PacarKU Kang KURIR Super

PacarKU Kang KURIR Super
Kucing Hutan


__ADS_3

Di tengah kesibukannya , Nilam menyempatkan diri untuk menemui Gael di kontrakannya. Dia merasa khawatir pada ibunya yang baru saja menerima karyawan baru yang merupakan mantan penjahat.


Sesampainya di kontrakan , Nilam mencium bau yang sangat menyengat dari luar kamar.


"Hai sayang, ada apa kesini,?" tanya Gael pada Nilam yang terlihat celingak-celinguk.


"Hai Gael, ini bau apa yah, kok bau banget,?" tanya Nilam.


"Mungkin itu si Phepey sama Cerry yang buang kotoran sembarangan. Kandangnya lagi di bersihin jadi mereka main di luar," kata Gael.


"Phepey sama Cerry hewan apaan tuh,?"


"Kucing,"


"Masa sih,? Biasanya Kotoran kucing gak sebau ini ,"


"Beneran kucing Nil, aku dapet dari gunung kemarin. Kasihan ibu mereka mati di lilit ular, jadi aku adopsi deh. Tuh mereka,! semuanya ada empat dan cantik-cantik mirip macan tapi kecil," kata Gael sambil tertawa kecil.


Nilam terdiam sejenak sambil melihat kucing -kucing itu ,"Itu kan Kucing Hutan , Hewan di lindungi dan harganya mahal kalau ada akte kelahirannya," Kata Nilam.


"Kucing Hutan,? kok kamu tau sayang ,?"


"Aku tau lah, aku kenal orang yang punya penangkaran khusus kucing hutan," Kata Nilam sambil memegang salah satu kucing itu.


Tapi tangan Nilam di cakar dan di gigit sampai tangan Nilam berdarah. Kucing hutan ini masih sangat liar karna berada di lingkungan baru dan belum mengenal manusia.


"Hati-hati sayang , mereka galak," kata Gael sambil memasukan ke empat kucing itu ke dalam kandang.


Kemudian Gael mencuci tangannya dan meraih tangan Nilam untuk mengobati luka cakaran kucingnya.


"Sakit, ? Aku obatin yah?" tanya Gael.


"Enggak,! Udah biasa, Aku juga sering di cakar sama kucing ku" jawab Nilam.


"Hmm,"

__ADS_1


Sebenarnya Nilam sangat malu karna dia gak hati-hati dan malah terlihat konyol di depan kekasihnya. Biasanya saat dia ngisengin kucing kesayangannya dan kena cakaran pasti di tertawakan oleh Vada.


Tapi Gael hanya terlihat mengulum senyumnya dan di lanjutkan dengan tatapan penuh cinta sambil mengobati luka cakaran kucing hutan yang terasa lebih menyakitkan di bandingkan dengan cakaran kucing rumahan.


"Ah ya, Sebenarnya aku kesini mau menanyakan tentang pegawai baru mama yang kamu rekomendasikan, apa benar Mereka mantan penjahat ,?" tanya Nilam.


"Benar, tapi aku jamin mereka baik. Mereka butuh kesempatan. Aku bertanggung jawab kalau ada apa-apa," jawab Gael yang sedikit membuat hati Nilam Tenang.


"Baiklah kalau begitu aku merasa tenang," Ungkap Nilam.


Gael terus saja memandangi Nilam begitu dalam. Ada perasaan ingin menciumnya tapi dia takut tak mampu mengendalikan diri. Hanya menatapnya saja Gael sudah merasa sesak di bawah sana. Nilam yang merasa risih karna terus di pandangi seperti itu pun melanjutkan pembicaraannya tentang kucing hutan.


"Gael ,"


"Yah, ada apa,?"


"Kucing hutan itu ada empat, kenapa baru dua yang di kasih nama,?" tanya Nilam.


"Karna a a a... Aku bingung mau kasih nama apa," jawab Gael.


"Bikin kandang dimana , kontrakan ku kecil," jawab Gael.


"Di deket rumah orang tuamu saja, kita urus bersama. Aku juga mau kenal sama orang tuamu. Aku bisa libur dulu sehari buat bawa kucing-kucing itu kesana. Sebentar lagi skripsiku selesai dan bisa sering kesana untuk mengurusnya . Disana juga aku bisa terus membantu masalah para petani memasarkan hasil panen mereka seperti yang sudah aku mulai. Aku gak mau setengah-setengah," jelas Nilam.


"Baiklah, tapi bukannya hewan itu di lindungi yah nil,? tanya Gael.


"Benar, tapi aku bisa kok bantu kamu ngurus surat izinnya biar bisa di perjual belikan. Setauku ada komutitas khusus penjualan kucing hutan, gak boleh di posting sembarangan. Biar bisa dapat surat izin itu harus cek kesehatan secara rutin dan nutrisinya harus cukup. Dan yang paling penting harus kita jinakkan," Jelas Nilam.


"Oh gitu yah. Baiklah aku mau ternak kucing hutan, biar bapak ku yang ngurus. Lagi pula aku sayang banget sama mereka. Kalau tambah banyak seru kali yah,?" Gael tertawa kecil.


"Bukan seru lagi, kamu bisa kaya mendadak kalau kucing hutanmu tambah banyak," Nilam tergelak.


"Hahaha," Gael pun tertawa kencang.


"Ah ya, apa kucing hutan mu ada jantan dan betinanya,?" Tanya Nilam.

__ADS_1


"Ada dua pasang, jadi dua jantan dan dua betina. Aku bosan sama kucing betina. Si micil juga beranak terus, tadinya kalau aku capek ngurus mereka mau aku kasihin yang betinanya. Tapi aku masih takut gak ada yang mau, kan mereka masih galak," tutur Gael.


"Tapi kalau tau kucing betinanya bisa menghasilkan uang yang banyak pasti kamu gak akan bosan," ujar Nilam.


"Iya sih, tapi aku gak kuat sama bau kotorannya, lebih bau dari kucing biasa. Apalagi kalau aku kasih makan ikan pindang, baunya sampe aku bersin-bersin. Selama ini aku terus kasih hati Ayam, Ikan mas dia gak mau, kalau ikan salmon dia suka," kata Gael.


"Kamu harus sabar Gael, menyayangi kucing hutan itu gak boleh setengah-setengah karna mereka di lindungi loh, kasihan kan kalau mereka punah," kata Nilam.


"Kalau gitu aku Nyesel bawa mereka kesini, takut gak bisa ngurusnya," rundung Gael.


"Kalaupun gak di bawa bukan berarti mereka aman loh, kadang anak-anak kucing hutan suka di makan sama kucing hutan jantan dewasa yang ingin kawin sama induknya," jelas Nilam.


"Masa sih,?"


"Iya Bener Gael,"


"Kamu tau dari mana sayang,?"


"Akukan Udah bilang kalau aku punya kenalan yang punya penangkaran kucing hutan," kata Nilam.


"Ohh,"


"Baiklah, nanti aku kasih tau kamu yah kalau aku mau libur dulu nyusun skripsinya,"kata Nilam.


"Gimana kalau hari ini aja, mungpung aku lagi libur. Udah gak tahan banget sama baunya. Kebetulan di kampung ada saung yang gak kepake. Bisa buat kandang kucing sementara," kata Gael.


"Saung apa,?"


"Saung bekas kangdang sapi," Kata Gael.


"Kalau Gitu kita ke rumahku dulu, ada kandang besi yang besar bekas anjing. Kandang Kucing Hutan harus besar dan harus bersih. setauku Kandang sapi itu terlalu besar, kucing kamu bisa kabur nanti.," kata Nilam.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2