
Pacarku Buaya Bab 29
Oleh Sept
Dengan hati yang tidak menentu, Dimas maju. Pantang baginya mundur dan membawanya dalam rasa penasaran yang tiada akhir. Dia harus tahu, ada apa di rumah mantan pacarnya itu. Mengapa sampai Tata tidak masuk kerja, mengapa banyak mobil di rumah gadis itu, dan mengapa banyak orang-orang di rumah Tata. Dengan pikiran yang berkecamuk, Dimas masuk ke dalam rumah tersebut.
"Mas Dimas," sapa adik Tata yang kini duduk di bangku SMA.
Dimas maskin gelisah, saat melihat adik Tata itu pakai baju kebaya modern. Sepertinya memang ada acara penting di rumah itu.
"Siapa sayang?" seorang wanita paruh baya muncul, saat melihat sosok Dimas yang beberapa tahun diketahui dekat dengan putrinya, tapi harus berakhir di tengah jalan. Membuat wanita itu bingung dan langsung masuk ke dalam.
Sedangkan Dimas, ia masih terpaku menatap beberapa orang yang juga melihat ke arahnya.
"Duduk, Mas."
Adik Tata tersebut membersihkan pria di depannya untuk duduk, kemudian mengambil air mineral kemasan.
Tap tap tap
Ternyata ibunya Tata tadi langsung masuk karena memanggil putrinya.
Dimas yang melihat Tata yang anggun dengan balutan kebaya Jawa, ia langsung pucat. Apalagi seorang pria berpakaian batik yang senada dengan kain jarik yang dipakai Tata. Sungguh pemandangan yang mengusik jiwa.
Tata kemudian duduk, lalu memperkenalkan calon suaminya.
"Dim, kenalin ini mas Fajar, calon suamiku juga atasanku di kantor." Tata mengatakan dengan sangat tenang, meski terlihat dia menahan sesuatu.
"Fajar." Pria dengan baju batik itu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri pada Dimas yang hatinya sedang carut marut saat ini.
__ADS_1
"Dimas!" kata Dimas kemudian menyambut uluran tangan Fajar.
Ekspresi wajah Fajar langsung berubah saat mendengar nama Dimas yang familiar. Ia merasa ada yang salah dengan nama itu.
"Teman kuliah apa teman apa?" tanya Fajar yang penasaran.
Tata menatap Dimas, sebuah tatapan yang masih dingin. Sepertinya Tata masih marah pada sosok mantan kekasihnya itu, sampai menerima lamaran sang atasan yang mendadak.
"Teman SMA," jawab Dimas dengan hati yang tak berbentuk lagi.
Fajar manggut-manggut, kemudian pamit pergi sebentar karena ada keluarganya yang memanggil.
"Kalian bicara dulu, saya ke sana sebentar."
Kini keduanya berbicara empat mata. Dimas bahkan tidak bisa menatap gadis yang selama ini ia harap akan menjadi pelabuhan hatinya. Pria itu lebih banyak menghindar dari tatapan kemarahan Tata.
"Untuk apa kamu ke sini? Mau merusak hidup aku lagi? Kamu gak malu? Aku bener-bener kecewa sama kamu! Kamu bahkan berani menemuiku setelah apa yang terjadi. Mari kita tidak usah bertemu!" Tata akan berdiri, tapi Dimas memegangi tangannya.
"Aku tahu aku salah ... tapi TOLONG dengerin aku, Ta. Semua boleh tidak percaya ... tapi jangan kamu."
Tata menepis tangannya.
"Apa aku harus menutup mata? Maaf, Dim. Banyak laki-laki yang sepertinya jauh lebih baik, yang bisa menghargai perasaan wanita. Yang bisa menjaga sikap, bukan seperti kamu. Aku terlalu naif, karena selalu percaya sama kamu. Tolong jangan temui aku lagi, Dim. Biarin aku hidup bahagia, meski gak sama kamu."
"Ta ...!"
Dimas menundukkan wajah dalam-dalam, tanpa terasa pria playboy itu merasakan perih di matanya. Baru kali ini ia senyesek ini, ditinggal Tata mau nikah, sakit dan sesaknya sampai ke ulu hati.
"Aku harap ini pertemuan terakhir. Kalau Kita tidak sengaja bertemu, anggap Kita orang asing."
__ADS_1
Tata langsung masuk ke dalam, ia sudah mengatakan kata-kata kejam itu pada Dimas, bukannya puas. Ia malah menangis di dalam kamar.
Pintu masih terbuka, Fajar pun ikut masuk ke dalam. Sejak tadi ia curiga dengan Dimas, makanya ia memberikan kesempatan Tata bicara berdua. Setelah Tata menangis di dalam kamar, Fajar langsung masuk saja. Masih dengan pintu yang terbuka, agar orang lain tidak merasa aneh-aneh.
"Apa dia mantan kamu?"
Tata mendongak, menatap Fajar. Pria 35 tahun, seorang duda ditinggal mati istrinya karena kecelakaan tragis.
Tidak menjawab, Tata hanya meraih tisu lalu menghapus air matanya. Fajar menghela napas panjang.
"Apa kamu masih mencintai dia?"
Tata menggeleng.
"Jangan bohong!"
"Nggak, Mas. Sudah tidak ada cinta lagi, semua sudah masa lalu. Yang ada hanya rasa sakit," ucap Tata dengan sedikit terisak.
"Lamaran belum dimulai, kamu bisa batalkan jika hati kamu masih mengharap pada pria itu."
Tata menatap Fajar. Ia terus saja menggeleng, dengan air mata yang terus jatuh melewati pipi.
"Saya bisa mundur, Ta."
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
__ADS_1
Folloooow yaaaaa