Pacarku Buaya

Pacarku Buaya
SETIA


__ADS_3

Pacarku Buaya Bab 25


Oleh Sept


"Thanks," ucap Tata kemudian beringsut. Sedikit tidak nyaman karena mereka langsung kontak fisik. Ya, meskipun cuma ngelapin bibir Tata pakai jempol.


"Aku duluan, ya," pamit Tata lalu buru-buru ke lobby mencari Dimas.


Sedangkan Sandi, ia hanya bisa melihat gadis itu pergi menjauh, tanpa bisa mencegah sama sekali.


***


Tata menelpon bolak-balik, kok malah direjek. Ia pun jadi kesal.


[Katanya di lobby. Aku udah di sini sekarang]


Pesannya tidak kunjung di balas, membuat Tata dongkol.


Jengkel, sudah pakai baju bagus, dandan maksimal, eh Dimas menghilang. Akhirnya ia ngomel-ngomel lewat SMS.


[Aku gak suka ya, kamu kumat ngilang-ngilang gak jelas kaya dulu]


[Apa ada masalah mendesak?]


[Jawab pesen gue!]


[Lama-lama lo ngeselin]


[Lo baik-baik saja, kan?]


Membaca pesan terakhir, Dimas yang masih ada di basement di dalam mobilnya yang terparkir, ia tersenyum getir. Mana bisa baik-baik saja ketika melihat cewek yang ia sukai deket sama pria lain. Bohong banget kalau ia bilang baik-baik saja.


[Kamu kalau mau balas dendam, itu sudah berhasil. Oke. Aku mundur. Gak akan ngusik kamu lagi]


Tata mencoba mencerana pesan dari sang mantan tersebut. Ini Dimas ngomong apa coba? Kesal, ia pun menelpon. Dan kali ini dijawab.


"Kamu itu ngomong apa? Balas dendam apa? Siapa yang mau balas dendam? Sorry ya, Dim. Meski kamu sakitin aku dulu, yang udah ya udah. Meski masih sakit hati sampai sekarang. Aku ngajak ketemu pun bukan buat ngajak balikan, big no. Salah besar! Aku cuma mau ucapin bela sungkawa untuk mama kamu!"


Puas ngomel-ngomel, Tata kemudian menajamkan pendengaran.


"Haloo ... haloo!"


"Ya."


"Sekarang bilang, kenapa kamu bilang tadi di lobby, tapi aku cari nggak ada. Aku mainin aku?"


Terdengar helaan napas panjang.


"Kalau kamu cuma mau pamer pacar baru, sorry Ta. Aku mundur! Aku juga masih punya hati," celetuk Dimas.


"Pacar?"


Tata langsung menepuk keningnya.


"Udah ya, Ta. Gue balik!" ujar Dimas, ada nada sakit hati pada ucapkan.


'Balik? Dia tadi di sini. Dia tadi pasti lihat aku keluar lift sama Sandi ... astaga. Hemm. Tapi buat apa aku jelasin salah paham ini? Kita kan ga pacaran.'


Tata memikirkan sesuatu, tau-tau ponselnya mati. Ia pun mencoba mengetik pesan. Sepertinya ini saatnya mereka damai, gak usah sakit-sakit hatian.


[Dia rekan kerja aku, kamu salah paham. Bukan pacar aku]


Dimas sudah keluar dari parkiran di basement. Namun, ponselnya menyala tiba-tiba. Dilihatnya dari atas layar, sebuah kalimat yang memberikan banyak kesejukan.


'Yang bener? Bukan pacarnya? Ish!'


Dimas langsung saja keluar dari mobil. Ia bergegas meraih jaket kemudian masuk lagi ke dalam hotel. Ia buru-buru ke lobby mencari Tata. Benar saja, gadis manis itu masih duduk di lobby sambil memainkan gadget yang ia pegang.


"Ta!"


Sebuah suara membuat Tata menoleh. Tata kemudian mencebik, menatap remeh pada sosok yang berjalan ke arahnya. Ia tidak mengira, Dimas sepertinya cemburu, padahal hubungan mereka kan sudah berakhir. Ya, meskipun kurang baik endingnya.


***


Cafe Apella


Sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari hotel Tata menginap. Keduanya sedang duduk sambil menikmati kopi mereka.


"Kamu makin kurus, Dim."


Tata membuka obrolan, karena Dimas jadi sosok pendiam sekarang. Sejak tadi pria itu hanya menatapnya.


"Oh, iya ... turun 8 kilo."


"Kenapa? Sakit?"


Dimas menggeleng.


"Kenapa belum lulus?"


Dimas terdiam, kemudian mengusap wajahnya dengan berat.


"Habis cuti setahun pas mama drop."


Tata menatap iba.

__ADS_1


"Turun berduka cita ya, Dim. Semoga almarhumah tante tenang di sana."


"Thanks, Ta."


Tata mengangguk.


"Berapa hari di sini, Ta?" Dimas jelas penasaran, gadis tersebut akan berapa lama di Malang.


"Sampai minggu."


"Seminggu?" Dimas menegaskan.


"Iya." Tata mengangguk.


"Oh."


Tidak terasa mereka berbincang lama. Membicarakan keluarga Dimas. Pria itu pandai sekali mengambil rasa simpati mantan pacarnya tersebut. Sampai akhirnya Tata ikut Dimas lagi. Ya, mereka akan ke makam.


***


Di sebuah makam, di mana berjajar ribuan jasad manusia di dalam tanah, baik mati muda atau mati karena usia. Tata tertegun, ia berdiri sambil melihat Dimas yang sedang menabur bunga. Selanjutnya, ia juga melakukan hal yang sama. Dimas dulu pernah ceritanya mamanya sakit, belum sempat menjenguk, wanita itu sudah pergi meninggalkan dunia ini.


Malang yang dingin, masih siang mendung sudah menyelimuti. Tata sejak tadi menatap langit, mendung tiba-tiba datang. Membuatnya mengajak Dimas balik.


"Dim, mau hujan. Balik yuk."


Dimas mengusap batu nisan ibu yang sudah melahirkannya. Kemudian mengangguk pada Tata.


"Hemm ... Ayo."


Mereka berdua kembali ke mobil. Sambil memasang seatbelt, Dimas mengajak Tata mampir dulu ke rumahnya. Karena hanya sepuluh menit jarak dari makam ke rumah.


"Di rumah ada siapa?" sela Tata spontan.


"Kalau minggu begini ada papa sama adekku."


"Oh, boleh."


Dimas tersenyum kecut. Tata sepertinya takut sekali jika hanya berdua saja dengannya. Dan akhirnya, mobil pun melesat masuk ke jalan aspal. Beberapa belokan, kemudian masuk ke sebuah rumah yang lebih mirip sebuah villa.


"Nah, sudah sampai. Ayo, Ta."


Dimas melepaskan sabuk pengaman yang masih terpasang kuat, kemudian keluar. Setelah itu membuka pintu untuk Tata yang masih membuka sabuk pengamannya.


Saat keluar, Tata menatap rumah yang terlihat adem tersebut. Banyak jenis bunga yang tertata sangat rapi.


"Bunganya banyak ya, Dim?"


"Oh, itu adik aku. Dia suka bunga."


"Assalamu'alaikum!"


Dimas masuk, ia mengucap salam lalu masuk setelah melepaskan sepatu. Pintu sudah terbuka. Memang jarang ditutup kalau penghuninya ada di rumah semua.


"Pa ... Papa!"


"Waalaikumsalam."


Seorang pria paruh baya keluar, dia menatap Tata dengan pandangan penuh selidik.


"Ta ... Masuk!" Dimas mengajak Tata masuk.


"Ta ... ini papaku. Pa ... ini Tata."


Tata canggung, sepertinya salah lagi. Kenapa tadi mau ikut ke rumah Dimas? Sekarang ia jadi kikuk sendiri.


"Ada tamu? siapa, Pa?" seorang gadis keluar sambil membawa kruistik.


Adik Dimas itu seketika tersenyum menatap Tata. Sepertinya ia sudah tahu siapa yang datang.


"Duduk, Mbak."


Desi langsung masuk ke dalam, kemudian mengeluarkan apa saja yang ada di kulkas.


"Aduh, gak usah repot-repot. Maaf ... jadi ngerepotin."


"Gak apa-apa, Mbk."


Desi tanpa malu-malu langsung duduk di sebelah Tata.


"Kalian balikan, ya?" celetuk Desi. Membuat Dimas langsung melotot menatap adik perempuannya.


Tata tambah canggung, apa Dimas cerita hubungan mereka ke adiknya itu?


"Mbak cantik sih, makanya mas Dimas gak bisa move on sejak SMA."


Krik krik krik


Papanya Dimas hanya tersenyum, sedangkan Dimas mulai panik. Adiknya kalau ngoceh, gak ada remnya.


"Des, tolong angkat jemuran dulu gih, mendung."


"Idih, wong Desi gak nyuci hari ini!" bantah Desi.


Tata mulai mencair, ia suka interaksi keluarga Dimas, mengingatkan dia akan keluarganya yang terpisah di Jakarta.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian ngobrol saja. Papa masih ada urusan."


Alhasil mereka pun kini hanya bertiga, Desi yang cerewet itu mulai menceritakan bagaimana galaunya sang kakak saat harus pindah kota. Bahkan ia disuruh Dimas stalking media sosial Tata pakai akun palsu.


Tata langsung melotot, dan Dimas hanya garuk-garuk kepala.


"Desi seneng deh, kalian bisa bersama lagi."


Suasana langsung dingin. Tata dan Dimas hanya saling melirik. Tata tidak mau merusak kecerian gadis yang masih SMA itu, ia hanya mengangguk atau tersenyum tipis.


Sampai tidak terasa, hari mulai sore. Tata pun harus balik, karena besok pagi-pagi ia harus fit, untuk acara senin harinya.


Desi yang sempat ngobrol, malah ijin untuk datang. Ia akan bawa teman-temannya. Jelas Tata tidak keberatan. Dan peluang besar bagi Dimas tentunya.


"Hati-hati, Mbk."


Tata mengangguk. Melihat Desi ia jadi ingat asik perempuannya.


***


Di dalam mobil.


"Adikku cerewet ya, Ta?"


"Gak juga, dia periang."


"Makasih ya, sudah mau ke makam mama. Sudah mau ke rumah."


"Hemm. Santai aja."


Dimas kembali fokus pada kemudi, dan Tata yang sejak tadi menguap, kini sudah terlelap.


***


"Ta ... sudah sampai."


Tata mengerjap, langit mulai gelap. Sepertinya akan hujan.


"Aku ketiduran ya?"


Dimas hanya melempar senyum padanya. Tata kemudian bergegas turun, tapi ternyata hujan langsung turun dengan deras. Buru-buru Dimas ikut turun, ia lepas jaket miliknya, langsung ia tangkupkan di kepala Tata. Membiarkan tubuhnya sendiri yang basah.


"Jangan lari, masuklah," ucap Dimas di tengah derasnya hujan.


Tata melangkah panjang, kemudian saat sudah tidak kehujanan, ia tatap Dimas yang basah kuyup kemudian melambaikan tangan ke arahnya. Kasian sih, Dimas kehujanan. Ia kemudian masuk ke hotel saat mobil Dimas melaju meninggalkan hotel.


***


Malam harinya mereka ngobrol di telpon cukup lama. Dimas yang kemarin murung kembali menjadi raja gombal. Sesekali Tata tidak bisa menahan tawa karenanya.


"Ya sudah, sudah larut juga. Besok kamu kerja, kan? Mimpi indah, Ta."


"Hemm. Malam Dimas."


Tata pun tidur dengan nyenyak. Sampai ia hampir telat bangun karena tidur terlalu malam.


Senin yang sibuk, Tata dan Tim pagi-pagi sudah sampai lokasi. Mereka terlihat sangat professional, karena semua persiapan sudah sangat matang.


...


"Mbakkkk!"


Tata kaget, seorang gadis pakai seragam abu-abu menepuk pundaknya.


"Desi."


"Hai, Ta." Dimas menyapa, tentunya dengan senyum sejuta arti.


"Desi minta diantar ke sini, pulang sekolah langsung ke sini."


"Lah ... kan Mas Dimas yang maksa. Padahal aku mah mau ke sini sama temen-temen aku!" sela Desi.


Dimas langsung merangkul adiknya, kemudian mengedipkan mata.


Tata hanya bisa tersenyum menatap keduanya. Karena banyak pengunjung, Tata pun pamit dulu. Sepertinya Dimas dan Desi datang di waktu yang salah. Karena hanya bisa melihat Tata yang sangat sibuk.


"Pacar Mas Dimas keren."


Hidung Dimas kembang kempis.


"Tapi sayang, mas Dimas playboy!" desis Desi.


Dimas langsung membekap mulut adiknya yang cerewet itu.


Tap tap tap


"Siapa yang playboy, Des?"


Desi langsung mengatupkan bibir.


"Dimas?" tanya Tata yang mulai agak senggang.


"Gak lah, hati aku dari dulu cuma buat kamu," gombal Dimas. Membuat adiknya mengeluarkan ekspresi ingin muntah.


"Cih!"

__ADS_1


"Ish!" Dimas langsung mendesis, karena dua cewek di depannya bahkan tidak percaya, bahwa dia adalah pria setia. Ya, setia ... setiap tikungan selalu ada. BERSAMBUNG


__ADS_2