Pacarku Buaya

Pacarku Buaya
Sebal


__ADS_3

Pacar 99% Bab 21


Oleh Sept September


Patah hati, ia kira dicintai oleh pria sempurna tersebut, nyatanya Dimas malah menjadikan dirinya sebagian mainan. Bukan kekasih satu-satunya. Sambil menahan rasa amarahnya, Tata meninggalkan Dimas. Ia sempat menunjuk ke wajah Dimas agar tidak mengikuti dirinya.


'Kamu memang bodohhh! Cowok seperti Dimas mana mungkin belum punya pacar? Kamu terlalu naif, Ta ... sampai terjebak pada permainan pria playboy itu!' Tata berjalan sambil terus mengumpat kesal.


Sedangkan Dimas, pria itu mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia semakin jengkel, saat pacarnya kembali menelpon.


"Apa?" sapa Dimas jutek di telpon.


"Idih, kamu ke mana sih? Aku cari di rumah, kata tante masih belum pulang. Emang di sini gak ada ya alatnya? Coba beli di onlinee deh, Beb."


"Gak ada, alatnya cuma ada di Jakarta."


"Oh, btw ... kamu lagi apa sih, dari tadi aku WA si read doang. Bales dong, itu kan bukan koran, yang cuma dibaca aja gak usah dibalas."


Dimas mengusap wajahnya yang terlihat tidak baik-baik saja. Diputus Tata kedua kali membuat bad mod. Yang pertama ia menganggap mereka belum putus, karena dia masih menolak, yang kali kedua, pun sama. Dia masih menganggap mereka belum putus, walau kali ini, Tata terlihat sangat benci dirinya.


"Beb! Kok diem aja. Hallo ... halo!" suara Jelita yang nyaring, membuat Dimas kembali fokus pada ponselnya.


"Iya, nanti balik agak siang."


"Oh, ya sudah. Nanti telpon lagi ya, ini dosennya sudah datang."


"Ya."


Setelah telponnya terputus, Dimas kembali ke mobil. Ia kemudian memikirkan cara, bagaimana Tata bisa kembali, juga memikirkan cara bagaimana biar Jelita, pacarnya yang baru beberapa bulan ini, harus ia putusin.


Belum lagi dengan si Selvi, Mita, Mawar, Melati. Dimas mengusap wajahnya kasar, kenapa jadi begini? Tapi dari semua gebetan, dari semua cewek yang dekat dengannya, sebenarnya cuma Tata yang lama menetap dan tidak mau pergi.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi, selalu saja ada kesempatan, di mana gadis-gadis cantik mendekati dirinya. Mungkin dia kelewat iseng, sampai PHPin semua gadis yang baper padanya. Resiko cowok ganteng, banyak cewek-cewek yang suka caper.


***


Dimas kini menikmati kopi di dalam mobilnya yang terparkir di sebuah tempat, ia duduk di balik kemudi sambil mengirim pesan untuk Tata. Dibalas atau tidak, ia hanya ingin mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada gadis tersebut.


[Terima kasih sudah mau baca pesan ini, mungkin saat kamu baca pesan ini, aku sudah dalam perjalanan menuju pulang. Tata ... maafkan aku yang sangat ceroboh, hingga main-main dengamu, tapi Ta, perlu kamu tahu, hatiku cuma ada kamu. Aku akan jujur sama kamu biar kamu tahu dari mulutku sendiri. Namanya Jelita, sudah 6 bulan kami pacaran. (Tata sangat benci, tapi lanjut baca karena penasaran). Dia ngejar-ngejar aku terus, sampai sering ke rumah nemuin mamaku bawa kui ini dan itu. Aku pacarin dia karena dia membuat mamaku yang stroke beberapa tahun lalu menjadi lebih banyak senyum saat Jelita sering main ke rumah. (Tata tertegun, karena baru tahu ibunya Dimas sakit, ia pun lanjut baca lagi, pesan Dimas yang seperti cerpen tersebut). Mungkin pulang dari sini, aku mau putusin Jelita, demi kamu. Dan ada lagi, sebelum kamu dengan dari yang lain, jadi tambah sakit hati. Ada anak SMA, rumahnya masih satu komplek, namanya Selvi. Dia juga baik, sering kirim masakan ibunya ke rumah. Kamu tenang saja, dia bukan pacar, tapi ya gitu. Kami sering jalan bareng. (Tata mulai ngebul, seolah kepalanya keluar asap). Selanjutnya Mita, dia pegawai bank, agak genit sih. Kami gak pacaran, cuma dia sering chat, telpon atau vcall. (Mulai dari sini, Tata gemes, pengen nampol Dimas). Sudah, meskipun ada cewek yang mungkin sedikit dekat, itu cuma temen saja. Maaf ya, Ta. Mungkin ini nyakitin kamu. Tapi aku cuma mau jujur sama kamu, karena kamu satu-satunya cewek yang lama bertahan di hatiku. Beneran, Ta ... sayang aku cuma sama kamu. Setelah ketemu kamu lagi, aku ngreasa hidupku yang membosankan ini seketika lebih hidup. Ta ... maafin aku ya. Dan terima kasih untuk yang kemarin, terima kasih untuk hari indahnya. Aku sayang kamu!]


'Mulut buaya! Dia pikir aku percaya?' batin Tata kemudian meletakkan posnelnya dalam tas. Biarpun dia berkata tidak percaya, tapi hatinya malah terusik.


"Jangan kasih maaf, Ta! Pacaran aja udah berani selingkuh!" Tata ngomel-ngomel sendiri.


***


Beberapa hari kemudian.


Tata menjalani hari-hari seperti biasa, ke kampus, mengerjakan tugas, main dengan teman, sama seperti sebelumnya. Namun, saat ia sepi sendiri dalam kosan, ia jadi murung dan penyendiri.


"Kenapa lagi anak itu?" gumam Tata.


Tap tap tap


"Nah, itu dia datang," kata bu kos menunjuk Tata.


"Ta," sapa Dimas.


Tata langsung memasang muka dingin.


"Udah ya, ibu tinggal," kata bu kos.


Kini keduanya duduk di bangku depan kosan.

__ADS_1


"Ngapain ke sini?" tanya Tata galak.


"Aku sudah putusin pacar aku, Ta."


"Terus kamu pikir aku mau balik sama penghianat kaya kamu, Dim? Sekarang kamu selingkuhin dia, besok mungkin ganti aku!" sindir Tata.


Dimas diam saja. Sepertinya Tata masih marah besar.


"Sudah, jangan ke sini lagi!" usir Tata karena gak mau lihat Dimas lagi, ujungnya malah sakit hati. Gadis itu kemudian bergegas, tapi Dimas mencegah dengan menahan lengannya.


"Aku jauh-jauh ke mari cuma mau ketemu sama kamu."


"Tapi aku gak suka kamu datang ke sini!" ujar Tata marah, membuat beberapa teman kos membuka pintu mereka untuk melihat keduanya.


Sadar suaranya keras, Tata langsung meminta Dimas meninggalkan tempat kosnya.


"Aku mau kamu tinggalkan tempat ini sekarang."


"Aku bahkan baru tiba dari Bandara, lalu ke sini, Ta. Harus bagaimana biar kamu percaya? Aku tulus sama kamu."


"Hubungan yang diawali kebohongan tidak akan pernah tulus. Kamu pikir aku seneng setelah kamu putusin tuh gebetan kamu yang seabrek? Gak, Dim! Gak banget. Gue makin sebel sama elo!" ujar Tata tegas kemudian masuk ke kamar kosan.


BRUAKKK


Bersambung


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Follow yukkk hehheh

__ADS_1


__ADS_2