
Pacarku Buaya Bab 31
Oleh Sept
RSI Surabaya
Di sebuah ruang rawat inap, sudah 2 hari Dimas terbaring di ranjang rumah sakit. Ayahnya saat ini menemui dokter, sedangkan Desi sang adik, ia setia menunggu Dimas dengan wajah penuh kesedihan.
Sementara itu, di lorong rumah sakit, tampak seorang wanita dengan celana jeans sobek-sobek di bagian lutut, ia berjalan sambil bicara di telpon.
"Ma, kalau sampai Dimas cacat, aku gak mau nikah sama dia!" terang Jihan pada sang mama di telpon. Jihan mendapat kabar, calon suaminya kecelakaan, dan ia baru datang di hari kedua. Ini karena ia mendengar Dimas kecelakaan cukup parah, dan sepertinya ada masalah dengan tulang kakinya, entah retak atau patah. Membuat Jihan ngeri.
Ia masih muda, tidak mau punya suami cacat. Tapi mamanya memaksa dia melihat kondisi calon suaminya. Pernikahan mereka hampir siap, masa batal?
Tap tap tap
"Dah, Ma. Aku hampir sampai kamar Dimas. Nanti aku kabari Mama lagi!"
Jihan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas gussi miliknya. Gadis itu kemudian merapikan make up sedikit kemudian masuk ruangan.
KLEK
"Mbk Jihan," sapa Desi.
Jihan langsung melempar senyum, entah senyum tulus atau senyum modus.
"Bagaimana Dimas?"
"Masih tidur, habis minum obat."
Jihan manggut-manggut, lalu mendekat ke arah Dimas.
"Bagaimana kakinya?" tanya Jihan penasaran.
__ADS_1
"Ayah masih bicara sama dokternya, Mbk."
Jihan memasang muka sedih, atau memang sedih betulan karena rencana nikah terancam gagal.
"Oh, ya. Kebetulan Mbk di sini. Desi mau keluar sebentar, bisa jagain mas Dimas?"
Jihan mengangguk.
***
Beberapa saat kemudian, Jihan yang bosan di dalam ruangan dengan Dimas yang masih lelap karena efek obat, ia pun hendak keluar, ingin mencari udara segar.
Baru juga akan membuka pintu, ia mendengar pembicaraan Desi dan ayahnya di depan ruangan.
"Apa? Gak mungkin, Yah!"
Terdengar Desi yang terisak. Jihan makin panik, jangan-jangan kondisi Dimas kurang baik. Penasaran, ia kembali memasang telinga. Siap untuk menguping kembali.
"Kasian mas Dimas yah kalau sampai tahu dia gak bakal bisa jalan lagi," ucap Desi masih sambil menangis.
"Pokoknya aku harus pergi sekarang!" gumamnya kemudian membuka pintu.
KLEK
"Des ... aku balik dulu. Om ... Jihan masih ada urusan mendadak. Jihan pamit dulu."
Desi menatap aneh, kenapa buru-buru. Sedangkan ayah Dimas hanya mengangguk pelan.
Jihan langsung kabur, ia ogah menemani Dimas di masa-masa sulit dan terburuknya pria tersebut.
***
"Sudah bangun, Mas? Makan ya?" bujuk Desi beberapa jam setelah kepergian Jihan.
__ADS_1
Dimas menggeleng. Ia terlihat murung dan lesu, bibirnya juga pucat.
"Sedikit saja, Mas!"
Dimas tetap menolak. Desi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia telpon Jihan malah di reject. Desi sampai heran, kok telponnya gak tersambung, bahkan pesan pun tidak terbaca. Mulai dari sana, ia paham. Apalagi sikap Jihan yang aneh setelah melihat kondisi Dimas.
'Salah apa mas Dimas terlibat dengan rubah seperti itu?' batin Desi yang kadang kurang suka sifat Jihan.
Desi lebih setuju Dimas dengan Tata, di mana kakak laki-lakinya lebih merasa bahagia dan banyak aura positive, kalau sama Jihan, aura kakaknya auto suram.
***
Hari ketiga, kondisi Dimas drop. Apalagi Dimas yang sadar kakinya tidak bisa gerak. Pria itu sama sekali tidak ada semangat hidup. Sampai Desi terpaksa menghubungi nomor Tata.
Siang hari di kantor Tata, Tata sudah masuk kerja kembali, tentunya dengan cincin yang melingkar di jari manisnya. Saat ia sedang sibuk dengan berkas-berkas di atas meja, ponselnya berdering.
Ia lirik, sedikit memincingkan mata saat melihat nama Desi. Ingin ia abikan, tapi saat panggilan ke 4 akhirnya ia angkat juga.
"Hallo."
Desi langsung mengatakan keadaan Dimas, dan hal itu membuat Tata shock.
KLEK
Pintu ruang kerjanya terbuka, Fajar muncul dengan senyum ramahnya.
"Ayo makan siang," ajak Fajar.
Akan tetap Fajar kemudian sadar, ada yang salah dengan Tata. Gadis itu matanya sembab dan menggenggam ponselnya.
"Ada apa?" tanya Fajar lembut.
Lidah Tata keluh, gadis itu hanya bisa tersedu. BERSAMBUNG
__ADS_1
Fb Sept September
IG Sept_September2020