dongkol, malah gusinya yang terluka.
"Aduh!"
"Dih ... Ta. Makan kuaci aja ribet."
Tata melengos, apalagi saat dari jauh Dimas kebetulan melihatnya.
'Menyebalkan!'
Tafli yang sejak tadi memperhatikan Dimas, tiba-tiba nyeletuk.
Tata mendongak, wajahnya masih datar, tapi asli penasaran. Siapa yang Tafli maksud.
"Siapa?"
"Cowok yang kita bahas dari tadi."
"Oh. Emang kamu tahu pacarnya?"
"Tuh!"
Muka Tata langsung seperti kepiting rebus.
'Bukankah dia dulu belum mau putus? Sekarang sudah punya gandengan, dasar cowok!' Tata mengumpat kesal dalam hati.
"Tapi gak kaget sih, mana ada cowok keren jomblo!" Tafli terkekeh kemudian melanjutkan makan kuaci. Gadis itu tidak tahu, ada hati yang sedang jealous di sebelahnya.
***
__ADS_1
Malam semakin larut, Tata yang bad mood memilih istirahat terlebih dahulu. Meskipun api unggun masih menyala terang.
"Aku ke tenda lagi."
"Hemm."
Sampai di tenda, Tata malah tidak bisa istirahat. Matanya tidak besa terpejam. Di pelupuk matanya malah muncul Dimas. Hingga pagi menjelang, Tata bangun dengan mata panda karena kurang istirahat.
Kegiatan pagi, mereka semua melakukan jelajah alam. Sembari melakukan banyak serangkain kegiatan yang cukup melatih fisik biar lebih kuat.
Tata tidak mengira, akan ada kegiatan gabungan dan Dimas ada di antara peserta itu. Sejauh ini, Dimas sama sekali tidak menyapanya. Hingga membuatnya uring-uringan.
Setelah briefing, apesnya Tata masuk dalam grup Dimas. Tafli jelas sangat antusias, karena satu grup. Beda dengan Tata, ia membalas sikap cuek Dimas dengan sikap dingin pula. Sama-sama seperti tidak kenal.
Kini, mereka mulai naik ke atas sama-sama. Tata paling depan bersana seniornya, kak Juli dan kak Iqbal. Dua sejoli yang sudah pacaran bertahun-tahun tersebut. Sedangkan di tengah, ada Tafli bersana Dimas. Hidung Tafli sudah kembang kempis sejak tadi, karena dekat dengan cowok keren. Lain cerita dengan sahabatnya, Tata yang ada di barsisan paling depan, merasa gondok. Niatnya camping sekalian healing, biar pikiran fresh, tidak tahunya ia malah bad mood sendiri.
***
Sampai di pos pertama.
Iqbal yang sedang bicara dengan Tafli tiba-tiba didatangi Dimas.
"Kak, bisa tukar posisi?"
Mata Juli langsung berbinar, "Boleh dong!"
Juli kemudian menarik pacarnya, kemudian berbisik.
"Yang, pindah posisi sama dia ya?"
"Kamu mau macem-macem?" bisik Iqbal.
"Ish ... bukan, sepertinya dia suka Tata. Aku lihat kemarin dia curi-curi pandang sama Tata."
"Hemm. Masak?"
Juli mengangguk. Akhirnya mereka pun tukar posisi. Sedangkan Tata yang tidak mengerti apa-apa, ia yang sedang duduk istirahat sebentar sedikit terkejut ketika Dimas datang padanya.
"Hay!"
'Sebenarnya aku menunggu kamu menyapaku terlebih dahulu, tapi sepertinya aku tidak sanggup menunggu lama-lama. Hemm ... kamu masih seperti dulu,' batin Dimas yang mengulurkan tangan untuk membatu Tata berdiri karena membawa ransel yang cukup besar.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Fb Sept September
IG Sept_September2020