
Pacarku Buaya Bab 34
Oleh Sept
POV TATA
Malam ini suamiku seperti biasanya, kami masih seperti pengantin baru. Dia seolah tidak rela kalau absen, mungkin untuk balas dendam juga. Karena satahun kami menikah, aku masih gadis. Ya, karena kecelakaan itu, membuat suamiku sempat lumpuh dan duduk dikursi roda. Tapi tidak lama, hanya setahun lebih beberapa bulan.
Tuhan sangat baik pada kami, hingga diberikan kesembuhan pada suamiku. Pada laki-laki yang tidak bisa aku benci. Pada sosok pria yang hatiku terlanjut terpaut olehnya. Semangatnya untuk sembuh sangat kuat, dan aku selalu setia menemani. Aku orang terdepan yang bertahan saat dia terpuruk. Ya, akulah yang tidak pergi saat ia mendorongku jauh.
Bukan karena kasihan, bukan. Ketika dia menderita, aku juga merasakan sakit yang sama. Hingga akhirnya mas Fajar melepaskan aku. Dia pria baik hati yang pernah aku kenal. Sosok laki-laki berhati hangat dengan kesabaran seluas samudra. Tidak ingin aku larut dalam kesedihan, tidak ingin aku tidak bahagia, dia memutuskan pertunangan kami. Bukan aku, tapi mas Fajar sendiri. Dia tahu, kalau hatiku hanya untuk satu pria. Siapa lagi kalau buaya gurun itu. Ya, buaya yang sudah aku karantina selama 5 tahun, sudah jinak. Bahkan sudah membuahkan anak.
Cinta pertamaku, pria yang pertama kali menyentuhku. Dia adalah pacar pertama dan akan menjadi pacar terakhirku. Meski kadang kala menyebalkan, entah mengapa dia selalu saja termaafkan. Mungkin dia sudah berhasil meracuni otak dan hatiku, hingga membuatku hanya menatapnya saja atau karena sikapnya yang selalu bisa membuatku luluh? Seperti malam ini. Sama seperti saat beberapa tahun lalu saat pertama kali ia menunjukkan padaku, bahwa dia bisa berdiri tanpa alat bantu. Saat pertama kali ia melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Malu rasanya bila mengingat itu, jujur hal semacam ini membuat pipiku merona karena menahan malu. Dan aku rasa, salah satu faktor dia ingin cepat sembuh mungkin adalah itu, ya ... menunaikan kewajibannya. Padahal aku tidak menuntut apa-apa. Aku juga tidak memaksa, aku hanya berharap dia segera sembuh. Namun, malam itu dia sunggu membuatku terkejut. Karena beberapa minggu sebelumnya dia bilang bahwa sudah bisa berdii sedikit-sedikit, tapi belum cerita. Katanya ingin memberiku kejutan, dan hasilnya aku sangat terkejut plus shock. Karena hari itu, dia sudah menyempurnakan aku sebagai istrinya.
Falasback On
“Di minum dulu obatnya, Mas,” kataku sambil mengulurkan segelas air dan beberapa butir obat.
__ADS_1
Kulihat suamiku hanya tersenyum, kemudian mengambil gelas dari tanganku dan meminum obatnya satu persatu.
“Mau langsung tidur atau nonton TV?” tabyaku yang memang baru setengah sembilan.
“Rebahan saja!” kata suamiku.
Aku pun mengangguk, lalu mengambil gelas yang diletakkan di meja. Hendak aku bawa ke dapur. Beberapa saat aku kembali, aku bingung, dia tidak ada di kamar.
“Mas ... Mas.” Aku sedikit panik.
Tap tap tap ...
Aku terhenyak, menatap sosok pria berdiri sempurna dengan senyum tipisnya. Lidahku keluh, ingin berbicara tapi seperti tertahan. Hingga dia mendekat perlahan, kemudian meraih tubuhku. Entah mengapa, mataku mendadak perih, hingga akhirnya bendungan dimata ini ambrol. Cukup lama aku terisak, sampai suamiku meraih wajahku, memintaku agar berhenti menangis.
“Tata, jangan nangis lagi. Rasanya berdosa sekali hanya membuatmu selalu memangis karenaku. Aku berjuang buat kamu, Ta ... Aku harap kamu hanya akan merasa bahagia bersamaku. Maaf, selama ini hanya memberikanmu air mata ... maafin aku, Ta.”
Mendengar kata-kata suamiku, aku semakin memeluknya erat. Tanganya mengusap lembut kepalaku. Kemudian perlahan ke bawah, mengusap punggung kemudian turun ke pinggang. Sesaat aku kaget. Apa yang akan suamiku lakukan?
“Mas ... kamu belum pulih benar!” bisikku takut.
__ADS_1
“Jangan takut, aku gak apa-apa.”
Meskipun dia bilang tidak apa-apa, aku masih takut. Apalagi saat tangannya mulai menyentuh kancing piyama yang aku kenakan. Aku sempat melarang.
"Jangan memaksakan diri, sungguh aku tidak menuntut apapun sekarang, yang penting Mas sehat dulu," kataku.
Dia menatapku tenang, kemudian menyentuh daguku. Mendekatkan wajahnya hingga aku bisa merasakan hangat napasnya.
"Sudah lama aku menunggu untuk benar-benar bisa berdiri di depanmu. Tidak perlu cemas, jika aku tak mampu, sudah pasti aku menyerah!" bisiknya kemudian menyesapp lembut.
Masih lembut, tapi kemudian berubah menjadi cepat dan memdalam. Dia memang buaya, saat bibir masih bertaut, sempat-sempatnya tangannya berkelana. Yang otomatis membuatku mengeliat bak cacing di dekat kompor, kepanasan.
"Mas .... kamu yakin bisa?"
Kudengar dia langsung terkekeh, tapi kemudian serius menatapku. Aku kaget ketika dia langsung melepaskan pakaian yang ia kenakan, dan sepertinya baru pertama kali aku melihatnya tegak. Astaga, mendadak pikiranku menjadi keruh.
BERSAMBUNG
__ADS_1