Pacarku Buaya

Pacarku Buaya
MAAF


__ADS_3

Pacarku Buaya Bab 32


Oleh Sept


Rumah sakit


Dimas tampak murung, wajahnya terlihat pucat. Pria itu benar-benar seperti tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup. Desi sampai putus asa, dibujuk makan bubur sedikit saja Dimas menolak.


"Mas Dimas harus sembuh. Jangan kaya gini, Mas."


"Des, tinggalkan Mas sendiri!" pinta Dimas dengan dingin.


Desi menghela napas panjang, kemudian meletakkan bubur di atas meja.


"Desi tunggu di luar, Mas!" pamit Desi kemudian yang menyerah membujuk kakaknya.


KLEK


Desi bersandar di kursi panjang di depan ruangan. Terlihat lelah, memang ia kurang istirahat beberapa hari terakhir. Sebenarnya ayahnya minta gantian saja, tapi karena sang ayah sudah tua, Desi meminta ayahnya di rumah saja. Toh dia sudah ijin cuti kerja beberapa hari ke depan.


"Des!"


Desi langsung menoleh ketika melihat sosok yang tidak asing melangkah ke arahnya.


"Mbak."


Desi langsung lari dan memeluk Tata. Desi yang memang sudah tidak punya sandaran, karena ibunya sudah meninggal, sudah menganggap Tata seperti kakaknya sendiri, ia pun menangis dalam pelukan Tata.


"Mas Dimas, Mbk!" isaknya kemudian menarik diri. Desi sadar, Tata dan Dimas sudah putus. Harusnya ia tidak terbawa suasana, karena Tata sudah bukan pacar Dimas lagi.


"Boleh Mbk masuk?" tanya Tata yang kala itu datang seorang diri.


Ya, Fajar membiarkan Tata ke rumah sakit, meskipun sedikit cemas. Gelisah campur khawatir, bagaimana jika tunangannya itu kembali goyah. Fajar pasrah, bila jodoh pasti Tata akan berakhir dengannya.


Kini, di depan ruang perawatan, Tata memutar knop pintu. Hatinya tidak enak, sampai akhirnya ia memutuskan untuk masuk begitu pintu terbuka sedikit.


Saat ia bari melangkah, Dimas langsung menatapnya dingin.


"Kenapa kamu ke sini? Aku mau istirahat!" kata Dimas ketus.


Tata tetap maju, kakinya terasa berat saat melihat betapa menyedihkan kondisi Dimas saat ini.


"Kamu tidak dengar? Tolong pergi!" sentak Dimas kasar.


Dibentak seperti itu, pipi Tata langsung basah. Air matanya tumpah, dia tahu bahwa Dimas sangat terpukul sekali.


"Aku baru datang, mengapa kamu mengusir?"


"Bukanlah kamu yang bilang? Anggap Kita tidak pernah saling kenal!" cetus Dimas marah.

__ADS_1


Tata pun mengusap pipinya, entah mengapa, dia juga merasa sakit sekali saat mengatakan kalimat itu pada Dimas saat pertunangannya dengan Fajar tempo hari.


Tap tap tap


Desi masuk.


"Mbak ... Mas Dimas belum makan dari kemarin," Desi mengadu.


Dimas pun langsung menatap tajam adiknya itu.


"Kalian berdua, tolong pergi dari kamar ini!" sentaknya galak.


"MAS!" Desi protes.


"Bisa tinggalin kami, Des?" sela Tata kemudian.


Desi menghela napas dalam-dalam kemudian membiarkan Tata dan Dimas bicara empat mata.


"Kamu juga, tolong tinggalkan ruangan ini!" kata Dimas saat melihat Desi pergi.


"DIM!" sentak Tata marah, kemudian meraih mangkok bubur di atas meja.


"Makanlah, agar kamu punya energi untuk marah-marah," kata Tata dengan nada menyindir.


Tata akan menyuapi bubur itu, tapi Dimas langsung menepisnya hingga mangkok jatuh dan isinya tumpah. Untung bukan mangkok kaca beling, jadi gak pecah.


Dengan sabar Tata mengambil makanan yang terlanjur tercacar itu dengan tisu basah. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Makan ini, selidik saja," kata Tata setelah selesai mengupas apel dan memotong menjadi bagian-bagian kecil.


"Tidak usah perhatian, kamu tidak mengerti bahasa manusia? Aku bilang bicarakan aku sendiri!" sentak Dimas kemudian melempar potongan apel pemberian Tata.


PRANGGGGG


Terdengar benda jatuh. Tata masih diam, terlihat dia menahan sesuatu, bukan menahan marah, rapi lebih ke menahan kesedihan.


"Ya ... bagus. Lempar saja apa yang ingin kamu buang dalam hidupmu. Kamu memang paling ahli membuat orang lain terluka ... kamu paling bisa membuat orang menderita!" ujar Tata kemudian membungkuk dan mengambil apa-apa yang sudah terlempar.


"Ini peringatan terakhir, atau aku akan panggil suster!" ancam Dimas yang tidak mau Tata ada di dekatnya.


Tata yang selesai memunguti apel, kemudian berdiri dan berbalik. Ia tatap Dimas dengan dalam.


"Suster! Suster!" teriak Dimas kencang, ia tidak mau Tata lama-lama di kamarnya.


Bukannya pergi karena Dimas terus mengusir, Tata malah mendekati Dimas. Ia sampai berdiri tepat di tepi ranjang. Kemudian langsung memeluk pria yang sejak tadi kasar padanya.


"Jangan begini Dimas, kamu nyiksa aku banget. Kamu jahat banget, Dim." Tata terisak sambil memeluk tubuh Dimas yang terasa hangat.


"Lepaskan!"

__ADS_1


Dimas melonggarkan pelukan Tata, dan wanita itu pun terlepas. Tata menatap dengan mata sembabnya. Sedangkan Dimas, ia masih memasang muka jahat.


'Kamu tega banget sama aku Dim!' batin Tata menatap Dimas.


Sedangkan Dimas, pria itu kini membuang muka.


"Pulanglah, jangan pernah ke sini lagi!" ujar Dimas kasar.


"Ini tubuhku, terserah aku mau ke mana!" sela Tata kemudian kembali mengusap sudut matanya.


"Aku tidak butuh belas kasihan darimu. Jadi mari kita tidak saling mengenal, sama seperti maumu!" pungkas Dimas lagi tanpa perasaan.


Tata menatap nanar.


"Sakit membuatmu sangat kasar, aku harap kamu cepat sembuh!" ucap Tata dengan bibir bergetar. Dia masih ingin di sana, tapi Dimas terus saja mengusir.


Tata pun berbalik, ia sepertinya harus pergi. Mungkin akan kembali, tapi entah kapan. Saat di ambang pintu, tiba-tiba ia menoleh. Dilihatnya Dimas sedang menatapnya dari belakang dengan mata basah. Tata tahu, kalimat kasar itu sengaja diucapkan Dimas untuk membuatnya menjauh.


Tata yang tadinya akan pergi, langsung lari ke arah Dimas. Ia memeluk pria itu kemudian memukuli punggung Dimas dengan tangannya.


"Aku benci kamu!" isak Tata.


Dimas menahan napas, pelukan Tata perlahan menyentuh hatinya, membuat pertahanan Dimas mulai memudar. Sedangkan Tata, puas memukul Dimas yang sedang sakit, ia kemudian menarik diri.


"Aku benci kamu," ucap Tata lagi.


Dimas mengangguk paham, ia memang pantas dibenci.


"Maafkan aku, Ta."


Tata menggeleng, bulir bening menetes melewati pipinya yang lembut. Membuat Dimas mengulurkan tangan, kemudian perlahan mengusap wajah Tata.


"Maaf, selalu membuatmu menangis," kata Dimas lirih.


Keduanya kembali saling memandang, menatap dengan tatapan yang dalam dan sejuta arti.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja!" ucap Dimas memaksa tersenyum.


Tangis Tata pecah, bagaimana baik-baik saja, kata Desi kaki Dimas terancam lumpuh.


"Ta!"


Dimas langsung saja menarik Tata agar semakin dekat padanya, karena Tata terus saja menangis, ia langsung saja membungkam Tata.


'Maaf, Ta ... Maaf karena aku egois!' batin Dimas yang langsung menempelkan bibirnya.


BERSAMBUNG


Fb Sept September

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2